Setelah Rongkong Seko sudah dalam kendali kekuasaan DI/TII, masyarakat melakoni kehidupan mereka dengan aturan-aturan yang diterapkan DI/TII, semua masyarakat bila pagi hari melakukan aktivitas seperti biasa, terkadang juga diadakan pertandingan sepak bola dan lain sebagainya untuk mengisi hari-hari layaknya kehidupan normal pada umumnya, setelah memasuki waktu magrib, masyarakat kembali kerumah masing-masing dengan tidak lagi melakukan kegiatan apapun diluar rumah.
Seiring pemberontakan pasukan DI/TII di Rongkong, pada Tahun 1954 Tentara kota (Kopasanda Brawijaya) datang dari Toraja (Baruppu) dibawa oleh Nek Amban (Ambe Samuel) Nek Tappi (Ambe Tandi Girik) Tandi Awo (Pak Sul) sebanyak 7 tentara Kopasanda Brawijaya yang dikenal dengan istilah Tentara Kota ini datang dari arah Barat muncul di Salutallang, dan menyisir daerah Ulu Salu, terjadi kontak senjata antara Tentara Kota dan Tentara Hutan di Salutallang, satu orang dari tentara hutan mati terbunuh tepatnya di SMP Limbong, banyak yang lari ke arah persawahan Katimbang tapi tertembak mati, ada juga yang lari ke Salurante, berlanjut kontak senjata di Limbong, orang Rongkong yang bergabung dengan Kopasanda Brawijaya menyuruh Ambe Tahir (juga orang Rongkong) yang kala itu bergabung dengan gerombolan DI/TII agar segera melarikan diri karena akan dibunuh oleh Tentara Kota yang lain bila masih tinggal, kontak tembak sampai ke Balannalu, disana ada 3 orang gerombolan DI/TII ditahan tak sempat melarikan diri, dibawa ke Limbong untuk di eksekusi.
Setelah situasi kondusif, Tentara Kota masih membagi tugas untuk menyisir seluruh wilayah yang ada di Rongkong Seko dan mencari sanak keluarga yang masih bersembunyi dihutan ataupun yang disandera oleh para pasukan DI/TII untuk diselamatkan dan dievakuasi ke Rongkong, setelah semuanya sudah dirasa aman, seluruh masyarakat Rongkong Seko dianjurkan agar mempersiapkan barang dan bahan makanan untuk segera meninggalkan Rongkong dan mengungsi ke kota (Sabbang dan sekitarnya) kemudian rumah dan lumbung padi penduduk dibakar agar tidak digunakan dan dimanfaatkan kembali oleh DI/TII juga mempersempit ruang gerak mereka agar tidak ada tempat untuk kembali ke Rongkong Seko.
BACA JUGA: Sejarah Singkat Raja Mandar Pertama Balanipa
Seiring berjalannya waktu pergolakan DI/TII tidak lagi didengar di Sulawesi Selatan, barulah masyarakat Rongkong yang mengungsi di kota kembali ke Rongkong dan mulai membangun kehidupan yang baru, dan ada pula yang mengurungkan niatnya untuk tidak kembali lagi ke Rongkong.
Narasumber:
1. Pdt. Tandi Dio
2. Jamattu (Indo Tina)
3. Samuel Amban
4. Jurtina
5. Alm. Palondona Patongkan
6. Pdt. Ny. Hermin Lambe









