oleh

Puluhan Tahun Sekitar 700 Kepala Keluarga Desa Kalumbatan Kesulitan Air Bersih

TOPIKTERKINI.COM – BANGGAI KEPULAUAN: Sebanyak 700 Kepala Keluarga di Desa Kalumbatan, Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) Sulawesi Tengah, lebih dari 10 Tahun kesulitan mendapatkan air bersih.

Kondisi ini di alami oleh warga Desa yang berpenduduk empat ribu lebih jiwa yang mendiami desa terpadat penduduknya di Kabupaten Bangkep.

Untuk memperoleh air bersih warga hanya mengandalkan sumber air yang berada di Desa Kanali Desa tetangga yang berjarak sekitar 1 kilo meter dari Desa Kalumbatan melalui jalur darat. Sementara warga Desa Kalumbatan sebagian besar mengambil air bersih dengan menggunakan sampan.
Kondisi tersebut telah berlansung selama lebih dari Sepuluh tahun.

Kepala Desa Kalumbatan, Dedi Alpon Usman kepada media ini mengatakan sejak berdirinya Desa Kalumbatan, barulah di Tahun 2006 pemerintah membangun jaringan air bersih. Sangat di sayangkan jaringan air bersih dengan konstruski Pipanisasi di bangun hanya mampu memenuhi kebutuhan air bersih warganya di Tiga dusun dari 10 dusun atau sekitar 20 persen dari total penduduk saat ini.
“Hanya 3 dusun yang dapat di aliri air itupun tidak semuanya, sementara 7 dusun lainya sama sekali tidak dialiri air” keluh Dedi Alpon Usman.

Desa Kalumbatan terdiri dari 1.732 kepala Keluarga yang terbagi dalam 10 dusun. Adapun dusun yang dialiri air yakni Dusun 1, 2 dan 3, sedangkan Dusun 4 sampai dengan Dusun 10 tidak kebagian air bersih.

Dari tahun ketahun upaya mendapatkan pelayanan air bersih oleh pemerintah desa baik melalui usulan yang masuk melalui Musrenbang maupun reses DPRD Bangkep. Upaya permintaan bantuan jaringan air bersih di kabarkan Pemda Bangkep barulah merealisaskan di APBD Tahun 2020.

“Kabarnya proyek air bersih di kerjakaan tahun ini dengan anggaran sekitar 1 miliar, informasi yang saya dapat proyek air bersih di kerjakan dalam waktu dekat” kata Dedi Alpon Usman.

Dedi menambahkan saat ini ada sekitar 700 kepala keluarga yang masih mengalami kesulitan air bersih. Guna penuhi kebutuhan seperti cuci dan mandi, warga menggunakan sumber air yang berada di dusun IV, itupun air tersebut dapat di gunakan ketika kondisi air sedang surut, namun jika air laut dalam kondisi pasang warga tidak dapat menggunakan karena air tersebut berubah menjadi air payau karena telah bercampur dengan air laut.

“untuk mandi dan cuci pakaian serta kebutuhan lain warga menggunakan air slobar (payau), sedangkan untuk kebutuhan konsumsi warga mengambil air di desa tetangga” urai Dedi.

Liputan: Ahmad Labino

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed