oleh

Calon KADA Yang manfaatkan Bansos adalah Ciri Manusia yang Rusak Mental dan tidak layak jadi pemimpin daerah

TOPIKTERKINI.COM – Hiruk pikuk pesta demokrasi pilkada serentak 9 Desember 2020 di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tinggal menghitung hari. Membuat para calon Kepala Daerah berkompetisi dengan cara dan strategi masing-masing dalam upaya menarik, meyakinkan pemilik hak suara (wajib pilih) untuk memberikan hak suaranya kepada mereka.

Tentunya, bagi calon kepala daerah pendatang baru, akan sangat leluasa menjual program, visi misinya, sebab belum terukur kinerja, prilaku serta karakter kepribadiannya secara utuh dan menyeluruh.

Sebaliknya, bagi calon yang pernah memimpin disuatu daerah akan menjadi pembanding dengan calon petahana atas kinerja, prilaku, karakter individu, semasa memimpin di daerah itu. Termasuk kinerja semasa menjabat.

Kondisi ini terjadi di Kabupaten Buton Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang sementara memasuki tahapan kampanye pilkada dengan pola pertemuan terbatas menggunakan standar protokol kesehatan covid-19.

Dengan situasi pandemi covid-19, memiliki hikmah dan manfaat tersendiri, yakni bisa dijadikan ukuran dan metode penilaian atas kinerja petahana.

Dimana, petahana semasa menduduki kursi kekuasaan jabatan kepala daerah, prestasi apa yang telah dilakukan. Baik itu dibidang kesehatan, pendidikan, infrastrukur, ekonomi kerakyataan, ekonomi pariwisata, penataan birokrasi kaitannya dengan pelayanan publik, dan lain sebagainya. Hal ini dikatakan Pemerhati Demokrasi Mukmin Syarifuddin, S.Sos, M.Si dalam press releasnya dikirim via wa, Kamis 15 Oktober 2020.

Menurut Mukmin, dengan situasi pandemi covid-19, petahana bisa diukur tuntas prestasinya saat memimpin. Yakni, apabila saat menjabat sebagai Kepala Daerah, minim prestasinya, tidak sesuai atau tidak mencapai target visi misinya. Ditambah, dana covid-19 penggunaannya simpang siur, seolah antara ada dan tiada. Lalu, dana negara untuk bantuan langsung tunai kepada rakyat dimanfaatkan untuk kepentingan pemenangan kontestasi pilkada. Maka petahana itu, telah melengkapi ukuran dirinya, bahwa tidak layak untuk jadi pemimpin daerah yang baik.

Bahkan Mukmin Syarifuddin, sapaan akrabnya MSY, menyatakan ” calon kepala daerah (petahana) seperti yang dipaparkan diatas, sudah sangat jelas menunjukkan karakter kepribadiannya “Mentalnya Rusak”, kalau sudah mental yang rusak, tentu amanah sebagai pemimpin yang baik, akan jauh dari prilaku kesehariannya”.

MSY menambahkan, “prilaku mental rusak itu menunjukkan telah keluarnya manusia dari standar jati diri jiwa manusia seutuhnya. Pastilah, kelakuan pemimpin seperti itu, tidak akan ada yang dapat diperbuat untuk masyarakat. Yang ada sudah dapat dipastikan, hanya akan memenuhi hawa nafsu duniwinya, menipu, membohongi rakyat, bantuan untuk rakyatpun akan tega untuk digunakan alat kepentingan politiknya, dalam memenangkan jumlah perolehan suara saat pemungutan suara pilkada 9 Desember 2020, nanti”,

Jika hal demikian terjadi, maka Mukmin Syarifuddin, menghimbau kepada masyarakat, agar tidak lagi memilih calon petahana yang jelas dan nyata menunjukkan dirinya tidak layak untuk dipilih kembali sebagai kepala daerah untuk periode berikutnya.

Sebaliknya, jika ada calon kepala daerah, yang pernah menjabat, dan setelah dibandingkan dengan petahana lebih bail kinerjanya. Maka tidak usah lagi banyak analisa, lebih baik putuskan pilihan kepada calon kepala daerah yang sudah teruji, terbukti lebih baik dari petahana.

Yang akan sangat disayangkan, diakhir pernyataannya, Mukmin menuturkan, ” apabila ada calon kada pendatang baru, karakter, prilaku, rekam jejak, belum terlalu utuh menyeluruh di ketahui publik. Hanya karena tampil keren, visi misinya tidak terukur, lalu menawarkan sejuta rasa mabuk- buaian materi, lalu masyarakat memegang teguh itu merupakan standar pemimpin ideal, baik.
Maka dapat dipastikan, akan terjadi kecelakaan kepemimpinan, dan hancurnya daerah”.

Oleh karena itulah, Pemerhati Demokrasi, yang juga pernah menjadi pengajar di salah satu Universitas di Indonesia wilayah bagian timur. Mahasiswa Program S3 Pengembangan Sumber Daya Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, sudah mengelilingi hampir seluruh wilayah Indonesia dari Sabang-Merauke untuk mengenali dan mendalami pemahaman tentang Geo-Sosial kultural, Geo-ekonomi, bahkan keberadaan manusia dari aspek Genologi ke-Nusantaraan.

MSY, sangat percaya bahwa masyarakat sekarang ini sudah lebih cerdas, dan memiliki tingkat pengetahuan, pemahaman yang jauh lebih maju dari hari ke hari.

Termasuk masyarakat di wilayah Kabupaten Buton Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengalaman 2 (dua) kali pilkada, sudah akan menjadi pedoman yang paripurna dalam menentukan pilihan yang layak jadi pemimpin daerah Butur, 9 Desember 2020 mendatang. Tutup Mukmin Syarifuddin

Laporan: Jean Arsat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed