oleh

KAM ERAT USU & SEMATA USU Mengindikasi kecenderungan Komersialisasi Pendidikan dalam Fenomena SusuChallenge

TOPIKTERKINI-MEDAN-Belakangan timbul fenomena menarik dari Universitas Sumatera Utara. Cukup ramai mahasiswa – hampir serentak – mempublikasi sebuah ‘challenge’ yang diadakan sebuah brand susu kenamaan, yang juga diketahui sebagai sponsor ‘USU Games’, sebuah ajang perlombaan multi-event yang diselenggarakan USU. Adapun challenge ini berupa foto/video kreatif yang berisi ajakan untuk meminum ‘sekotak tiap hari’ salah satu produk dari brand susu tersebut.

Tidak ada yang salah sebenarnya jika sebuah ‘challenge’ disambut antusiasme tinggi dari mahasiswa untuk mengikutinya. Sah-sah saja. Namun, kita akan mengernyitkan dahi tepat setelah membaca keterangan (caption) dari foto/video yang dipublikasi mahasiswa tersebut. Tidak semua memang, tetapi banyak dari foto/video tersebut diberi keterangan sebagai tugas dari mata kuliah tertentu.

Hal ini memicu reaksi beragam di tengah-tengah mahasiswa. Tak terkecuali penolakan. Salah satunya datang dari KAM Erat FH USU. Mereka menilai ini merupakan bentuk komersialisasi pendidikan, dalam hal ini nilai, yang seharusnya diberikan berdasarkan penilaian objektif.

“Ini keterlaluan, tidak seharusnya dosen menjual nilai mahasiswa kepada sebuah brand, guna mendanai sebuah acara yang sebenarnya sangat kecil urgensinya” ujar perwakilan KAM Erat.

Mengutip Serikat Mahasiswa Untuk Transparansi (SEMATA) USU hal ini melanggar kode etik dosen sebagaimana diatur Keputusan Rektor No. 1179/H5.1.R/SK/SDM/2008. Dalam Keputusan Rektor tersebut dituliskan bahwa salah satu etika dosen terhadap mahasiswa adalah

“Objektif dalam memberikan penilaian dan menentukan kelulusan mahasiswa sesuai dengan kemampuan dan hasil prestasi mahasiswa dan tidak diskriminatif “.

“Pantaskah sebuah challenge dalam rangka promosi dan sponsorship dijadikan poin penilaian?” Tulis kelompok mahasiswa ini dalam akun instagramnya.

Masih menurut SEMATA hal ini juga melanggar fungsi Pendidikan Tinggi sebagaimana diatur Pasal 4 Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. Dalam huruf b disebutkan, bahwa Pendidikan Tinggi berfungsi mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma.

Senada dengan SEMATA, KAM Erat juga menganggap hal ini merupakan pengingkaran fungsi kampus/perguruan tinggi dalam mengembangkan mahasiswa, dan dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan.

“Memaksa siswa mempromosikan sebuah brand yang bahkan tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang diikuti sebagai prasyarat kelulusan, sama sekali tidak mencerminkan Tridharma Perguruan Tinggi, dan wujud malfungsi pendidikan tinggi itu sendiri” ujar KAM Erat. (Arifin L)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed