oleh

Marak Beredar Obat Daftar “G” di Indramayu, Apa Tindakan APH dan Pemerintah ?

Topikterkini.com.Indramayu – Saat ini sedang marak Peredaran obat keras ilegal jenis tramadol dan Excimer golongan G atau penenang di jalan Anjatan Blok Dewi kecamatan Anjatan kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat.

Dari Hasil investigasi yang di kutip dari Buser Dirgantara 7.com, Sabtu (29/5/2021) Di ketahui penjual obat yang berkedok disalah satu kediamannya ini berinisial AR(42) sudah lama menjalankan bisnis penjualan obat tersebut tanpa resep dokter.

Saat itu pihak media turun langsung melakukan investigasi dan konfirmasi ke pihak yang di duga sebagai pengedar obat tramadol paman inisial, AR (42) dia malah menawarkan imbalan uang sebesar Rp, 15.000.000, (lima belas juta rupiah) supaya persoalan ini jangan dilaporkan ke pihak berwajib.

Dihimpun dari keterangan pihak medis bahwa obat obatan tersebut hanya digunakan untuk mengobati orang yang terkena gangguan mental, seperti perilaku agresif yang membahayakan kecemasan dan kegelisahan skizofrenia, psikosis serta autisme.
Olehnya itu obat-obatan tersebut hanya dapat di perjual belikan dengan menggunakan resep dari dokter.

Apa itu Tramadol dan apa Efek Sampingnya?

Mengkonsumsi obat tramadol di luar dari ketentuan dapat menimbulkan efek yang sangat fatal bagi kelangsungan hidup. Apalagi menyalahgunakan obat golongan G ini untuk hal-hal tertentu, salah satunya juga berdampak pada sesak napas yang berujung kematian mendadak.

Bila digunakan dosis berlebihan, apalagi untuk tujuan tertentu, maka menimbulkan efek samping yang sasarannya menyerang saraf pusat dan pernapasan yang sangat fatal,”

Efek lain akibat mengkonsumsi tramadol pada level 500 mg yang dilakukan secara terus menerus, akan terjadi muntah darah karena luka pada lambung. Dengan demikian, konsumsi tramadol yang kerap dilakukan anak-anak remaja tersebut merupakan langkah awal bagi korban untuk mencari lagi barang yang lebih berbahaya alias narkotika.

Diketahui dari berbagai sumber dan hasil penelusuran awak media,dalam beberapa pekan terakhir, penyalahgunaan tramadol kerap merasuk anak-anak remaja. Meski tidak menimbulkan efek kecanduan, namun mengkonsumsi tramadol tanpa resep dokter sangat fatal bila keseringan.

Hal ini juga dikeluhkan oleh sejumlah sumber yang di temui dan awak media dimana semestinya transaksi terlarang ini mendapat pengawasan dari BPOM dan Dinas Kesehatan pemerintah setempat.Bahkan ironisnya Aparat Penegak Hukum (APH) Polsek Anjatan pun diduga seakan tutup mata.

“Semua pihak berharap dan minta penjualan obat terlarang yang marak terjadi di wilayah tersebut ditindak tegas oleh Aparat Penegak Hukum Polsek Anjatan,”ungkapnya.

Menyalahkan anak-anak remaja korban tramadol bukan solusi, justru yang harus dilakukan adalah putuskan mata rantai, pengedar segera diungkap dan ditangkap. Karena sudah jelas bahwa untuk mendapatkan obat tersebut harus dengan resep dokter.

Oknum Polsek Anjatan yang sedang bertugas pada malam tanggal (27/5/2021) saat di temui awak media mengatakan tidak mengetahui hal tersebut.

” saya belum bisa berikan jawaban karena saya juga baru pindah tugas di Polsek Anjatan.Kalau bisa bapak langsung ke polres saja.Katanya”

Disebutkan berdasarkan Undang Undang Nomor: 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 196, menentukan Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan Farmasi dan/ alat kesehatan yang tidak memenuhi standart dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemamfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1O Tahun denda satu milyar rupiah.(pimred/Nas/01)

Editor : Husni Sese

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed