oleh

Jangan Lupa Melawan Nasib dan Jangan Pernah Lawan Takdir, Oleh: Prof. DR. H. Fernandiya Sima Antasari, Ma, Mba

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu Sahabat dan saudaraku semoga kita semua Senantiasa dalam keberkahan dan keikhlasan menjalani bahtera kehidupan yang sudah di tentukan oleh Allah SWT, yang jelas jangan lupa melawan nasib namun jangan pernah melawan takdir sebab 50juta tahun sebelum dunia ini di ciptakan takdir seseorang sudah di catat oleh Allah SWT di Lauhul Mahfuzd.

 

Sebenarnya Seberapa besar cinta kita Kepada Rasulullah? Pernah kah kita mendengar namanya atau bahkan tidak sama sekali? ingin nya dapat syafaat tapi kok tanggal lahirnya saja sering lupa!

Sebagai muslim yang baik, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasulullah? Seseorang yang belum pernah kita temui secara langsung. Belum pernah kita lihat wajah berseri”nya. Namun selalu kita harapkan syafaatnya.

Lantas bagaimana cara kita cinta kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam? Kita sebagai muslim yang mengaku mencintai kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, semestinya kita harus selalu berusaha untuk mengikuti dan menerapkan perilaku beliau dalam kehidupan kita sehari-hari. Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi pernah berkata:

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakan nya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku tanpa bukti yang nyata”.

Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan nya dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dalam lapang maupun sempit”.

Dengan melihat keterangan di atas sudah jelas tentang arti mencintai Rasulullah yang sebenarnya mulai dari meneladani akhlak atau budi pekerti, petunjuk, serta berusaha sekuat tenaga menjalankan dan mengamalkan sunah-sunah beliau dengan baik dengan niat mengharap Ridho Allah SWT. Mengamalkan yang baik tentu harus diimbangi dengan menjauhi hal-hal yang dibenci oleh Rasulullah. Diriwayatkan dari Tsa’labah Al Khusyaini, ia berkata, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling aku sukai dan paling dekat denganku di akhirat nanti adalah orang yang baik akhlaknya, sedangkan orang yang aku benci dan paling jauh dari aku adalah orang buruk akhlaknya, banyak bicara, sombong, dan bicara kasar”.

Orang yang buruk akhlaknya tentu sangat bertentangan dengan Rasulullah yang memang diperintah kan oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang baik. Begitupun sifat-sifat lain yang dibenci oleh Rasulullah semua mempunyai mudharat yang besar dalam arti lain kemanfaatan nya lebih sedikit dari pada kerusakan yang ditimbulkan.

Sikap dan sifat Rasulullah yang lain digambarkan dalam untaian kata indah berjudul, “ Bagaimana Aku Menirumu, O Kekasihku”. Puisi yang ditulis oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengumpamakan bahwa kita dengan Rasulullah sangatlah berbeda jauh. Begitu mulianya seseorang yang diberi gelar Uswatun Hasanah bagi umat seluruh alam. Seseorang yang patut diteladani dan dicintai sampai kapanpun.

Terima kasih bila ada salah itu lah bentuk kebodohan kami dan kefakiran kami bila mana ada benar hanya milik Allah semata.wassalam.

Komentar

News Feed