oleh

Diduga Malapraktik, Pasca Operasi Caesar, Ginjal Pasien Gagal Fungsi

TOPIKTERKINI.COM – BANTAENG | Dugaan malapraktik kembali menerpa RSUD Prof. Anwar Makkatutu Bantaeng, peristiwa ini dibeberkan keluarga korban (Annie dan Abd Rasyid) ke awak media, Kamis 16/06/2021.

Sri Fauziah R (21) warga Kabupaten Jeneponto, saat hendak melahirkan, pasien memeriksakan diri (USG) ke RS Anwar Makkatutu Bantaeng, yang selanjutnya atas permintaan korban melaksanakan proses persalinan dengan tindakan operasi Caesar, tutur Rasyid.

“Operasi caesar itu, atas permintaan Fauziah sendiri, dia tidak mau melahirkan normal” katanya.

Saat konsultasi dengan dokter bernama dr. In dan hasil pemeriksaan, dr.In mengizinkan, lalu memberikan jadwal operasi.

Dia juga mengungkapkan rasa heran keluarga korban sehari jelang pelaksanaan operasi caesar, dokter tidak menyuruh Fausiah berpuasa sebagaimana lazimnya pasien yang hendak dioperasi. “pemahaman keluarga kami, sebelum pelaksanaan operasi biasanya pasien dianjurkan untuk berpuasa, tapi ini tidak dilakukan” ungkapnya,Ia (dr. In, Red) justru menawari Fausiah untuk membeli obat seharga 2 juta rupiah dan Anehnya, saat keluarga pasien menanyakan obat apa dan untuk apa, dokter In tidak memberitahu, tuturnya.

Operasi caesar dilakukan Senin, 7 Juni 2021 dan dianggap berjalan lancar. Namun, sesaat pasca operasi, dokter In minta agar segera membayar 2 juta rupiah. Di ruangan perawat, uang yang telah diserahkan tanpa kuitansi sebagai bukti pembayaran pasien. Justru si pasien disuruh tandatangan, jelas Rasyid.

Pasca operasi Caesar itu, Fausiah mengalami pendarahan hebat, karena panik Pasien konsultasikan ke Dokter In. Namun sangat disayangkan dokter hanya menjawab santai, yang menganggap kasus seperti yang dialami Fauziah adalah hal biasa, tanpa melakukan tindakan apapun dan mengizinkan Fausiah untuk pulang ke rumah.

Beberapa hari kemudian setelah pasien di rumah (Rabu, 9/6) Fausiah tidak bisa buang air kecil, badannya bahkan membengkak. Fausiah segera dilarikan kembali ke RS Anwar Makkatutu Bantaeng. Anehnya lagi, dokter In tidak mau menemui dan memeriksa kembali Fausiah.

“Fauziah dilarikan lagi ke RS karna tidak bisa buang air kecil, dan badannya membengkak tapi dokter itu (dr. In, Red) tidak mau menemui pasiennya, sehingga diambil alih dokter lainnya” ungkap Rasyid.

Fausiah yang terus mengalami pendarahan, menderita kesakitan. Karena tidak bisa berbuat banyak, pihak rumah sakit dan dokter lalu merujuk Fausiah ke RS Labuang Baji Makassar.

Dokter di Makassar menyesalkan atas keadaan Fausiah. Pendarahan hebat yang dialami pasca operasi caesar membuat fungsi ginjal Fausiah rusak. Tindakan operasi harus kembali dilakukan. Maka pada Senin, 14 Juni 2021, operasi kembali dilakukan.

Siang hari, saat hendak dilakukan operasi, dokter In datang ke RS Labuang Baji Makassar dengan alasan menjenguk Fausiah. In mendekati Selfianti (ibu Fausiah) lalu menyodorkan amplop padanya dengan cara paksa memasukkan ke dalam tas Selfianti, lalu bergegas lari. Setelah diterawang, amplop itu ternyata berisi uang. Dugaan sementara berjumlah 2 juta rupiah. Selfianti sampai saat ini belum membuka amplop itu.

Setelah operasi, dokter menjelaskan bahwa ginjal Fausiah mengalami gagal fungsi akibat pendarahan hebat pasca operasi caesar. Sehingga di hari yang sama, dokter merasa perlu mengambil tindakan cuci darah.

“Menurut keterangan dokter, Fauziah mengalami gagal fungsi ginjal Sehingga dilakukan tindakan cuci darah padahal pasien tidak memiliki riwayat penyakit ginjal sebelumnya, dan harus menjalani cuci darah”, ketus Rasyid. Dua hari kemudian, yaitu pada Rabu, 16 Juni 2021, cuci darah dilakukan kembali.

Pihak keluarga pasien lewat kuasa pendampingnya akan melakukan somasi pada pihak RSUD Prof. Anwar Makkatutu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tindakan dokter In, yang berada di bawah pengawasan rumah sakit, yang menyebabkan kerugian bagi Fausiah.

Somasi juga akan dilayangkan pada dokter In atas dugaan kelalaian profesi yang berakibat kerugian pada pasien Fausiah. Somasi dilakukan agar Fausiah memperoleh keadilan, pungkas Rasyid.

Wakil Direktur RSUD Prof Anwar Makkatutu dr. H. Sultan yang dihubungi via ponselnya (Jum’at, 17/6) membenarkan peristiwa tersebut. dia juga mengakui, kejadian itu masih sementara di investigasi.

“kejadiannya masih dalam proses investigasi agar fullbaket, menghindari informasi sepihak” kata dr. H. Sultan, untuk keterangan lengkapnya silahkan dihubungi dr Hikma yang ditugaskan untuk melakukan investigasi, tambah Wadir.

Kepala bagian pelayanan medik RSUD Prof. Anwar Makkatutu dr. Hikmawati yang dihubungi via ponselnya, hingga berita ini ditayangkan tidak dapat dikonfirmasi.

Ketua Dewan Pengawas RSUD Prof Anwar Makkatutu Asruddin, S.IP., M Si. Yang dikonfirmasi mengakui telah memerintahkan manajemen RS untuk melakukan investigasi secara detail.

“Setelah membaca laporan media, kami langsung sidak hari kamis malam, dan pagi tadi (Jum’at 17/6) kami layangkan surat agar manejemen dan komite medis segera melakukan investigasi” Jelas Asruddin.

Asisten 3 Setda Bantaeng ini juga berharap laporan dari komite medis dapat diterima paling lambat hari senin (20/6) untuk menentukan langkah selanjutnya,

“Saya selaku Dewas, berharap laporan lengkap kejadian tersebut sudah ada paling lambat hari Senin, setelah itu kami akan sampaikan keterangan resmi” pungkasnya.

Laporan : Armin / TIM

Komentar

News Feed