oleh

Material dan upah kerja belum dibayarkan, Rekanan PT.Teppo Janji Akan Bongkar Bagunan dan Proses Hukum

TOPIKTERKINI.COM – BULUKUMBA: Salah satu rekanan (Subkon) dari proyek pengerjaan PLTU yang beralamat di Desa Bulo-bulo, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan, mengeluh lantaran belum di bayarkan oleh pihak PT.Teppo Elecric Persada

Proyek pengerjaan  PLTU Bulo-bulo yang menelan anggaran puluhan miliar terancam akan dibongkar dan akan di proses secara hukum oleh pihak rekanan yang merasa kecewa lantaran pihak PT.Teppo Elecric Persada belum membayarkan material dan upah kerja, berjumlah 350 juta lebih.

Abdullah Rusydi selaku pihak rekanan (Subkon) yang dikonfirmasi via telepon Minggu 12/9/2021 mengaku bahwa pengerjaan pondasi pos sudah selesai, namun belum dibayarkan semua oleh PT.Teppo Elecric Persada

“Ada 24 pengerjaan pondasi pos, yang sudah selesai, dari 24 titik pengerjaan baru 80 persen yang sudah dibayarkan, lalu sisanya masih ditangan pelaksana PT.Teppo Elecric Persada, Alasan pengerjaan tidak dibayarkan, karena pengerjaannya dinilai tidak sesuai dengan bestek, dan bobot pengerjaan,” katanya.

Rekanan (Subkon) menilai bahwa pihak pelaksana dalam hal ini PT.Teppo Elecric Persada dinilai keliru jika mengatakan tidak sesuai dengan bestek atau bobot pengerjaan.

“Lantas kenapa pengerjaan itu diteruskan dan tidak dilakukan pembongkaran, jika pengerjaan saya dinilai tidak punya kwalitas, Silahkan dibongkar, justru malah diteruskan, artinya pekerjaan tersebut harus dibayarkan dan Kalau tidak, saya akan lakukan pembongkaran dan saya akan membawah kerana hukum”, ucap Abdullah Rusydi pada Topikterkini.com.

Material dan upah kerja belum dibayarkan, Rekanan PT.Teppo Janji Akan Bongkar Bagunan dan Proses HukumAbdullah Rusydi mengatakan bahwa, “pengerjaan satu pondasi pos dibayarkan 30 juta, kemuadian dikali dengan 24 titik pengerjaan, jadi total keseluruhan menjadi  720 juta rupiah dan sisanya masih ditangan pelaksana PT.Teppo Elecric Persada 350 juta rupiah yang belum dibayarkan kepada saya,” katanya

Masih kata Inisial Ulla bahwa pengerjaan proyek pembangunan PLTU dinilai cukup banyak aturan dari konsultan, Sementara didalam Rencana anggaran belanja (RAB) tidak ada. contoh harus menyiapkan stemper, pengadaan alat berat, kemudian uji lab, sewa uji ukur, semua tidak ada di dalam RAB.

“Terlalu banyak aturan dari konsultan yang tidak ada di Rencana anggaran belanja (RAB) contoh harus saya siapkan stemper, saya bawah alat berat, kemudian uji laboratorium (LAB) uji sampel berkali-kali, sampai saya bawakan uji ukur, saya bayar 7 juta, Menimbung jalanan masuk karena becek, bikin WC semua tidak ada anggarannya, tidak ada di (RAB)

Direktur PT.Teppo Elecric Persada Muctar yang dikonfirmasi via telepon bersama salah satu dari pelaksana PT.Teppo Elecric Persada Suriadi selaku konsultan yang juga dikonfirmasi via telepon belum berhasil terkonfirmasi hingga berita ini ditayangkan

Laporan: Andi Burhanuddin

Komentar

News Feed