oleh

SEDIMENTASI MUARA SUNGAI NELAM, Oleh : Muh.Singara, S.Ag, M.Si

Sedimentasi menyebab terbentuknya tumpukan sedimen atau endapan dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan nama Tanah Timbul (Inggris= deltaber/channelbar; Belanda= aanslibbing). Sedimentasi yang terjadi di Sungai Desa Negeri Lama Nelam) adalah proses pengendapan material hasil pengikisan (erosi) di hulu sungai yang terbawa oleh aliran air, sehingga daerah muara mengalami pendangkalan.

Kecepatan pengendapan material tergantung pada pelambatan aliran air dan laju erosi yang terjadi di daerah hulu. Pelambatan aliran air di muara lebih tinggi peluangnya terjadi pada kontur sungai yang berkelok-kelok dan peningkatan debit air sungai karena hujan bersamaan dengan waktu pasang air laut. Laju erosi terkait dengan intensitas curah hujan dan kualitas betang alam di daerah aliran sungai (DAS).

Berdasarkan pada faktor energi air sebagai pengangkut sedimen, maka sedimentasi yang terjadi di muara sungai Desa Negeri Lama (Nelam) termasuk sebagai Sedimentasi Aquatis Fluvial. Munculnya tumpukan material di tengah sungai (dekat jembatan) dominan merupakan endapan material lumpur (aluvial) yang terjadi akibat melemahnya kekuatan arus air secara tiba-tiba karena ditahan oleh tepi sungai sisi sebelah Desa Kantanan sebelum berbelok ke arah muara. Pembentukan endapan tersebut dikenal dengan Sedimentasi Alluvial.

Adapun tumpukan endapan material di muara sungai Nelam sedikit berbeda, yaitu dominan merupakan endapan material pasir dari hulu sungai yang terjadi terus-menerus, sedangkan material lumpur umumnya diteruskan kelaut menyebabkan perairan laut sekitar muara menjadi kabur, pembentukan endapan tersebut dikenal dengan nama Delta.

Catatan penting dari peristiwa sedimentasi di muara sungai Nelam adalah erat kaitannya dengan peningkatan erosi di wilayah hulu (lihat perbedaan pada foto profil muara sungai Nelam tgl. 8-10-2016 & 4-9-2017). Hal lain adalah ancaman banjir pada desa-desa di sekitar sungai Nelam, utamanya Desa Nelam & Desa Bugis dimana hal itu terkait dengan pendangkalan yang terjadi di muara sungai tersebut serta diperparah oleh berkurangnya luasan rawa tempat parkir air sungai saat banjir di konversi menjadi tambak/kebun.

Selanjutnya, pendangkalan di muara menyebabkan perubahan pola aliran air sungai sehingga posisi muara sungai Nelam mengerus (abrasi) sisi muara sungai di wilayah Desa Kantanan dan membentuk tanah timbul di sisi muara wilayah Desa Nelam. Perubahan posisi muara sungai Nelam akan mengancam posisi jalan (provinsi/negara) poros Buol-Gorontalo serta kebun kelapa masyarakat yang berada di wilayah Desa Kantanan.

Sebagai masukan dalam upaya mitigasi dampak dari sedimentasi di muara sungai Nelam, kiranya perlu dilakukan beberapa program oleh pemerintah bersama masyarakat melalui:

Pendekatan teknologi seperti melakukan reboisasi di daerah hulu termasuk sempadan sungai, membangun kembali tanggul permanen di sisi muara wilayah Desa kantanan, melakukan kegiatan rehabilitasi atau normalisasi sungai Nelam, mempertimbangkan dimasa mendatang melakukan sodetan untuk meluruskan aliran air di muara sungai Nelam agar lebih cepat terbuang kelaut; Pendekatan Sosbud seperti menertibkan kegiatan masyarakat (bangunan, tambak, kebun) di sempadatan sungai sesuai ketentuan yang berlaku, mengatur kepemilikan tanah timbul di sekitar muara sungai Nelam sesuai peraturan yang berlaku, memasang tanda peringatan atau larangan serta memberikan pemahaman masyarakat dan perusahaan di sekitar aliran sungai Nelam agar menjaga kelestarian lingkungan perairan sungai Nelam, dll. SEMOGA …

Komentar

News Feed