oleh

TULISAN LALU MUHAMAD IQBAL. DUBES RI DI ANKARA, TURKI YANG PUTRA ASLI LOMBOK TENGAH, “Rupanya Lombok sedang tenggelam dalam gegap gempita sirkuit MotoGP”

Topikterkini.com JAKARTA : Jujur saja, saya justru gelisah sebagai orang Lombok. Kita melakukan kesalahan yang sama, sekali lagI.

Pemimpin mendidik rakyatnya dengan pikiran yang salah, sekali lagi.

Seakan-akan MotoGP seperti messiah, Imam Mahdi, atau durian runtuh yang begitu jadi akan menyelesaikan semua problem lokal rakyat Lombok.

 

MotoGP adalah MotoGP. Tidak lebih seperti tempat hiburan lainnya, yang punya kalkulasinya sendiri. Soal untung rugi pastilah menjadi hitungan utama. Soal rakyat sekitar, itu ada di daftar paling bawah pastinya. Tapi MotoGP tidak bisa disalahkan. Karena dia adalah entitas bisnis, sepertinya elemen kapitalisme lainnya, dia ada untuk mencetak laba. Buat bangun fasilitas itu MotoGP juga ngutang di bank dan harus mengembalikan bunga serta pinjaman berikut menambang keuntungan.

Biaya sosial nggak masuk dalam hitungan mereka, karena itu urusan orang lokal.

 

Masih ingat kawasan wisata Senggigi dulu, yg dibangun di akhir 80-an dan 90-an, semua orang mengira akan ada durian runtuh yang menyelesaikan semua masalah. Sudah puluhan tahun Kawasan itu ada dan semua masalah lokal masih disitu-disitu saja, ditambah lagi dengan masalah sosial baru akibat budaya baru yang dibawa oleh pariwisata yang masuk kesitu tanpa “kulo nuwun”.

Masih ingat ketika bandara internasional di bangun di Lombok Tengah, semua orang tenggelam dalam euphoria. Semua pemimpin lokal (formal maupun informal) meletakkan harapan ke bandara tersebut untuk menyelesaikan semua masalah lokal. Setelah sekian tahun, masalah-samalah lokal tetap disitu-disitu saja, dan ditambah dengan masalah baru akibat meningkatnya mobilitas manusia yang membawa juga budaya-budaya dan peradaban luar ke masyarakat lokal, yang sama sekali tidak dipersiapkan untuk menghadapi benturan budaya : cultural shock (gagap budaya).

 

Pada akhirnya, ekonomi yang sustainable adalah ekonomi yang dibangun dari bawah, bukan yg disuntikkan dari atas melalui investasi-investasi besar.

Lalu apakah Kapitalisme salah ?. Bisa iya, bisa juga tidak. Yang jelas salah adalah, kalau kita menggantungkan harapan berlebihan dan lupa memitigasi resiko-resikonya.

 

Sudah ribuan sosiolog mengingatkan kita bahwa Kapitalisme adalah sistem yang tidak dibangun buat memeratakan kesejahteraan. Dimana-mana Kapitalisme akan melahirkan kesenjangan, yang seringkali parah. Maka jangan heran kalau nanti orang-orang kaya yg menikmati Mandalika, sementara orang-orang lokal hanya bisa jualan kelapa muda dipinggir pagar, atau jaga parkir, atau jualan pelecing, tidak beda dengan 20 atau 30 tahun lalu sebelum ada investasi besar masuk kesitu. Buat orabg-orang lokal boro-boro beli tiket MotoGP yang harganya jutaan itu. Para pemimpin lokal (formal maupun informal) lupa untuk menyiapkan umatnya supaya bisa ambil bagian dalam derap pembangunan ini. Lupa menyiapkan rakyatnya bahwa “durian runtuh” ini akan membawa persoalan sosial, ekonomi, dan budaya baru juga. Akibat tidak dipersiapkan dengan baik, resiko marjinalisasi masyarakat lokal tidak bisa dihindarkan.

Apakah sudah terlambat menyiapkan masyarakat lokal ?. Tentu saja iya. Tapi terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Yang jelas, untuk MotoGP bisa membawa berkah yang diharapkan, banyak hal yang harus dilakukan. Infrastruktur ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat lokal harus dikuatkan. Atraksi-atraksi wisata lainnya harus disiapkan dan dibangun. Jika tidak, maka ada kecenderungan para pegandrung balap MotoGP datang ke Lombok hanya semalam atau dua malam saja, lalu kembali ke Bali. Kalau itu yang terjadi, maka tetesan berkah MotoGP akan sangat kecil. Uang terbesar akan dikeluarkan buat beli tiket yang sebagian besar masuk ke kantor penyelenggaranya di luar negeri sana, atau paling jauh ke Jakarta.

Bukan berputar di tataran lokal.

 

Kalau mau dapat berkahnya MotoGP, harus ada penguatan. Penguatan ini butuh intervensi kebijakan pemerintah pusat hingga lokal yang memang berpihak kepada masyarakat sekitar.

Semoga pejabat-pejabatnya, yang pastilah dipilih dari orang-orang terbaik disitu, memang mau fokus mengasah keberpihakannya dan mengartikulasikannya dalam kebijakannya.

 

Kembali ke urusan MotoGP, mungkin kasus negara jiran Malaysia bisa jadi cermin buat berkaca. Tahun 1999, Mahathir Mohamad, membawa Sirkuit Formula 1 ke Sepang. Semua harapan orang Malaysia tertumpu ke sirkuit itu, mungkin mirip perasaan orang Lombok pada saat ini. Beberapa tahun awal keyakinan itu masih menyala dan sebagian memang terbukti. Tapi tahun 2018 lalu, setelah mengkalkulasi ulang untung ruginya, akhirnya sirkuit Sepang mundur dari rangkaian Formula 1.

 

Di Istanbul, Turki, ada sirkuit Formula 1, yang tahun 2020 lalu dinobatkan sebagai sirkuit F1 terbaik. Tahun 2021 ini kembali menjadi penyelenggara. Saya berkesempatan nonton di podium VIP, bukan karena saya mampu beli tiket dan juga bukan karena saya suka nonton balapan. Kebetulan saja pemilik sirkuitnya itu adalah sahabat dan teman diskusi saya yang mengirimkan undangan gratis. Hingar bingar soal F1 ini di Turki mulai dua atau tiga hari sebelum hari H, lalu berlanjut dengan hingar binger hasil kompetisi sampai dua hari setelahnya. Setelah itu, tidak ada orang bicara mengenai F1 lagi. Beruntungnya, infrastruktur bisnis dan pariwisata di Istanbul dan Turki itu sangat siap untuk menyerap kunjungan wisatawan yang datang ke sirkuit F1, sehingga berkah F1 bisa diambil secara maksimal.

 

Seperti halnya dengan Formula 1, MotoGP adalah kegiatan musiman. Tidak akan berlangsung 365 hari dalam setahun. Tiap tahun juga dikaji ulang oleh penyelenggaranya dengan pertimbangan yang sepenuhnya pada urusan bisnis. Mereka akan tetap gunakan Mandalika kalau hitungan bisnisnya masuk. Jika tidak, ya maaf saja, uang tidak punya belas kasihan.

 

Saya yakin MotoGP akan mengangkat nama Lombok lebih tinggi ke dunia. Tapi itu hanya dampak ikutan dan pembuka jalan yang kalau tidak diikuti dengan kesiapan-kesiapan yang lain, lambat laun juga akan layu. Kalau jalan yang lebih terbuka ini tidak diikuti dengan kesiapan yang lebih baik agar bisa mengambil manfaat sebesar mungkin, akhirnyan akan sia-sia dan kita hanya menikmati dampak buruk bawaan seperti halnya dampak buruk pariwisata lainnya. Tantangan terbesar buat kita semua adalah bagaimana masyarakat lokal bisa ikut berada di panggung utama pembangunan mercusuar ini. Menjadi pelaku utama dan menikmati berkahnya semaksimal mungkin, bukan sekedar jadi penonton di luar pagar.

 

Topikterkini.com.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.