oleh

Ekonomi Kultural Sebagai Kritik Atas Ekonomi Neoklasik

Ekonomi Kultural Sebagai Kritik Atas Ekonomi Neoklasik

Oleh: Sherina Arif 
(Mahasiswi Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Alauddin Makassar)

Banyak orang beranggapan bahwa sistem ekonomi yang ada di semua negara pasca usainya perang dingin pasti akan mengadopsi ekonomi liberal atau ekonomi neoklasik. Anggapan ini didasarkan pada runtuhnya system ekonomi sosialis yang secara menarik disebut oleh Francis Fukuyama sebagai akhir sejarah (the End Of History). Dengan perkataan lain hanya ada system tunggal ekonomi yang tersisa didunia yaitu system kapitalis yang merupakan dasar ekonomi aliran neoklasik.

Hal ini berdasarkan pengamatan Fukuyama, sejak kejatuhan ideology komunisme, lonjakan besar terjadi dalam perubahan ideology Negara-negara dunia. Sebagai contoh dari tahun 1975 sampai dengan 1990 saja terdapat kenaikan Negara yang mengganti system ideologi sebanyak 30 negara dan pada saat ini hampir seluruh Negara di dunia sudah memakai system demokrasi liberal kapitalisme.

Disamping itu, Fukuyama menemukan fakta bahwa Negara-negara yang merubah system ideologinya ke liberalism kapitalisme (sebelumnya memakai system fasisme atau komunis) secara statistik mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa seperti yang ditunjukkan oleh Spanyol, Pilipina, Afrika selatan, Peru dan banyak Negara lainnya.

Namun dalam perjalanannya ada yang kelihatan tidak sesuai dengan hasil “mainstream kinerja ekonomi suatu Negara dan tingkat kesejahteraan masyarakatnya ketika pada akhirnya beberapa Negara asia seperti Jepang, China dan Korea mampu mengimbangi kedigdayaan ekonomi Amerika Seriakt dan Negara-negara Eropa. Melihat tipikal dari Negara Jepang, Korea dan China kita semua tahu bahwa Negara Negara tersebut tumbuh dari reruntuhan perang dunia ke II ditambah lagi dengan perang saudara dan perang kebudayaan yang dialami oleh Korea dan China. Dan kalau dibandingkan dengan Amerika dan Negara-negara eropa, perang dunia ke II idak begitu mengganggu struktur perekonomian domestik mereka.

Sebenarnya dari jauh-jauh hari hal ini telah diingatkan, bahwa kehidupan ekonomi, menurut Adam Smith tertanam secara mendalam pada kehidupan social, dan ia tidak bisa difahami jika terpisah dari adat dan budaya, moral dan kebiasaan-kebiasaan masyatakat dimana proses ekonomi terjadi.

Perdebatan dan pemikiran mengenai ekonomi pada akhir-akhir ini menunjukkan bahwa keberhasilan dinamika ekonomi yang tumbuh cepat di asia timur terjadi bukan karena mengikuti aturan-aturan neo klasik, tetapi malah melanggarnya. Menurut kaum neomerkantilis, keberhasilan itu bukan disebabkan oleh karena kinerja pasar bebas yang tak terbatas, tetapi karena dalam setiap kasus pemerintah mereka selalu mendukung upaya pengembangan melalui kebijakan-kebijakan industry yang tepat.

Sementara Amerika terlena dengan dengan ekonomi berorientasi pasar, kebikajan ekonomi di dunia diluar amerika berjalalan diatas asumsi yang sangat berbeda dengan aturan-aturan ekonomi neoklasik. Banyak pemerintah Asia, misalnya melindungi industry-industri domestic dengan penetapan tariff import yang tinggi, membatasi penanaman modal asing, mempromosikan eksport melalui kredit murah dan subsidi penuh, menjamin berbagai lisensi untuk mendukung perusahaan, mengorganisir kartel-kartel untuk memobilisasi biaya penelitian dan pengembangan dan mengalokasikan pembagian pasar.

Apa yang masih problematis dalam ekonomi neoklasik adalah ia telah melupakan fondasi-fondasi kunci tertentu yang menjadi dasar ekonomi klasik. Adam Smith percaya bahwa masyarakat dikendalikan oleh hasrat mementingkan diri sendiri untuk mencapai kondisi mereka yang lebih baik. Tetapi Smith tidak pernah menggagas bahwa aktivitas ekonomi bias direduksi untuk memaksimalkan kegunaan rasional. Dalam bukunya “ Theory of Moral Sentiments” menggambarkan motivasi ekonomi sebagai suatu yang sangat kompleks dan tertancap dalam kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan sosial yang lebih luas.

Sebagian ekonom berusaha menjelaskan masalah ini dengan memperluas definisi kegunaan yang melampaui kesenangan dan uang dengan mempertimbangkan motivasi-motivasi lain misalnya seperti kesenangan fisik yang diterima seseorang karena melakukan hal yang baik atau kesenangan yang didapatkan seseorang ketika memberikan sesuatu yang bias dikonsumsi oleh orang lain.

Indonesia yang sejak tahun 1970-an telah menelan bulat-bulat teori neo klasik dengan berbagai kebijakan seperti pembukaan investasi asing besar-besaran, dalam semua bidang industry, pemberlakuan pasar bebas baik bilateral maupun regional, dan kebijakan industry yang bersifat subsitusi import memang berdampak positif dalam jangka waktu pendek dan menengah.

Namun dalam jangka panjang, kebijakan tersebut diatas justru menghancurkan negeri ini secara dramatis, sebagaimana yang kita alami pada tahun 2015 ini dimana fondasi ekonomi kita sangat lemah dan ini ditunjukkan oleh berbagai indikator-indikator ekonomi seperti transaksi neraca berjalan, nilai tukar mata uang rupiah, cadangan devisa dan indicator lainnya yang menunjukkan adanya pelemahan dalam bidang ekonomi.

Mata pencaharian secara budaya Indonesia yang secara umum di ketahui seperti petani dan nelayan sama sekali tidak terakomodasi dalam kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah selama ini, dampaknya saat ini untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saja Negara kita tidak mampu memenuhi permintaan dan terpaksa mengimport dari luar negeri termasuk komoditas selama ini yang diupayakan oleh rakyat yaitu beras dan gula.

Demikian juga dengan sikap budaya, seperti gotong royong dan kekeluargaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, tidak diterapkan lagi dalam system ekonomi Indonesia, memang pernah ada gotong royong dalam penyelesaian masalah kebangkrutan perbankan, namun itu jelas salah kaprah, karena perbankan bukan sector ekonomi yang sekunder, karena yang sekunder adalah aktivitas ekonomi sektor riel yang di lakoni oleh mayoritas penduduk termasuk petani, nelayan dan pengusaha kecil.

Berkaca dari keberhasilan Jepang dan korea selatan dalam mengaplikasikan aspek budaya kedalam aktivitas ekonomi yang tekah menjungkirbalikkan teori ekonomi barat, ada point penting dalam penerapannya yaitu konsistensi para pemimpin bangsa untuk membawa masyarakatnya maju dan mampu bersaing dengan Negara-negara lain tanpa harus melupakan budaya luhur yang dianut oleh masyarakat dan bangsanya.

Ekonomi Kultural Sebagai Kritik Atas Ekonomi Neoklasik

Daftar Pustaka

Capra, Fritjof, 2014.Titik Balik Peradaban, Pustaka Promethea, Yogyakarta

Fukuyama, Francis,2010. Trust, Penerbit Qalam, Yogyakarta

De Soto, Hernando, 1992. Masih Ada Jalan Lain : Revolusi tersembunyi di Negara Dunia Ketiga, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

Nasution, A. P. (2014). Kaum Saudagar Dalam Lingkaran Kekuasaan Negara. BENING, 1(2).

https://www.journal.unrika.ac.id/index.php/jurnaldms/article/download/47/698

Ekonomi Kultural Sebagai Kritik Atas Ekonomi Neoklasik

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.