oleh

Jacob Ereste : Nasib dan Cinta Sebagai Misteri Bagi Sang Sufi Dalam Perjalanan Spiritual Yang Sunyi

Ketika cara berpikur dan bersikap, hingga perbuatan yang bersifat fisik dan non fisik senantiasa mengacu dan disandarkan pada agama sebagai tuntunan dan ajaran dari Allah SWT, itulah yang dimaksud sebagai keteguhan iman dari laku spiritual.

 

Bagi siapa pun yang bekerja dengan jasa atau cara lain untuk orang lain, bila dilakukan dengan keikhlasan serta hasrat untuk menolong sasama manusia, maka muatan nilai spiritualitasnya saungguh tinggi.

 

Dan untuk mengukur ketinggian nilai spiritualitas itu pun sudah mengandung dimensi spiritual pula yang tak mungkin bisa ditakar secara materi. Karena seperti karya seni yang dominan ekspresi spiritual dari sang seniman yang membuat

karya tersebut. Maka itu, harga karya seni ketika hendak diperjual belikan, tarifnya acap tidak masuk akal, sungguh fantastik.

 

Dalam perspektif Islam misalnya, semua yang ada didunia ini hanyamemiliki dua sidat, yaitu lahir dan bathin. Karena itu, semua yang dikatakan lahir bisa dibilang atau dihitung, dan mungkin juga bisa dilihat, dipegang dan juga dirasakan. Namu untuk yang apa saja yang bersifat bathin atau gaib, hanya bisa dirasakan saja dan dipahami, sehingga tidak perlu repot untuk mengetahui secara ilmiah, karena semua yang bersifat batin itu hanya perlu dipercayai dan diyakini saja apa adanya, tanpa harus melihat atau meraba wujudnya secara fisik. Maka itu, semua yang bernuansa spiritual itu sesungguhnya selalu dominan– atau bahkan — tak terlihat, karena cuma bentuk

fisiknya belaka yang tak bisa dipegang.

 

Jadi mantra, do’a dan berzikir itu — semacam bahan dasar yang mampu untuk menghantar memasuki dimensi spiritual. Begitu juga wirit dan sejenisnya, dapat jadi penghantar yang paling efektif guna memasuki wilayah pergumulan dari dunia spiritual yang sungguh mengasyikkan.

 

Spiritualitas itu ama dengan cinta yang penuh misteri. Meski begitu konon ceritanya hanya manusia yang istimewa saja yang memiliki rasa cinta serta mampu untuk merasakan getaran cinta dari lubuk hatinya itu. Dan tidak semua orang yang memiliki rasa cinta itu pun bisa menikmatinya.

 

Jadi inti dari kepemilikan itu sesungguhnya yang paling penting adalah bagaimana bisa menikmati apa saja yang ada, sehingga sebagai manusia kita pun mampu untuk terus mensyukuri karunia Allah yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah.

 

Sebagaimana kemampuan dan pemahaman spiritual, serta kesadaran untuk membangkitkan gerakan spiritual di bumi Nusantara ini sesungguhnya adalah bagaimana menikmati — mulai dari proses hingga hasil dari kesadaran dan kebangkitan spiritual itu untuk kemudian — bisa menyaksikan banyakn orang yang bisa ikut menikmatinya. Karena memang sangat mungkin terjadi — sebagai pelakunya — ibarat petani yang telah menanam pohon kehidupan — bisa saja kelak setelah berbuah tidak ikut menikmatinya.

 

Sebagai contoh sejumlah kawan yang telah gigih menggelindingkan reformasi tahun 1998 — tidak sedikit jumlahnya yang tidal sempat menikmati hasil dari reformasi tersebut.

 

Jadi, tidak semua orang yang telah memiliki sesuatu itu, bisa sungguh menikmari apa yang dia miliki itu. Karenanya, tidak sedikit diantara aktivis pergerakan itu yang memilih untuk bersikap untuk tidak memiliki. Tapi dia selalu meletakkan caranya yang terbaik untuk dapat menikmati saja apa yang ada.

 

Lantas bagaimana sesugguhnya nasib mereka yang justru terpelanting akibat dari hasil perjuangan yang dicapainya itu ?

 

Demikianlah nasib yang juga bagian dari misteri dalam hidup, yang senantiasa juga ingin diketahui kerahasiaannya di dalam hidup ini.

 

Agaknya, begitulah suratan nasib, seperti cinta yang beselimut misteri bagi seorang sufi yang memilih jalan menemui Tuhan dalam sepi jalannya sendiri.

 

 

 

Karawang, 11 Mei 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed