Kapitalisme di Era Pandemi Covid-19
Oleh : Nirsyah Nur Afia
Mahasiswi jurusan ilmu ekonomi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Pandemi virus COVID-19 menjadi momok yang sangat menakutkan bagi dunia, dimana ratusan ribu nyawa telah hilang karenanya. Pembatasan yang terjadi di mana-mana membuat segala kegiatan ekonomi ikut terbatas dan terkendala. Terlebih di negara-negara yang berperekonomian kapitalistik yang dampaknya sangat terasa.
Mulai dari penanganan pasien hingga pencegahan dampak-dampak yang ditimbulkan akibat wabah yang menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu menangani wabah ini dengan baik. Terlihat adanya ketidak ketegasan pemerintah dalam menerapkan kebijakan yang ada. Selain itu tidak ada langkah mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah. Dapat dikatakan bahwa semua yang dilakukan oleh pemerintah hanya untuk menjaga agar negara ini disangka baik-baik saja atau hanya sekedar pencitraan.
Lantas kira-kira apa saja langkah yang paling ideal yang dapat dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah dalam melakukan penanganan COVID-19 ? atau ini adalah cerminan bahwa pemerintah hanya bertopeng pada citra palsu untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam menangani pandemi ini?
Kembali ditegaskan bahwa saat ini bukanlah kapitalisme yang dibungkam, justru negara kita yang dibungkam dan dikendalikan oleh kapitalisme. Walaupun kapitalisme gagal mewujudkan kesejahteraan, tapi kita selalu terobsesi dengan apa yang dijanjikan oleh kapitalisme. Yang menyebabkan kita mau menuruti apapun yang menjadi bagian dari janji tersebut. Tapi nyatanya kemudian kita banyak terjerumus di dalam lingkaran kapitalisme itu. Karena kapitalisme tidak pernah menjanjikan kesejahteraan. Kapitalisme hanya memberikan ruang kompetisi bagi kita untuk mendapatkan hal yang lebih baik.
Ketidaksiapan pemerintah yang tidak menganggap problem kesehatan itu sebagai tanggung jawab terbesarnya. Bahwa kesehatan itu adalah bagian dari kesejahteraan, dan kesejahteraan itu adalah amanat kostitusional. Pengejaran profit, pengejaran atas investasi sektor pertambangan, perkebunan dan perbankan, itulah yang kenapa pemerintah ini tidak siap karena lebih fokus kepada investasi.
Padahal seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah memfokuskan berinvestasi di bidang pendidikan dan kesehatan. Kalau itu dilakukan oleh pemerintah, kita akan siap menghadapi wabah dalam bentuk apapun dan dalam skala apapun. Tindakan inkonstitusional pemerintah yang mendahulukan profit, itulah yang menyebabkan ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi wabah ini.
Kebijakan-kebijakan pemerintah terlalu berorientasi untuk menjaga kestabilan investasi. Ketika negara terlalu berpegang kepada investasi maka hitungannya adalah untung rugi. Karena dalam sistem investasi tidak ada yang ingin rugi. Pasti selalu mengharapkan bahwa apa yang terjadi akan memberikan keuntungan bagi investasinya itu. Negara nampaknya bersikukuh untuk mempertahankan iklim investasi. Ia menjelaskan bahwa sikap pemerintah yang seperti ini adalah hal yang biasa. Tapi tugas utama negara adalah memastikan adanya keamanan, keadilan dan ketertiban bagi masyarakatnya. Sebab ini yang menjadi tujuan tertinggi dari adanya negara. Menurutnya hal inilah yang menjadi penting sehingga sensibilitas pemerintahan terhadap problem yang dihadapi oleh masyarakat berkurang.
Harusnya dengan adanya wabah, bisa menjadi kesadaran bersama. Yang dimana dapat membangun bangsa untuk siap hidup dalam kerentanan bencana apapun. Sehingga mampu membangun bangsa menjadi kuat dan tahan banting. Dan itu tidak bisa dibangun kalau masyarakatnya tidak cerdas, kalau masyakatnya tidak sehat, kalau masyarakatnya tidak merasakan adanya keadilan.
Daftar Pustaka
http://walhisulteng.com/mata-rantai-covid-19-dalam-pusaran-kapitalisme/











