ARTIKEL

PENGORBANAN SEJATI, Oleh: Syarif Al-Mahdaly, S.E

120
×

PENGORBANAN SEJATI, Oleh: Syarif Al-Mahdaly, S.E

Sebarkan artikel ini

Al-Qur’an menarasikan ritual qurban sebagai sarana hamba untuk belajar mendekatkan diri kepada Allah SWT, sesuai dengan akar katanya “qaraba” “yaqrabu” yang berarti “dekat” atau “mendekatkan”.

Bagi nabi Ibrahim, wujud cinta tersebut adalah Ismail. Ia merupakan jawaban atas doa seorang manusia yang bertahun-tahun merindukan kehadiran sosok anak dalam rumah tangganya. Ketika doa itu terwujud dalam raga Ismail, rasa cinta dalam nabi Ibrahim diuji. Manakah yang lebih besar? cinta kepada tuhan yang ia sembah atau cinta kepada anak yang sangat dirindukannya?.
Ketika nabi Ibrahim sampai di bukit Mina dan telah menghunuskan pisaunya ke leher Ismail, ternyata bukan tubuh anaknya yang telah mati yang ia temui, tetapi seekor domba besar yang menggantikan posisi anaknya.
Peristiwa inilah yang merupakan hakikat sebenarnya dari qurban, seperti yang diterangkan dalam surah Al-Hajj (22) : 37 yang berbunyi :

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkan nya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Bahwa Tuhan bukanlah sosok yang haus darah dan kejam. Tidak boleh ada nyawa manusia yang dikorbankan, bahkan atas nama agama sekalipun. Allah sama sekali tidak membutuhkan daging dan darah yang dipersembahkan oleh manusia. Tetapi yang ia terima adalah kebesaran hati atas dasar ketakwaan untuk “menyembelih” rasa ego dan nafsu dalam diri manusia itu sendiri. Sekaligus sebuah pesan, bahwa setiap pengorbanan besar yang dilakukan oleh manusia akan dibalas dengan balasan yang setimpal oleh-Nya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kisah nabi Ibrahim dapat menjadi pelajaran untuk kita semua. Sepanjang hidup, kita selalu bergulat dengan nafsu dan ego yang senantiasa menghalangi kita dalam melihat kebenaran dan mendekat kepada-Nya. Entah itu jabatan, kekayaan, kepopuleran, kecantikan, atau apapun. Kita semua memiliki “Ismail” dalam diri kita masing-masing

Dapatkah kita menjadi pribadi yang mampu menundukkan objek duniawi, nafsu, dan egonya pribadi dan menjadi seorang manusia yang terbebas dari segala belenggu yang menghalanginya menuju tuhan-Nya?
Sepertinya, pelaksanaan Idul Adha di tengah pandemi seperti ini menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan kembali nilai nilai pengorbanan Nabi Ismail
Siapa atau dalam bentuk apa “Ismail” yang ada dalam diri kita?
Dan siapkah jika kita “menyembelihnya” demi meraih cinta yang sejati?

Bukan kambing atau sapi yang menjadi esensi dari kurban. Akan tetapi tawadhu (kerendahan hati) serta keikhlasan, itulah arti kurban yang sesungguhnya.

@Selamat Hari Raya Idhul Adha 1444H
@ mohon Maaf LahiR BatHin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *