Topikterkini.com.Buol – Mungkin sebagian masyarakat Buol belum mengenal lebih jauh siapakah sesungguhnya sosok lelaki yang satu ini dalam meniti karier cemerlang di TNI-AD.
Dia adalah Kolonel Inf. Drs. Sukriyanto Puluhulawa, M.IP, M.Han yang akrab disapa bung Tony, putra Buol kelahiran Desa Lunguto Kecamatan Paleleh Barat Kabupaten Buol 23 September 1968.
Sang Kolonel ini adalah putra pertama dari 5 bersaudara dari pasangan almarhum. Drs H. Abdud Daiyyan Pululuhawa dan Ibu Dra. Karsum Pakaya, Menyusul sang ayah adalah suku asli Buol kelahiran Desa Lunguto, dan Ibu suku asli Gorontalo kelahiran Limboto dan hingga saat ini masih sehat wal’afiat.
Sang Kolonel dibesarkan dari lingkungan keluarga yang sangat religius dan ditempah dengan didikan yang tegas, disiplin dari kedua orang tuanya.
Berkat bimbingan agama, didikan dan doa restu kedua orang tuanya itu, bung Tony sapaan akrab, akhirnya bisa menggapai cita cita meniti karier cemerlang di dunia militer hingga mencapai sukses setelah selama 29 tahun bertugas hingga menduduki jabatan penting sebagai Peneliti Madya di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
Kepada media ini Bung Tony mengungkapkan suka dukanya setelah mengawali kariernya di militernya pada tahun 1995 dengan menyandang pangkat perwira pertama Letda Infanteri.
Sejak Letnan dua ia sudah masuk ke dunia intelijen sebagai instruktur intelijen di Pusat Pengembangan Intelijen TNI/AD yang berada di Bogor. Sebagai syarat untuk menjadi Instruktur intelijen tentunya harus melalui pendidikan Intelijen agar bisa mendapatkan kwalifikasi Intelijen dan memenuhi syarat lulus melalui tes psikologi.
Diawal tahun 1997 s/d 1998 atau selama 16 bulan, lanjut Tony, ia ikut bergabung dengan satuan penugasan (satgas) Operasi di Timor Timur di Bataliyon Infanteri 315/Garuda dengan jabatan Komandan Combat Intelijen di Sektor Manatuto dan Same.
Pasca Operasi di Timor Timur tahun 1998, ia bergabung lagi dengan Bataliyon Infanteri 315/Garuda di Kompi A sebagai Danton Buser Pam Ibukota Bogor dalam rangka mengamankan Istana Presiden di Kota Bogor, Istana Presiden di Batutulis dan Istana Presiden di Cipanas.
Ketika berpangkat Kapten, ia dipindahkan ke Komando territorial ( Kodim 0606 Kota Bogor) selama 5 tahun. Dan setelah itu, dipindahkan lagi ke Korem Bogor dengan jabatan baru sebagai Kepala Penerangan Korem 061/Surya Kencana.
Tutur sang Kolonel, setelah dirinya memenuhi syarat untuk pindah golongan dari Perwira pertama ke Perwira menengah pada tahun 2005, ia mendapatkan amanah untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira Infanteri selama 6 bulan dan dinyatakan lulus.
Setelah lulus, ia mendapatkan promosi Jabatan Pamen di Kodam XVI/Pattimura Ambon. Dan selama di Kodam XVI/ Pattimura Ambon, ia diberi amanah menjabat sebagai sebagai Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Patimura Ambon yang membuat dirinya begitu dekat dengan insan pers. Karier selanjutnya ia dipercayakan sebagai Komandan Satgas Pulau Terluar yang berkedudukan diperbatasan Australia dengan Lokus Saumlaki dengan jabatan Definitif sebagai Kepala staf Kodim Saumlaki.
Menyusul setelah selama 3 tahun berada diperbatasan Australia, ia kembali lagi ke Kota Ambon dengan jabatan di dunia Intelijen sebagai Pabandya Pengamanan Staf Intel Kodam selama 2 tahun, dan selanjutnya pindah lagi ke Jabatan Pabandya Penggalangan Staf Intel Kodam Ambon selama 2 tahun.
Berikut capaian dan prestasinya selama bertugas di dunia intelijen, kata Tony, ia sempat menyelesaikan kasus yang bernuansa Internasional pada tahun 2017, yakni menarik mundur sejumlah pemuda Indonesia yang berdomisili di Kecamatan Kisar dibawah pimpinan Karel Maupula dengan tujuan mendeklarasikan siap bergabung dengan Timor Leste.
Berkat upaya perjuangan, akhirnya sejumlah pemuda tersebut dapat ditarik kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dengan aman dan damai, termasuk juga ikut mendamaikan Maluku dalam konflik Sara dengan cara menarik ratusan senjata api yang dipegang oleh masyarakat Maluku.
Suka duka dan lika liku perjuangannya selama meniti karier di TNI/AD dilakoninya, tahun 2018 ia dipindahkan lagi ke Kodam XIII/Merdeka Manado dengan Jabatan sebagai Pabandya Penyelidikan Staf Intel Kodam Manado. Dan sempat menertibkan para penambang liar (tambang emas) di wilayah Tanoyan dan Tungoi serta Ratatotok
Berkat perjuangan, kerja keras dan kecintaan serta keikhlasannya dalam. mengemban tugas Negara akhirnya tahun 2020 ia, mendapatkan kesempatan mengikuti Sekolah dimana tidak semua perwira mendapatkan kesempatan yaitu Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di Bandung. Usai menyelesaikan pendidikan Sesko, sang Kolonel mendapat kehormatan dalam Jabatan sebagai Dosen di Sesko TNI/AD Sespim Polri.
Dengan jabatan Dosen inilah, ia diberi lagi kesempatan untuk menempuh Pendidikan Strata dua (S.2) di Universitas Ahmad Yani Bandung dengan Kualifikasi Gelar kesarjanaan Magister Ilmu Pemerintahan dan S-2 di Universitas Pertahan di Prodi Pertahan Darat dengan kualifikasi Gelar kesarjanaan Magister Pertahanan.
Dua tahun menjadi Dosen di Sesko TNI-AD/Sespim Polri sang Kolonel dipindahkan lagi ke Kementerian Pertahanan sampai saat ini dengan dengan menyandang pangkat Kolonel Infantri.
Selain karier cemerlang yang ditorehkannya selama bertugas di Militer, ternyata sang Kolonel juga meraih berbagai prestasi lainnya di bidang olahraga. Yakni membawa Tim Petembak Kodam Pattimura sebagai juara 3 petembak pistol Tingkat TNI AD dalam rangka meraih piala Kasad dan juga sebanyak 2 kali mewakili Kodam mengikuti pertandingan Tenis Meja mewakili Provinsi Maluku di Kejurnas Catur.
Sumber: Biografi Kolonel. Inf. Drs. Sukriyanto Puluhulawa, M.IP, M.Han.
Editor: Husni Sese.









