OPINI

Jum’at Berkah Sulteng Sejahtera, Nomor 1-kan BerAmal untuk Menjaga Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama (Jilid 111)

13
×

Jum’at Berkah Sulteng Sejahtera, Nomor 1-kan BerAmal untuk Menjaga Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama (Jilid 111)

Sebarkan artikel ini

Geliat tahapan kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah kini menjalani tahapan masa kampanye.

Dan masing-masing paslon melakukan giat kampanyenya sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.

Demikian halnya dengan pasangan Ahmad Ali dan Abdul Karim Aljufri yang dikenal dengan jargon BerAmal, terus melakukan penguatan ke seluruh jaringan dan lapisan masyarakat se Sulawesi Tengah.

Dan bagi Ahmad Ali, dalam menjadi perhelatan pilgub ini, menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama, adalah bahagian penting dalam merajut kebhinekaan demi merawat keanekaragaman dalam bingkai persatuan dan kesatuan.

Untuk itulah, peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk membicarakan toleransi dan kerukunan umat beragama khususnya di Sulawesi Tengah.

Jangan lagi ketika bicara kerukunan umat beragama hanya dijadikan topeng belaka.

Kita seharusnya jujur bicara tentang toleransi. Karena toleransi adalah sangat penting dan menjaga kerukunan umat beragama diperlukan kesadaran semua pihak.

Sebab selama ini, soal kerukunan umat beragama tidak pernah tuntas dibicarakan.

Menjadi sebuah diskursus bagi kita bersama untuk menelisik lebih jauh perihal yang disampaikan oleh tokoh kharismatik Sulawesi Tengah yakni Ahmad Ali selalu Calon Gubernur Sulawesi Tengah Periode 2024-2029 saat lawatan kampanyenya di berbagai tempat kurun waktu belakang ini.

Pemahaman yang sangat luas dari seorang Ahmad Ali dalam menguraikan betapa pentingnya toleransi umat beragama ditengarai kerukunan beragama di Sulteng yang hanya menggunakan topeng belaka tapi tidak dibarengi dengan tindakan nyata.

Tak ada yang mau jujur dalam melaksanakan toleransi dan kerukunan antar umat beragama di daerah ini.

Yang dipahami oleh Ahmad Ali tentanga toleransi dalam beragama ukurannya seharusnya adil, tidak ada lagi pihak yang terpaksa menerima keputusan sepihak hanya karena minoritas.

Selama ini minoritas takut berbicara. Seharusnya kita semua berbicara terbuka agar kerukunan ini dijalani secara sepenuh hati.

Maka sangat tidak berlebihanlah kiranya jika Ahmad Ali meminta agar lembaga keagamaan tidak berpolitik praktis, tapi memberikan pencerahan terhadap situasi politik, sehingga lembaga keagamaan bebas nilai dan bisa berkomunikasi dengan politisi mana saja.

*Toleransi dan Lingkungan Inklusif*

Melalui toleransi umat beragama, kita dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua orang tanpa memandang latar belakang agamanya.

Dengan saling menghargai keyakinan satu sama lain, kita memberikan ruang bagi perkembangan spiritual masing-masing individu sambil tetap menjaga hubungan sosial yang baik.

Mensikapi betapa pentingnya pemahaman dan penerapan toleransi dalam kehidupan beragama yang tentunya merupakan perubahan yang serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus dilaksanakan oleh umat beragama.

Toleransi tidak mengenal batas waktu, tempat, dan dengan siapa kita melakukannya, melainkan kita melakukannya dengan semua orang.

Toleransi tidak hanya dipraktikkan oleh etika yang menghargai ras, agama, budaya, suku, dan kelompok yang berbeda dengan kita, akan tetapi sikap menghargai pendapat orang juga adalah termasuk bagian dari toleransi.

Toleransi dalam beragama memiliki pengertian yaitu tindakan saling menghargai antar umat beragama.

Tidak peduli apapun agama yang dianut, antar masyarakat harus saling menghargai satu sama lain.

Toleransi antar umat beragama merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap orang saat ini.

Jika setiap orang memiliki sikap toleransi yang tinggi, maka ini akan meminimalisir terjadinya konflik antar umat beragama, dan kehidupan antar umat beragama pun akan terjalin dengan tentram dan damai.

Maka dari itu, sangatlah penting untuk menerapkan sikap toleransi dengan umat beragama lainnya.

Toleransi dan kebebasan adalah dua hal yang sering berseberangan dalam kehidupan manusia, terutama dalam masyarakat di mana perbedaan persoalan ini menjadi rumit jika didekati dalam ranah agama.

Kebebasan beragama dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu kerukunan.

Adapun ketika toleransi beragama diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia dan masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasib masing-masing.

Pemberian kebebasan itu dilakukan selama ia tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan asas terciptanya ketertiban dan kedamaian dalam masyarakat.

Al-Qur’an merupakan fundamen (dasar) bagi berdirinya toleransi yang sangat kaya dan luar biasa.

Substansi yang dituturkan al-Qur’an bukan hanya menjaga jiwa, agama, harta, akal dan keturunan, tetapi juga menjunjung tinggi agama-agama dan kepercayaan lain.

Maka seluruh umat beragama harus memberikan konstribusi yang nyata bagi pembangunan nasional yang dilaksanakan bangsa Indonesia.

Nilai-nilai religius harus dapat memberikan motivasi positif dan menjadi arah tujuan dalam seluruh kegiatan pembangunan di Indonesia.

Peraturan dan kerja sama antar umat beragama mutlak diperlakukan.

Soal hubungan antar umat beragama adalah soal yang sangat peka.

Banyak kejadian yang kadang-kadang mengarah kepada permusuhan dan penghancuran aset nasional disebabkan isu yang dikaitkan dengan hubungan antar agama, atau isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan).

Toleransi antar umat beragama perlu kita tanamkan dalam kehidupan kita, karena itu sangat penting bagi semua orang di dunia saat ini.

Semakin banyak orang yang memiliki sikap toleran, semakin baik bagi negara ini, karena konflik dapat dikurangi dan kehidupan antar umat beragama akan jauh lebih baik dan damai.

Inilah mengapa sangat penting untuk menerapkan sikap toleransi sekarang, karena akan sangat membantu dalam kehidupan kita di masa depan.

Sikap toleransi dapat kita mulai dari diri sendiri, contohnya jika kita melihat atau mendengar sesama kita menimbulkan sikap intoleran, kita bisa menegurnya dan jangan membiarkannya.

Untuk itu, kita sebagai generasi penerus bangsa mari belajar menghargai dan menerapkan sikap toleransi kepada sesama entah itu perbedaan suku, agama, maupun ras, karena sejatinya kita semua bersaudara.

Apa yang diuraikan di atas, setidaknya menjadi alas fikir kita semua dalam menjalankan konsep kesadaran akan pentingnya toleransi antar umat beragama.

Dan Ahmad Ali tanpa basa-basi menegaskan bahwa toleransi yang selama ini selalu dikemas dengan kerukunan, jangan hanya dijadikan topeng belaka.

Namun substansi dari toleransi dan kerukunan itu, khususnya di tanah Tadulako harus membumi dan mengawal arah positif membawa masyarakat Sulawesi Tengah untuk lebih baik menuju Sulteng sejahtera.

Oleh : Maulana Maududi (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS / Angkatan 18 Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)

BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *