AGAMBANDUNGDAERAHNTBPENDIDIKAN

Oknum Guru ASN di Lotim Diduga Bagikan Kupon Kampanye ke Siswa, Pendidikan Dikhawatirkan Jadi Ajang Politik

217
×

Oknum Guru ASN di Lotim Diduga Bagikan Kupon Kampanye ke Siswa, Pendidikan Dikhawatirkan Jadi Ajang Politik

Sebarkan artikel ini

TOPIKTERKINI.Com LOMBOK TIMUR – Sebuah insiden kontroversial terjadi di Lombok Timur, ketika seorang oknum guru Aparatur Sipil Negara (ASN) di SMAN 1 Aikmel diduga membagikan kupon acara kampanye pasangan calon Ikbal-Dinda kepada siswa dan siswi di sekolahnya.

Tindakan tersebut memicu kecaman luas karena dikhawatirkan dapat melibatkan dunia pendidikan dalam politik praktis.

Informasi yang dihimpun, kejadian ini berlangsung pada Kamis, 22 November 2024, saat kampanye akbar pasangan Ikbal-Dinda di Lapangan Masbagik.

Selain membagikan kupon, sejumlah siswa juga dilaporkan menerima uang sebesar Rp 20.000 sebagai bagian dari ajakan untuk menghadiri kampanye tersebut.

Kepala SMAN 1 Aikmel, Lalu Iptihar, yang mendapatkan laporan terkait kejadian ini, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengumpulkan seluruh guru untuk membahas masalah tersebut.

“Saya sudah mengumpulkan seluruh guru untuk membahas adanya dugaan ajakan dan pembagian kupon kampanye, serta pemberian uang Rp 20.000 kepada siswa,” ujar Iptihar, Kamis, 21 November 2024, saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurut penjelasan Iptihar, oknum guru yang terlibat adalah seorang guru olahraga. Meski mengakui telah membagikan kupon kampanye, sang guru menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk mengajak siswa terlibat dalam politik.

“Dia mengakui membagikan kupon kampanye, namun terkait ajakan atau instruksi dari saya sebagai kepala sekolah, itu tidak benar,” ungkap Iptihar.

Ia juga menyebutkan bahwa kupon yang dibagikan berasal dari salah satu anggota tim pemenangan Ikbal-Dinda yang mengirimkan satu bendel kupon.

Iptihar menyayangkan tindakan oknum guru tersebut yang dianggap telah mencampurkan urusan politik dengan pendidikan.

Namun, ia mengungkapkan bahwa guru yang bersangkutan telah meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

“Dia sudah minta maaf dan sadar bahwa itu adalah tindakan yang salah. Dia tidak bermaksud membawa dunia pendidikan ke ranah politik,” jelasnya.

Sebagai langkah preventif, Iptihar menekankan agar seluruh guru di SMAN 1 Aikmel tidak mencampurkan dunia pendidikan dengan politik. Ia mengingatkan pentingnya menjaga netralitas dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Saya sudah sampaikan kepada semua guru agar tidak membawa politik ke dalam dunia pendidikan. Kita sebagai pendidik harus menjaga netralitas dan mendidik siswa dengan sebaik-baiknya,” harap Iptihar.

Ia juga berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran untuk memperbaiki sistem pendidikan dan mencegah terjadinya politisasi di sekolah-sekolah.

“Semoga insiden ini menjadi evaluasi bagi kami untuk menjaga pendidikan yang lebih baik dan terhindar dari pengaruh politik,” tutupnya.(TT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *