OPINI

Dari Mimbar ke Masyarakat: “Ketika Dakwah Bertemu Tanggung Jawab Sosial dan Politik” Oleh: Drs. Abdullah Lamase, M.Pd

126
×

Dari Mimbar ke Masyarakat: “Ketika Dakwah Bertemu Tanggung Jawab Sosial dan Politik” Oleh: Drs. Abdullah Lamase, M.Pd

Sebarkan artikel ini

Sudah lebih dari dua dekade saya berdakwah di Buol. Sejak 2002, mimbar menjadi tempat saya berbagi nasihat, menyampaikan pesan moral, dan mengajak umat untuk berbuat baik. Namun, dari perjalanan panjang itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri: berapa banyak yang benar-benar berubah dari ceramah-ceramah itu?

Berapa generasi muda yang terdorong untuk menempuh pendidikan agama dan kelak menggantikan peran saya? Berapa banyak keluarga yang kehidupannya membaik karena nilai-nilai yang saya sampaikan di masjid atau majelis? Nyatanya, banyak yang senang mendengar ceramah, bahkan ingin anak-anaknya menempuh pendidikan agama tapi terhalang oleh ekonomi.

Itulah realitas yang menyentuh hati saya. Dakwah tidak cukup hanya dengan kata-kata. Nilai nilai moral dan spiritual harus diiringi dengan langkah nyata memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ketika ada yang bertanya, “Mengapa sekarang bicara politik?” saya menjawab dengan tenang: karena politik juga adalah ruang perjuangan moral dan sosial.

Saya memilih berjuang bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan karena ambisi pribadi, tapi karena saya melihat semangat baru di dalamnya. Sebagian besar pengurusnya adalah orang-orang muda, baru belajar berpolitik, dan memiliki orientasi yang jelas: kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah sahabat yang selama ini juga berjuang di ranah sosial dan pendidikan.

Ketika ada yang bertanya, “Kenapa tergesa-gesa padahal Pemilu masih jauh?”, saya tersenyum. PSI adalah partai baru, yang harus mempersiapkan diri sejak dini  dari pembentukan struktur hingga verifikasi faktual di setiap desa. Tapi lebih dari itu, saya percaya, silaturahmi dengan masyarakat tidak boleh menunggu musim politik. Perjumpaan dengan rakyat harus menjadi kebiasaan, bukan strategi.

Bagi saya, berdakwah, berpolitik, berdagang, bertani, menjadi nelayan, guru, atau pejabat  semuanya bagian dari satu ekosistem kehidupan yang utuh. Bila kita hanya mengurus satu bidang dan meninggalkan yang lain, maka akan ada urusan umat yang terbengkalai. Padahal bumi ini, sebagaimana amanah Allah, harus kita tata bersama dengan kerja kolektif.

Politik seharusnya bukan tempat perebutan kekuasaan, tapi ruang untuk memperluas manfaat. Dakwah bukan sekadar seruan moral, tapi ajakan untuk membangun peradaban. Dan kesejahteraan masyarakat bukan hadiah dari negara, melainkan hasil kerja sama dari semua lapisan rakyat.

Saya mohon maaf jika ada yang keliru dalam langkah dan pandangan saya. Namun satu hal yang saya yakini: setiap insan yang berbuat dengan niat baik, berhak memberi manfaat bagi sesamanya dari mimbar, dari ladang, dari sekolah, bahkan dari ruang politik sekalipun.

“Semoga kita semua menjadi insan yang memberi manfaat, di manapun posisi kita berada”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *