BeritaDAERAHEKONOMINTB

Rutinkan Baca Al-Qur’an, Kalapas Klas II B Selong Sebutan Warga Binaan Menjadi “Santri”

34
×

Rutinkan Baca Al-Qur’an, Kalapas Klas II B Selong Sebutan Warga Binaan Menjadi “Santri”

Sebarkan artikel ini

Topikterkini.com | LOMBOK TIMUR – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong kini menghadirkan suasana pembinaan yang berbeda.

 

 

 

Di bawah kepemimpinan Kepala Lapas (Kalapas) Sudirman, nuansa religius dan program kemandirian semakin diperkuat sebagai bagian dari pembinaan bagi warga binaan.

 

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan silaturahmi antara Kalapas Selong dan insan pers di Lombok Timur, Rabu (11/02/2026). Dalam kesempatan itu, Sudirman menyampaikan kebanggaannya dapat mengabdi dan membangun di tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan media di Lombok Timur yang dinilainya sangat mendukung berbagai program pembinaan di Lapas.

 

 

 

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah mengubah penyebutan warga binaan menjadi “santri”. Perubahan istilah ini menjadi bagian dari pendekatan pembinaan berbasis keagamaan.

 

“Kami ingin menyentuh hati mereka dengan agama agar saat keluar nanti, mereka tidak kembali lagi ke sini,” ujar Sudirman.

 

Di dalam lapas, kegiatan pembinaan tidak hanya sebatas rutinitas harian, tetapi juga difokuskan pada pembelajaran Al-Qur’an melalui pembentukan LPQ (Lembaga Pendidikan Al-Qur’an). Suasana pembinaan pun dirancang menyerupai pondok pesantren.

 

Berdasarkan data Lapas Selong, dari total 496 warga binaan, sebanyak 149 orang awalnya belum mengenal huruf hijaiyah. Namun, menurut Sudirman, semangat belajar para “santri” tersebut cukup tinggi, termasuk yang telah berusia lanjut.

 

 

 

Sejumlah program keagamaan yang dijalankan, one Day One Juz, yakni kewajiban membaca Al-Qur’an setiap usai salat Zuhur.

Sistem Mentor, di mana santri yang sudah lancar mengaji membimbing rekan lainnya yang masih belajar Iqra.

Satu Santri Satu Al-Qur’an, sebagai bentuk dukungan fasilitas pembinaan kepribadian.

 

Bahkan, saat bebas nanti, setiap santri akan diberikan satu Al-Qur’an sebagai bekal spiritual.

 

 

 

Selain pembinaan keagamaan, Lapas Selong juga menjalankan program kemandirian. Salah satunya melalui brand lokal “Sel 199”, yang merupakan produk karya warga binaan.

 

Program keterampilan yang berjalan meliputi bengkel pengelasan, jasa cuci mobil dan motor, serta pelatihan bersertifikat bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP). 

 

 

Dengan adanya sertifikat resmi, diharapkan para warga binaan memiliki bekal keterampilan untuk mencari nafkah secara halal setelah bebas.

 

“Kami ingin mereka keluar dari sini bukan sebagai mantan warga binaan, tetapi sebagai santri yang membawa perubahan bagi masyarakat,” pungkas Sudirman.

 

Sinergi antara pembinaan kepribadian berbasis agama dan pelatihan keterampilan ini diharapkan menjadi fondasi bagi para warga binaan untuk memulai lembaran hidup yang baru dan lebih baik di tengah masyarakat.(TT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *