Primitivisme Modern dalam Setelan Jas dan Debu Nikel
Oleh: JAB
Di layar televisi yang jernih, para jenderal dengan bangga memamerkan rudal hipersonik sebagai puncak pencapaian manusia. Namun, ribuan kilometer dari sana, tepatnya di Luwu Timur, seorang warga bernama si Fulan harus berjibaku dengan realitas yang kontras: menyusuri jalanan berdebu sisa lintasan truk nikel dan mencatat lubang-lubang jalan yang selalu berubah menjadi kubangan keruh tiap kali musim hujan tiba.
Dua fragmen ini tampak terpisah, namun sejatinya berakar pada satu kegagalan sistemik yang sama: sebuah peradaban yang fasih merancang kehancuran, lalu dengan tanpa dosa menamainya sebagai “kemajuan”.
Akal yang Mengasah Luka
Dunia saat ini sedang terjebak dalam apa yang bisa kita sebut sebagai primitivisme intelektual. Negara-negara adidaya menggelontorkan triliunan dolar untuk sistem pertahanan atas nama perdamaian. Namun, perdamaian macam apa yang lahir dari gudang peluru?
Di Gaza hingga Teheran, anak-anak dipaksa mengenali bunyi drone bahkan sebelum mereka mampu menghafal tabel perkalian. Ini adalah bukti bahwa akal manusia saat ini bukan lagi diasah untuk menyembuhkan atau membangun, melainkan untuk membunuh dengan cara yang lebih presisi dan “rapi”.
Ironisnya, logika perang ini merembat ke sektor domestik kita, khususnya dalam industri ekstraktif. Di Luwu Timur, bukit-bukit dikeruk, sungai berubah warna, dan warga mulai akrab dengan sesak napas. Ketika kritik terhadap dugaan pelanggaran SOP dan kejahatan lingkungan dilayangkan, respons yang diterima bukanlah perbaikan, melainkan intimidasi.
Ada anomali yang menyakitkan: izin tambang terus bertambah secara eksponensial, sementara sekolah-sekolah masih kekurangan seragam dan puskesmas kehabisan stok obat. Alokasi sumber daya kita sangat besar untuk ekstraksi dan kontrol, namun membiarkan kualitas hidup rakyatnya keropos di akar rumput.
Biaya Sosial yang Tak Terhitung
Kita gemar melabeli zaman ini dengan istilah mentereng seperti “era digital” atau “pembangunan berkelanjutan”. Namun, mari jujur: keberlanjutan macam apa yang membiarkan limbah dibuang ke sungai tempat anak-anak memancing?
Kita berbicara tentang Artificial Intelligence (AI), namun gagal menghitung biaya sosial yang nyata:
Ibu-ibu yang kehilangan ladang garapannya.
Nelayan yang pulang dengan tangan hampa karena ikan menghilang.
Siswa yang kehilangan jam belajar hanya karena gangguan debu tambang yang pekat.
Senjata di Timur Tengah dan ekskavator di Sulawesi adalah “saudara jauh”. Keduanya memiliki tujuan serupa: mengubah tanah menjadi angka di laporan keuangan dan menganggap manusia yang terdampak hanya sebagai risiko kolateral yang bisa diabaikan.
Menghilirkan Protes ke Tong Sampah
Primitivisme modern bukan berarti ketiadaan mesin. Justru, primitivisme terjadi ketika mesin semakin canggih, namun moralitas tertinggal jauh di belakang. Kita mampu meluncurkan satelit untuk memantau iklim, namun di saat yang sama membiarkan hutan lokal dibabat habis.
Pemerintah mendengungkan “hilirisasi” sebagai masa depan ekonomi bangsa. Namun, dalam praktiknya, yang terjadi justru “menghilirkan” protes warga ke tong sampah. Kita sibuk menuding negara lain bermain api di kancah geopolitik, sementara di dalam negeri, kita sendiri yang menyulut sumbu lambat melalui korupsi dan izin tambang tanpa audit transparan.
Penutup
Suatu hari nanti, ketika debu di Luwu Timur telah menimbun tumpukan arsip anggaran militer dunia, sejarah akan bertanya: bagaimana mungkin bangsa yang mampu memecah atom gagal melindungi seorang anak dari penyakit batuk akibat polusi?
Jawabannya mungkin pahit: kita terlalu sibuk merayakan kecerdasan semu. Kita lupa bahwa ukuran peradaban sejati bukanlah seberapa cepat rudal kita melesat, melainkan seberapa sanggup kita menahan diri agar rudal itu tidak perlu pernah dibuat—dan agar debu tambang tidak perlu merenggut nafas warga kita sendiri.
Penulis adalah pengamat sosial, tinggal di Malili.
(RK)











