Topikterkini.com.LOMBOK TIMUR — Dinamika politik birokrasi di Lombok Timur kembali menghangat. Nama Nurul Wathoni kembali mencuat di tengah spekulasi akan adanya rotasi jabatan strategis, khususnya posisi Sekretaris Daerah (Sekda) yang saat ini diisi oleh Juaeni Taofik.
Nurul Wathoni, yang kini fokus menjalankan tugas barunya sebagai Kepala Dinas dengan rekam jejak prestasi dan dedikasi, sebenarnya belum genap setahun menempati posisi tersebut.
Namun, isu kembalinya ia ke pusaran perebutan kursi Sekda mulai berhembus. Sejumlah kalangan menilai, jika kebutuhan organisasi menghendaki, bukan tidak mungkin kursi Kadis Dikbud kembali ditinggalkan untuk menduduki jabatan Sekda.
Di sisi lain, posisi Juaeni Taofik justru berada dalam sorotan. Ia disebut-sebut tengah “digadang” untuk mengisi posisi lebih tinggi, yakni menggantikan Haerul Warisin namun tidak logis karena jabatan bupati di pilih oleh rakyat dan masa kepemimpinan nya 5 tahun sedangkan sekda dari ASN Murni.
Wacana ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini bagian dari skenario politik yang matang, atau justru jebakan yang berpotensi memicu konflik internal?
Tarik-menarik kepentingan dalam birokrasi Lombok Timur bukan sekadar soal kompetensi, tetapi juga momentum dan konfigurasi politik.
Pergeseran posisi Sekda sering kali menjadi titik krusial yang berdampak luas terhadap stabilitas pemerintahan daerah.
“Kalau Kadis jadi Sekda, secara aturan memungkinkan. Tapi yang harus dilihat adalah konteks politik dan kebutuhan organisasi saat ini,” ujar salah satu sumber internal yang enggan disebutkan namanya.
Situasi ini memperlihatkan bahwa kursi Sekda Lombok Timur bukan sekadar jabatan administratif, melainkan posisi strategis yang selalu berada dalam bayang-bayang kepentingan politik.
Dengan dinamika yang terus bergerak, dari kalangan politik kini menunggu: apakah ini akan berujung pada rotasi biasa, atau justru membuka babak baru konflik elite daerah?.
Opini;
( TT).











