TAKALAR, Topikterkini.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Takalar mengusung pendekatan kolaboratif berbasis Heptahelix dalam program Assamaturu Bebas TBC sebagai strategi mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030.
Program yang diluncurkan di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar tersebut mempertemukan seluruh unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, tokoh agama, dan tokoh adat dalam satu gerakan bersama.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, dr. Hj. Nilal Fauziah, M.Kes, mengatakan keberhasilan pengendalian TBC tidak bisa dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.
Menurutnya, kolaborasi seluruh elemen menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini dan menyelesaikan pengobatan.
“Assamaturu berarti bergerak bersama. Filosofi ini menjadi dasar bahwa seluruh elemen masyarakat harus memiliki tanggung jawab yang sama dalam memutus rantai penularan TBC,” kata dr. Hj. Nilal Fauziah.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan estimasi kasus TBC di Takalar pada tahun 2025 mencapai 1.247 kasus dengan capaian penemuan kasus sebesar 78 persen dan keberhasilan pengobatan mencapai 89 persen.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan seperti stigma terhadap penderita, rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, hingga pasien yang menghentikan pengobatan sebelum selesai.
Melalui program Assamaturu Bebas TBC, berbagai pihak diharapkan aktif melakukan edukasi, pendampingan pasien, serta memperluas akses informasi mengenai bahaya dan pencegahan TBC.
Sebagai bagian dari gerakan tersebut, sebanyak 110 Duta Assamaturu Bebas TBC telah dikukuhkan untuk menjadi penggerak di desa dan kelurahan.
Pemerintah Kabupaten Takalar juga membentuk Pos TBC Desa di seluruh desa dan kelurahan sebagai pusat pelayanan skrining, edukasi, pendampingan, serta pelaporan kasus secara cepat.
“Target Takalar Bebas TBC Tahun 2030 hanya dapat dicapai melalui kolaborasi, gotong royong, dan kepedulian seluruh masyarakat,” tutup dr. Hj. Nilal Fauziah. (*)











