Topikterkini.com.Donggala – Puluhan hingga ratusan warga Desa Loli Oge, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, mendatangi kantor desa pada Selasa (2/12/2025) untuk menyampaikan protes keras terkait munculnya aktivitas tambang galian C baru di wilayah mereka.
Salah satu warga, Tezar, menjelaskan bahwa sejak sebelum Lebaran, masyarakat sudah melakukan penolakan terhadap rencana masuknya perusahaan galian C. Bahkan, hal itu telah dibahas dalam rapat resmi bersama Ketua Komite dan Kepala Desa Loli Oge, Gatot.
“Aspirasi masyarakat sudah jelas, sejak awal sudah ada sosialisasi penolakan galian C. Sudah disepakati dan disahkan bahwa jika ada perusahaan baru yang masuk, harus ditolak,” ujar Tezar.
Namun, warga mengaku terkejut karena kini muncul perusahaan galian C baru yang justru mendapat izin masuk dari kepala desa.
“Kami heran, kenapa tiba-tiba ada tambang baru. Ujung-ujungnya kepala desa malah mengizinkan perusahaan itu masuk,” tegasnya.
Tezar juga menyebut warga tidak mengetahui apa alasan perubahan keputusan tersebut.
“Apakah ada sogokan atau kepentingan lain, kami tidak tahu. Yang jelas kami kecewa. Karena itu ratusan warga turun mendatangi kantor desa untuk menyampaikan aspirasi,” tambahnya.
Menurut warga, perusahaan tersebut diduga sudah melakukan pembebasan lahan sehingga memungkinkan mereka masuk ke wilayah desa. Kondisi ini membuat masyarakat yang tinggal di sekitar jalan menuju lokasi tambang merasa terancam.
“Rumah kami tidak jauh dari lokasi perusahaan. Jika aktivitas mereka berlanjut, rumah-rumah kami bisa digusur untuk akses jalan menuju dermaga,” ungkapnya.
Selain ancaman penggusuran, warga juga menyoroti dampak lingkungan yang berpotensi terjadi.
“Kalau perusahaan galian C ini benar-benar beroperasi, pasti akan terjadi banjir. Di Loli Raya ini sudah sering banjir karena terlalu banyak galian C,” ujarnya.
Warga menuntut Kepala Desa Loli Oge untuk menepati janjinya saat sosialisasi awal, bahwa tidak ada lagi perusahaan galian C baru yang boleh masuk ke wilayah tersebut.
“Kesepakatan sudah jelas: perusahaan baru harus ditolak. Kami tidak mau alasan apa pun lagi. Loli Oge sudah cukup dengan perusahaan-perusahaan sebelumnya dan dampaknya sudah kami rasakan,” tutup Tezar.
(Alir)











