TOPIKterkini.com – KENDARI | Suasana warung kopi (warkop) di Jalan Made Sabara, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, sore hari Sabtu (4/7) jelang Magrib yang cukup riuh dengan suara musik dan obrolan pengunjung lain. Namun, di meja pojok dekat parkiran kendaraan, ada ketenangan yang berbeda. Seorang jurnalis duduk berhadapan dengan seorang pria tunawicara. Di antara mereka, dua cangkir kopi hitam masih mengepulkan asap tipis.
Komunikasi tersebut tidak menggunakan suara, melainkan lewat kelincahan jari, ekspresi wajah, dan tatapan mata yang hangat.
Awal Percakapan: Membuka Ruang
Sang jurnalis memulai dengan senyuman ramah. Tangannya bergerak membentuk isyarat “Halo” (melambaikan tangan datar di dekat pelipis seperti hormat santai), diikuti dengan gerakan tangan kanan menyentuh dada, lalu mengarah ke depan—isyarat untuk “Saya Wartawan”.
Pria tunawicara itu tersenyum lebar. Matanya berbinar. Ia membalas dengan gerakan tangan yang cepat namun tegas. Tangan kanannya membentuk huruf bertumpuk di dada, lalu bergerak keluar—isyarat “Okey dan terima kasih”.
Ia kemudian menunjuk cangkir kopi di depan sang jurnalis, lalu mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. “kopinya enak, kan?” begitu kira-kira arti dari gestur dan kerlingan matanya.
Sang jurnalis terkekeh tanpa suara, mengangguk cepat, dan membalas dengan mengacungkan jempolnya juga. “Mantap,” isyaratnya.
Wawancara yang Mengalir Digital dan Visual
Masuk ke inti obrolan, sang wartawan sesekali menggunakan ponselnya untuk mengetik pertanyaan panjang agar tidak ada salah paham, lalu menunjukkannya. Dan mencoba sekreatif mungkin dengan bahasa isyarat yang diajukan.
Wartawan: (Menyilangkan kedua telunjuk membentuk huruf ‘X’, lalu menggerakkan tangan seolah membuka buku).
Narasumber/Tunawicara: Wajahnya langsung berubah serius namun antusias. Tangannya mulai “berbicara” dengan ritme yang cepat. Ia memperagakan gerakan tangan seperti sekelompok orang yang saling merangkul, lalu tangan yang bergerak naik ke atas sebagai simbol isyarat.
Setiap kali sang wartawan berhasil menangkap poin isyaratnya, ia akan mengangguk kuat-kuat sambil memicingkan mata (ekspresi “Ah, saya paham!”). Sebaliknya, jika ada isyarat yang terlalu rumit, pria tunawicara itu dengan sabar mengulanginya lebih lambat, bahkan terkadang sambil mengeja hurufnya satu per satu menggunakan isyarat alfabet.
Kehangatan di Balik Sunyi
Di sela-sela komunikasi itu, mereka beristirahat sejenak. Sang jurnalis mengangkat cangkir kopinya, mengarahkannya ke sang tunawicara sebagai ajakan “tos“. Kedua cangkir kaca itu berdenting pelan.
”Bahasa isyarat bukan cuma soal tangan yang bergerak. Di warkop itu, lewat kerutan dahi saat bercerita tentang diskriminasi, dan senyum lebar saat membahas harapan, sang jurnalis sadar bahwa ia sedang mendengarkan salah satu cerita paling lantang yang pernah ia temui—tanpa perlu ada satu pun kata yang terucap.”
Sebelum berpisah, sang wartawan menguncupkan tangan kanannya di depan mulut, lalu menggerakkannya ke depan sambil membuka telapak tangan ke arah tunawicara.
“Terima kasih,” isyarat sang wartawan.
Seorang tunawicara menepuk pundak sang jurnalis dengan hangat, melambaikan tangan, dan tersenyum tulus. Warkop tetap bising, tapi di meja itu, sebuah jembatan pemahaman baru saja selesai dibangun.











