OPINI

Akankah Resesi 2023 Kembali Melanda Perekonomian Indonesia?

235
×

Akankah Resesi 2023 Kembali Melanda Perekonomian Indonesia?

Sebarkan artikel ini
Akankah Resesi 2023 Kembali Melanda Perekonomian Indonesia?

Akankah Resesi 2023 Kembali Melanda Perekonomian Indonesia?

Oleh: Nurul Hikma
Jurusan Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Peringatan dini terhadap potensi resesi ekonomi global tahun 2023 mulai digaungkan berbagai institusi finansial global seperti International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia. Resesi dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk yang terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut .

Krisis ekonomi yang sudah terjadi di beberapa negara saat ini menjadi indikasi nyata terhadap kemunculan resesi tersebut. Bahkan, firma riset investasi Ned Davis

Research memprediksi bahwa terdapat 98,1% kemungkinan resesi terjadi tahun depan. Melihat apa yang diprediksi akan terjadi pada resesi 2023, memang menghadirkan ketakutan yang bahkan bisa membuat diri sendiri khawatir bagaimana kekuatan ekonomi pribadi tahun depan. Apakah masih bekerja? Apakah masih bisa menafkahi keluarga? Apakah masih bisa mendapatkan pekerjaan?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berulang kali menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Hal ini tercermin dari adanya ancaman resesi ekonomi yang menjadi hantu menyeramkan bagi seluruh negara di dunia, tak terkecuali buat Indonesia.

Tidak hanya itu, inflasi yang tinggi, pengetatan likuiditas, hingga konflik geopolitik Ukraina dan Rusia membuat ekonomi dunia kian terjerumus dalam jurang kehancuran. Namun, Indonesia tampaknya harus sedikit lega karena IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh hingga 5,3% tahun ini dan 5% pada 2023.

Namun, apakah angka tersebut hanya prediksi semata? Beberapa data menunjukkan fakta yang berbalik atas prospek ekonomi Indonesia yang belakangan cukup bergantung pada ledakan harga komoditas utama, seperti batubara, minyak kelapa sawit, timah, nikel dan gas alam lainnya.

Apalagi, permintaan dunia yang juga turun akibat ketidakpastian yang disebut banyak pejabat pemerintah sebagai akibat dari the perfect storm membuat sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2023 berada pada kisaran 2,3%-2,9%. Turun dari estimasi tahun ini, di kisaran 2,8%-3,2%. Nah, kira-kira faktor apa saja, ya, yang menjadi penyebab resesi ekonomi global 2023 dan seberapa besar potensi kemunculannya di Indonesia?
Inflasi yang sangat tinggi
Tingginya inflasi di banyak negara saat ini disebabkan oleh minimnya suplai barang untuk mencukupi jumlah permintaan yang meningkat, terlebih di tengah perang Rusia-Ukraina. Disrupsi yang ditimbulkan Perang Rusia-Ukraina berdampak negatif terhadap kestabilan pasokan energi dan suplai bahan makanan secara global.

Akibatnya, perang tersebut memicu lonjakan harga barang dan energi yang semakin menipis serta mendorong inflasi terus naik. Menanggapi hal ini, Ekonom Interim OECD Alvaro

Pereira menyampaikan bahwa kenaikan signifikan harga bahan makanan dan energi saat ini adalah biaya yang harus dibayar oleh masyarakat dunia akibat Perang Rusia-Ukraina.

Kenaikan suku bunga di banyak negara
Secara sederhana, tingkat suku bunga merupakan besaran bunga yang ditetapkan setiap bulan oleh bank sentral negara untuk dijadikan acuan berbagai produk pinjaman bank dan lembaga keuangan lainnya. Guna menahan laju inflasi, bank sentral perlu menaikkan tingkat suku bunga sehingga pinjaman dan kemauan belanja dari masyarakat berkurang.

Dimana Solow menganggap bahwa tingkat suku bunga dapat berubah atau tidak konstan. Sehingga dengan perubahan pada suku bunga ini, akan mempengaruhi pergerakan pada tabungan dan investasi di masyarakat.

Teori yang dikembangkan oleh Solow dapat menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi pada negara berkembang.

Saat ini memang cukup banyak influencer finance dan investasi yang membuat video tentang apa yang terjadi pada resesi 2023. Sayangnya, hal tersebut terkesan berlebihan.

Bukannya memberikan solusi, tapi malah menyebar ketakutan atau fear mongering. Fear mongering adalah usaha yang dilakukan untuk menyebar rumor atau isu yang menakutkan dengan cara yang membuat orang lain juga takut. Tujuan utama dari fear mongering yaitu untuk memengaruhi publik beserta pendapatnya dengan hasil akhir yang diinginkan.

Melihat penjelasan fear mongering secara garis besar, maka apa yang dilakukan oleh para influencer finance dan investasi bisa disebut sebagai cara yang sama. Mereka membuat masyarakat merasa tidak percaya diri untuk melangkah maju ke tahun 2023. Dengan menggunakan diksi-diksi seperti, ‘tahun gelap’, atau ‘bencana ekonomi’.

Seperti yang sudah dijelaskan dari pihak pemerintah sendiri, resesi 2023 sudah pasti datang.

Tapi bukan berarti kita malah takut untuk menyongsong 2023. Harusnya dengan peringatan yang diberikan, kita sebagai masyarakat mulai mencari solusi terbaik agar resesi 2023 tidak terlalu terasa di Indonesia. Salah satunya dengan jangan boros, tapi juga jangan pelit. Daya beli masyarakat harus tetap dijaga agar roda ekonomi Indonesia juga tetap berjalan.

Jika daya beli masyarakat dipengaruhi sehingga turun hanya karena ‘takut resesi’, malah resesi ekonomi dunia bakal menghajar kita lebih keras lagi. Kita sebagai pihak yang memiliki penghasilan bulanan, dituntut agar lebih bijak dalam menggunakan uang, tapi bukan berarti jadi foya-foya. maka masalah ekonomi dunia masih bisa dihadapi bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *