oleh

Pers Indonesia adalah alat Perjuangan Bangsa

Oleh: Andi. Abd. Wahab MG Kr. Butung
Pemimpin Umum/Redaksi Topikterkini.com

“There are only two things, which can thorow light upon things here on earth. Two things, one is the sun in heaven, and the second one is the press on earth”. (MarkTwain).

Jika diperhatikan ucapan Mark Twain di atas, seorang penulis Amerika yang termasyhur, maka hanya ada dua hal yang dapat membuat segala sesuatu terang dimuka bumi ini. Yang pertama, adalah matahari dilangit dan yang kedua ialah pers di dunia ini. Betapa mulia dan pentingnya kedudukan serta fungsi pers dalam masyarakat.

Bagai mana pula sistem dan fungsi pers di Indonesia? Walaupun dalam UUD 1945 tidak dimuat secara khusus suatu pasal tentang sistem dan fungsi pers kita, namun bagi kita sudah cukup jelas, bahwa pers Indonesia adalah alat perjuangan bangsa. Alat yang dalam rangka total mempunyai tanggung jawab besar.

Seperti halnya dengan cita cita bangsa dan Negara Indonesia, yaitu untuk mencapai suatu masyarakat adil makmur spirituil materil, maka juga pers Indonesia merupakan alat untuk mencapai cita cita itu. Dalam sejarah dan perkembangannya, sejak zaman penjajahan Belanda, memang pers Indonesia (nasional), turut bangun dan jatuh dengan pergerakan nasional kita.

Dan sejak kita memperoleh pengakuan dunia internasional setelah perjuangan dan pengorbanan yang maha berat sebagai bangsa/negara yang merdeka dan berdaulat penuh, maka lapangan perjuangan pers kitapun bertambah luas, karena harus seirama dengan cita cita bangsa kita, yakni:

  1. Mewujudkan suatu kehidupan yang demokratis berdasarkan Pancasila.
  2. Mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur materil, spirituil dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  3. Mewujudkan persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, terutama sekali dengan negara-negara ASEAN, atas dasar hormat menghormati satu sama lain, dan atas dasar kerja sama membentuk suatu dunia yang bersih dari penindasan dan penjajahan menuju kepada perdamaian dunia yang sempurna, Agaknya dengan adanya pegangan bagi pers kita seperti diuraikan diatas, jelaslah bahwa pers Indonesia harus merupakan alat perjuangan bangsa yang dapat menjamin kenerdekaan nasional yang bukan merupakan kata-kata kosong belaka, tetapi kemerdekaan nasional yang meliputi “the freedom to be free” agar kita dapat menentukan sendiri struktur kemasyarakatan yang paling cocok bagi kita, disamping mencerminkan jeritan untuk keadilan sosial, jeritan untuk perdamaian abadi yang bersumber sangat dalam di semua hati manusia.

Dari uraian-uraian terdahulu dapatlah dilihat, betapa pentingnya kedudukan pers di negara kita, terutama dalam masa pembangunan sekarang ini, dan dimana kita sedang menuju suatu masyarakat Pancasila, masyarakat yang adil dan makmur. Adil dalam pengertian dapat memenuhi kepuasan mental bangsa kita, dan makmur dalam pengertian dapat memenuhi kebutuhan materil bangsa kita.

Tanggung jawab yang terletak pada bahu pers kita, agaknya tidaklah kurang beratnya dengan tanggung jawab yang dipikul pemerintah. Karenanya, adalah layak apabila pers dan pemerintah saling membantu, saling mengisi kekurangan masing-masing, sehingga terciptalah suatu masyarakat yang penuh memiliki kesadaran dan kemampuan membanding, guna mewujudkan cita-cita nasional kita.

Jadi jelaslah, bahwa pers kita harus memperjuangkan cita-cita bangsa Indonesia, malahan juga cita-cita umat manusia. Sebagai alat, pers Indonesia hendaknya merupakan alat yang tidak mengenal kompromi dengan sistem yang bertentangan dengan cita-cita nasional kita, tetapi semata mata alat yang membela tujuan dari cita-cita tadi.

Bagi pers Indonesia, hendaknya “freedom of the press” diabdikan kepada pelaksanaan cita-cita nasional kita. Bagi pers Indonesia, “freedom of the press” hendaknya dipakai untuk melenyapkan ketidak adilan dan sebagai alat untuk mendidik massa dan alat perjuangan yang penting baik untuk masyarakat Indonesia sendiri, maupun bagi masyarakat dunia umumnya.

Pers Indonesia sebagai senjata mental bagi bangsa dan negara Indonesia, harus semakin lama menjadi senjata yang semakin tajam, agar semakin cepat jalannya pembangunan kita ke arah tujuannya yang terakhir.

Semakin tajamnya pers Indonesia sebagai alat pembangunan, semakin lancarlah jalannya pembangunan kita dan dengan sendirinya semakin cepat pulalah tercapainya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dan juga semakin cepat terwujudnya suatu dunia adil makmur dan damai atas dasar persahabatan seluruh umat manusia.

Jika pers Indonesia sudah sampai pada taraf ini, setelah mengatasi kekurangan kekurangan yang dewasa ini masih melekat pada dirinya, maka tunggulah tepat apa yang dikemukakan oleh Mark Tawon, bahwa selain matahari dilangit, hanya pers lah yang dapat menerangi dunia kita ini.

Sebagaimana GBHN mengisyaratkan, antara Pemerintah, Pers dan Masyarajat, terjalin intetaksi positif, yakni interaksi antara Pemerintah, Pers dan Masyarakat. Ini berarti bahwa pers adalah partner pemerintah dalam mensejahtrahkan masyarakat dan mengsukseskan program pembangunan yang ada.

Begitu pula pemerintah menyalurkan pesan pesannya lewat pers pada Rakyat. Dan rakyat pun menyalurkan aspirasinya lewat pers. Maka terjadilah interaksi positif. Sistem interaksi positif ini, hanya ada di Indonesia. Terutama dengan berlakunya Undang Undang Pokok Pers Nomor 40 sekarang ini, maka tatanan interaksi positif semakin perlu diterapkan. Sebagai jembatan menuju persatuan dan kesatuan bangsa.

Pers tanpa melakukan sosial kontrol, maka pers tak ada gunanya. Tetapi hendaknyalah sosial kontrol yang disertai solusi atau saran perbaikan. Karena tujuan pers membuat berita bukan untuk merusak, tetapi demi perbaikan. Untuk kepentingan umum dan kebersamaan. Namun diatas segalanya, adalah amat perlu: Wartawan berakhlak, bermoral dan berhati nurani.

Oleh: Andi. Abd. Wahab MG Kr. Butung

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed