oleh

MAKASSAR, METROPOLITAN & GALERI MUSEUM

MAKASSAR, METROPOLITAN & GALERI-MUSEUM

Oleh: Halim HD
Budayawan Indonesia

Satu setengah dekade terakhir dari satu walkot ke walkot lainnya, kita dengar semburan pernyataan yang nampaknya berusaha untuk membesarkan diri, sejenis meyakin yakinkan pikirannya sendiri melalui pernyataan tentang status kota Makassar sebagai kota metropolitan.

Saya kurang tahu pasti, apa sesungguhnya makna ungkapan pernyataan itu dalam konteks kehidupan masyarakat, dan apa pula kriteria, ukuran yang ingin disampaikan jika sebutan itu ditabalkan u kota Makassar.

Saya juga memang mendengar, walaupun itu terasa ironis, ada kriteria yang coba disorongkan sebagai penanda bahwa Makassar sebagai kota metropolitan: sejumlah mall.

Dari semburan pernyataan tentang kota metropolitan, Makassar juga digelembungkan dengan sebutan Kota Dunia.

Lagi lagi saya cuma bisa geleng geleng kepala: para pengelola kota ini nampak kian merasuki kondisi megalomanian.
Metropolitan dan Kota Dunia yang ditabalkan sesunggguhnya bukankah hal yang mustahil.

Tapi hil yang mustahal bisa terjadi jika pernyataan pengelola kota hanya mengandalkan hanya satu-dua elemen, yang itupun justeru bisa menjadi bumerang n ironi sejarah, misalnya tentang mall, ditambah dgn bandara serta hotel hotel yang menjulang n bermunculan.

Beberapa pertemuan saya dgn rekan rekan yg paham tentang sejarah kota, mereka menyatakan banyak kesalahkaprahan dari pihak pengelola kota tentang sebutan itu.

Apalagi, kata mereka, mall dijadikan elemen andalan sementara di negeri negeri industri mall sudah banyak ditinggalkan, n bahkan banyak yang runtuh akibat ekonomi on line.

Dalam berbagai obrolan, saya punya kesan, n saya bersepakat dgn mereka, bahwa jika suatu kota ingin dianggap sebagai Kota Dunia n metropolitan, sesungguhnya hal utama adalah tata ruang yang berkaitan dengan sistem transportasi dan ruang publik.

Pada elemen ruang publik ini sangat kuat kaitannya dgn tata cara kehidupan senibudaya.

Sebuah kota hanya dianggap memiliki citra n ciri dgn predikat culturalized, budayawi jika kota itu memiliki standard ruang publik seni.

Berkaitan dgn hal itulah kita mestinya tidak dgn gampang menyemburkan pernyataan n menepuk diri jika elemen utama tata ruang publik seni budaya belum terpenuhi.

Sebab, pandangan n sikap masyarakat internasional akan bisa mencibir kepada kita jika penabalan itu jauh dari persyaratan utama, bahkan masih jauh dari hal hal yang paling elementer, misalnya, jika Makassar sebagai kota metropolitan dan Kota Dunia, adakah galeri senirupa n musium yang memiliki standard internasional?

Mengenal Makassar sejak tahun 1970an dalam konteks kehidupan senibudaya, rasanya saya belum pernah melihat dan memasuki suatu galeri yang benar benar memiliki standard.

Bahkan yang lumayanpun tidak saya temukan, demikian juga musium, apalagi gedung seni pertunjukan.

Yang membuat saya justeru terpukau adalah tentang dinamika senibudaya yang terus membuncah diantara keterbatasan fasilitas yang ada.

Tentu saja karena keterbatasan fasilitas n politik kebudayaan yang tidak jelas, kondisi itu bisa membuat buncahan enerji senibudaya menjadi menyurut, n lama kelamaan sirna.

Saya teringat ungkapan Prof. Dr. Karta, dosen UNM, beberapa tahun yang lalu menyatakan, jangan menepuk n menyebut diri Makassar sebagai metropolitan dan Kota Dunia, jika tidak memiliki galeri n musium yang berstandard internasional.

Saya sependapat dgn beliau, dan pernyataan itu adalah isyarat tentang pentingnya berpikir secara mendalam n argumentatif, sebelum menabalkan diri dgn dasar kesadaran kepada pemahaman sejarah.

Penulis: Halim HD

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed