oleh

QUO VADIS INTELEKTUAL & AKADEMISI ?

Oleh: Halim HD

Dua dekade pembangunan infrastruktur di Sulsel telah menyulap suatu tata ruang kota dan daerah yang nampak gemerlap, megah.

Terasa kota menciptakan dorongan cita rasa yang membuncah dengan gaya hidup yang kelimis, wangi, bersih, senyum merekah di ruang ruang sejuk ber-ac, di antara denting gelas dan piring.

Terasa juga hidup penuh dengan seremoni sosial yang menampilkan kostum dan percakapan yang seolah olah penuh dengan harapan. Yaa, harapan.

Atau yang lebih agak pasti: berusaha menenteramkan kegelisahan, yang makin tak jelas arahnya.

Ada suatu saat, suatu waktu di mana kota yang memang butuh gaya hidup bukan hanya dalam kostum.

Tapi juga kota menciptakan ruang percakapan, dialog, dan tentu perbincangan kritis tentang perasaan dan pikiran yang pada satu sisi merasakan nikmat dari produk kapitalisme, dan disisi lain bergelayut rasa bersalah: di sana, di pojok sana, ada orang orang yang tak nikmat hidupnya namun terus bergulir juga dengan gumpalan harapan dan kegelisahan untuk sesuap nasi, rekening listrik, biaya dapur yang ala kadarnya.

Harapan dan kegelisahan bisa sama dalam bunyi kata, namun berbeda dalam makna bagi sekelompok orang.

Di suatu kota di mana ruang pendidikan menjadi ukuran, di situ pula, konon dahulu kala, kota menjadi ruang perbincangan tentang makna hidup, tujuan dan arah hidup bersama.

Tapi, adakah kota kini masih merekam hal itu, atau menyediakan ruang bagi kaum terdidik dan terpelajar yang memperbincangkan dan memperdebatkan arah kehidupan?

Konon kesenian juga ikut serta dalam keprihatinan zaman karena kaum terdidik san terpelajar sangat dekat dengan khasanah permenungan hidup yang disampaikan oleh kesenian.

Namun, kenapa pula kota kini terasa seperti ruang ruang yang tersekat dengan dinding yang kokoh, namun bisa saling pandang: akuarium ruang kehidupan kota menjadi sesuatu yang begitu kuat memisahkan orang satu dengan orang lainnya.

Apakah hal itu juga telah dialami oleh kaum terdidik dan terpelajar yang disebut intelektual? Saya tak tahu pasti jawabannya. Namun yang bisa saya rasakan, makin derasnya arus politik kekuasaan yang kian merenggut sanubari kaum terdidik-terpelajar.

Salah satunya proses profesionalisasi membuat kaum terdidik-terpelajar masuk ke dalam ruang ruang kekuasaan. Politik menjadi sejenis magnit yang menarik siapa saja untuk menekuk lutut dan lidahnya: suara suara kian lindap, dan hanya deru slogan dan iklan yang berseru, bergema ke sudut sudut kota.
Suatu hari, suatu saat yang lampau yang penuh debat tentang makna arah kehidupan, kini terasa seperti sejenis kostum yang dilirik dengan sinis. Dan kesenian kian terpojok oleh arus kuasa yang tak lagi memperhitungkan arah makna kehidupan.

Hal ini karena bukan hanya kaum seniman yang goyah dan goncang oleh godaan kuasa, tapi juga oleh lintang pukangnya kaum intelektual yang menanggalkan tugas utamanya: mendampingi kursi kekuasaan sebagai bagian dari praktek profesionalisme yang mengusung kepentingan bagi mereka yang dianggap sahih mengelola kota.

Penulis: Halim HD.

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed