oleh

Terasing di Negeri Mutiara, stigma dan Diskriminasi Terhadap Korban Covid-19

Terasing di Negeri Mutiara, stigma dan Diskriminasi Terhadap Korban Covid-19

Oleh: Haerullah Lodji

Alhamdulillah, tak ada yang patut dirayakan kecuali rasa syukur yang dalam atas karunia kesempatan kembali ke rumah bersama keluarga dengan kondisi sehat bugar setelah menjalani Isolasi Mandiri (ISMAN) akibat terpapar Covid-19, sungguh bukan hal yang menyenangkan terpapar virus corona yang melanda hampir seluruh belahan bumi tak terkecuali Bumi turatea dan terkhusus lagi negeri Mutiara dimana kami bermukim bersama keluarga.

selama menjalani Isolasi Mandiri (ISMAN), saya mendapat banyak dukungan, semangat, doa, empati, salurannya lewat barmacam-macam baik itu melalui whatsapp, telepon, ataupun berupa kiriman suplement.

Tidak sedikit kesedihan dikala keluarga, sahabat dan orang-orang terkasih berkomunikasi melaliu telpon, dan whatsapp, bagi saya ini adalah suplement sesungguhnya untuk segera sembuh dan sesegera mungkin bertemu dengan mereka.

Dihari-hari terakhir saat Isman, kami mendapat edukasi dari pihak pembina, beberapa materi yang disampaikan adalah  stigma dan diskriminalisasi serta duta covid pasca isolasi mandiri.

Disaat kami menerima materi terasa biasa saja tak ada yang perlu dikhawatirkan toh saat-saat karantina hampir semua memberi semangat dan signal tak akan ada perlakuan “aneh” maksudnya ketakutan, menjauhi, menyalahkan, bahkan mengucilkan sebagaimana yang sampaikan pembina saat materi edukasi kepada saya setelah kembali ke rumah dan masyarakat, sekalipun ada juga yang tidak bertanya kabar selama menjalani isolasi mandiri. Tapi saya pikir itu karena sahabat, teman, keluarga atau tetangga tidak mengetahuinya.

Berikut saya akan coba menggambarkan pengertian stigma dan diskriminalisasi terhadap korban covid-19. Stigma dan diskriminalisasi adalah munculnya satu fenomena sosial yang berpotensi memperparah situasi, yakni asosiasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Mereka diberikan label, stereotip, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, dan/atau mengalami pelecehan status karena terasosiasi dengan sebuah penyakit.

Sebagai penyakit baru, banyak yang belum diketahui tentang  Covud-19. Terlebih manusia cenderung takut pada sesuatu yang belum diketahui dan lebih mudah menghubungkan rasa takut pada “kelompok yang berbeda/lain”. Inilah yang menyebabkan munculnya stigma sosial dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu dan juga orang yang dianggap mempunyai hubungan dengan virus ini.

Perasaan bingung, cemas, dan takut yang kita rasakan dapat dipahami, tapi bukan berarti kita boleh berprasangka buruk pada penderita, perawat, keluarga, ataupun mereka yang tidak sakit tapi memiliki gejala yang mirip dengan Covid19. Jika terus terpelihara di masyarakat, stigma sosial dapat membuat orang-orang menyembunyikan sakitnya supaya tidak didiskriminasi, mencegah mereka mencari bantuan kesehatan dengan segera, dan membuat mereka tidak menjalankan perilaku hidup yang sehat.

Daripada menunjukkan stigma sosial, alangkah lebih bijak jika kita berkontribusi secara sosial, yaitu dengan:
1) Membangun rasa percaya pada layanan dan saran kesehatan yang bisa diandalkan;
2) Menunjukkan empati terhadap mereka yang terdampak;
3) Memahami wabah itu sendiri; dan,
4) Melakukan upaya yang praktis dan efektif sehingga orang bisa menjaga keselamatan diri dan orang yang mereka cintai.

Pemerintah, warga negara, media, influencer dan komunitas memiliki peran penting dalam mencegah dan menghentikan stigma di sekitar kita.

Kita semua harus berhati-hati dan bijaksana ketika berkomunikasi di media sosial dan wadah komunikasi lainnya. Misalnya, para keluarga, sahabat, tetangga dan tokoh masyarakat dapat memperkuat pesan yang mengurangi stigma, mengundang khalayak untuk merenung dan berempati pada orang-orang yang terstigma, dan mengumpulkan gagasan untuk mendukung mereka. Yang paling penting untuk dilakukan adalah penyebaran informasi yang akurat dan sesuai dengan komunitas tentang daerah yang terkena, kerentanan individu dan kelompok terhadap Covid-19, opsi perawatan, dan di mana masyarakat dapat mengakses perawatan dan informasi kesehatan. Gunakan bahasa sederhana dan hindari istilah klinis.
Para jurnalis hendaknya menerapkan jurnalisme beretika. Pelaporan jurnalistik yang terlalu fokus pada tanggung jawab pasien karena mengidap dan “menyebarkan Covid-19” dapat memperburuk stigma. Sebagai gantinya, media massa bisa mempromosikan konten seputar praktik pencegahan infeksi dasar, gejala Covid-19, dan kapan harus mencari perawatan kesehatan. Hal ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan bukannya menebar kepanikan yang tidak perlu. Selain itu, untuk meredam kegelisahan sosial, jurnalis juga dapat meliput orang-orang yang telah pulih dari Covid-19 serta para“pahlawan” untuk menghormati tenaga kesehatan dan komunitas relawan yang berperan, baik sebagai seorang individu yang bermasyarakat.

Mungkin demikian sedikit pengertian dan pandangan saya mengenai stigma dan diskriminasi korban covid-19 dan bagaimana cara kita hendaknya bersikap. Selanjutnya saya akan berbagi pengalaman yang menurutku ini adalah bagian ketika saya mendapatkan stigma dan diskriminasi karena korban covid-19.

Hal ini dimulai ketika saya keluar dari Hotel Imawan, tempat menjalani ISMAN selama 10 hari, dijemput oleh kak Ida, kakak ipar, bersama Dg Tengang. Tentu saja tak ada salam-salaman apalagi cipika cipiki. Tapi tergambar rasa syukur dan kegembiraan atas karunia kesembuhan ini, saya mendapatkan surat keterangan sehat yang ditanda tangan dokter beserta kadis kesehatan Propinsi Sul-sel dan saya juga mendapatkan Sertifikat Duta Covid yang ditandatangani oleh Gubernur Sul-sel.

Selama perjalanan dari Hotel ke rumah, ucapan syukur dan selamat tak henti-hentinya masuk melalui  whatsapp, baik secara pribadi maupun grup dari keluarga. Sesampai di rumah saya mendapatkan sambut oleh Istri, anak-anak dan budir andalan Kak Ani lengkap dengan kue yg bertulis “untuk paman yg hebat sekunci kunci dunia tetap sehat, dari pattiro jeka”. Keharuan seketika pecah dan sekali lagi saya mengucapkan terimakasih kasih yang tak terhingga kepada keluarga, sahabat dan orang-orang terkasih.

Beberapa hari saya dirumah, beberapa keluarga dan teman izin silaturahmi kerumah saya pun iyakan dengan catatan tetap patuh pada protokol kesehatan, tetapi sepertinya Stigma & Diskriminalisasi itu benar-benar ada, saya kehilangan keramahan, tegur sapa tetangga-tetangga, dan beberapa pihak yang saya bayangkan akan heboh saat mereka tau say sudah ada di rumah. Tetapi saya tak lantas menyalahkan mereka apalagi kecewa dan marah, saya baru sadar bahwa, ternyata betul apa yang dikatakan pembina, babak baru akan dimulai saat anda berada dirumah dan kembali kepada masyarakat, ada ketakutan, kehkawatiran, bahkan menyalahkan kepada penyandang kasus corona. Saya pun menjadi sangat bingung, bagaimana saya harus bersikap, bagaimana saya akan memulai bertegur sapa, memulai berjamaah dimasjid, memulai berinteraksi dengan lingkungan sosial, hingga saat ini saya masih tetap dirumah bersama keluarga sesekali mendapat chat dari keluarga dan teman dan tentu saja kiriman suplemen dari orang-orang terkasih.
Itulah sedikit gambaran bagaimana proses stigma dan diskriminasi yang saya alami.
salam

Komentar

News Feed