oleh

Sekolah “LUMBUNG” Dalam Film Selimut Kabut RONGKONG

SEKOLAH “LUMBUNG” DALAM FILM SELIMUT KABUT RONGKONG

Oleh : Indra

Pendidikan di negeri ini merupakan salah satu persoalan pelik yang sampai saat ini belum menemukan polanya yang ideal, Apalagi jika terkait pengetahuan umum yang mengandung muatan lokal, sama sekali tidak ada kurikulumnya.

Tidak heran jika hampir semua sekolah mengabaikan hal tersebut. Bangsa ini sedang berproses menuju krisis identitas kultur yang memprihatinkan.

Sekolah "LUMBUNG" Dalam Film Selimut Kabut RONGKONGDi tengah pusaran pengaruh hegemoni global tersebut, fenomena yang terjadi juga telah membuat lembaga pendidikan kehilangan ruang gerak.

Selain itu juga membuat semakin menipisnya pemahaman peserta didik tentang sejarah lokal serta tradisi budaya yang ada dalam masyarakat.

Dalam film Selimut Kabut Rongkong, terdapat sebuah sekolah sosial yang disebut sekolah lumbung.

Lokasi sekolah lumbung terletak di kawasan wisata lokal pinggiran dusun Salurante. Tempatnya berupa teras yang berada diatas tebing dengan pemandangan terbuka yang menampilkan hamparan sawah.

Sekolah "LUMBUNG" Dalam Film Selimut Kabut RONGKONGHutan dan pegunungan berkabut. Disitu terdapat 6 lumbung kayu yang sudah tua namun masih layak ditempati.

Lumbung itu setiap waktu digunakan warga Salurante untuk berkumpul dan bercengkrama terutama disaat cuaca cerah.

Beberapa adegan dalam film menampilkan anak-anak desa bermain dan belajar dengan bebas di sekolah lumbung. Disitu mereka diarahkan beradegan belajar menenun, memintal benang dan tarian lokal Rongkong.

Mereka belajar untuk mengenal lingkungan dan tradisi daerahnya dimana pengetahuan itu tidak didapatkan disekolahnya.

Sekolah lumbung dalam film Selimut Kabut Rongkong adalah bentuk kritikan terhadap standar kurikulum sekolah yang selama ini telah mengabaikan mata pelajaran muatan lokal.

Akibat pengabaian itu, anak-anak sekolah kehilangan sumber untuk lebih mengenal kebudayaan daerahnya sendiri. Filosofi “lumbung” adalah tempat menyimpan bahan makanan agar tidak rusak dan bertujuan memenuhi kebutuhan dimasa paceklik.

Maka sekolah lumbung bermakna menyimpan pengetahuan untuk membuat manusia lebih berguna dan bermanfaat.

Pendidikan yang berbasis pada local wisdom (kearifan lokal) seyogyanya tidak bisa dihilangkan dalam kurikulum sekolah kita.

Pengetahuan dasar terkait nilai-nilai tradisi dan budaya lokal adalah manifestasi untuk menciptakan manusia Indonesia yang unggul.

Manusia yang unggul adalah ketika ia mampu melestarikan dan mengimplementasikan nilai-nilai budaya warisan leluhurnya.

Dalma konteks berupaya itu, film Selimut Kabut Rongkong berusaha untuk mengajak kita memahami hal tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed