oleh

SERI NGOBROL  (SN) #5 LAPAKKSS IYA MU TO

TOPIKTERKINI.COM – MAKASSAR : Seri Ngobrol 5 Lembaga Pengembangan Kesenian Dan Kebudayaan Sulawesi Selatan telah berlangsung Minggu, (16/08/2020) secara virtual zoom.

Seperti biasa, Luna Vidya selaku moderator memimpin diskusi dari pukul 15. 00 – 17.15 wita. Luna menyampaikan tema keberagaman di era kebiasaan baru. Acara di buka klip lagu “gebyar” ciptaan Gomblo oleh Yudhistira sukatanya.

Pengantar SN#5, Ketua LAPAKKSS Dr. H. Ajiep Padindang, SE., MM, mengutarakan pandemi Covid-19 yang berawal menjadi kasus kesehatan, merambah menjadi kasus sosial. Tragisnya, rumah-rumah ibadah di tutup. Bahkan di belahan dunia pun ketika ummat dipisahkan peribadatannya. Ini menjadi renungan bagi saya. Apakah covid ini menjadi peradaban baru,seperti yang pernah saya katakana pada Seri Ngobrol 1 lalu, kita sedang galau, ini pertanda apa? Akan berakhir kah manusia, atau akan ada peradaban lain yang akan melahirkan peradaban baru.

Sebelum pemateri masing-masing Dr. Sabri, Direktur Pengkajian Materi BPIP, Prof. Dr. Gufran Darma Dirawan,M.EMD, Guru Besar UNM dan Prof. Dr. Arfin Hamid, SH.,MH., Guru Besar dan Wakil Rektor 1 UIM untuk memaparkan materi diskusi, di selipkan pembacaan puisi karya Amir jaya, judul Indonesia, Kudekap Engkau Dalam Puisiku.

Salah satu yang menjadi perhatian pemaparan Prof. Dr. Gufran Darma Dirawan,M.EMD yang bercerita pertemuan Sawerigading dengan Nabi Muhammad. Peristiwa itu terjadi ketika Sawerigading melakukan perjalanan ke Cina. Di tengah perjalanan, perahu sawerigading disapu anging putting beliung. Akhirnya, Sawerigading menumpang dan berpindah ke perahu Nabi Muhammad. Di tengah perjalanan, Sawerigading memperlihatkan kepandaiannya menyusun telur. Rasululullah Muhammad hanya tersenyum dan beliau mengambil satu butir telur dari susunan telur tadi, dan telur itu tidak jatuh. Masih di cerita itu, Sawerigading lalu bertanya, Ya Rasululullah – ada seekor ayam sambil menunjuk, ayam itu warnanya apa?, Rasulullah menjawab ayam itu warnanya putih. Sawerigading terus bertanya sampai tiga kali ke Nabi Muhammad karena sesunggunya ayam itu warnanya merah, lalu Rasululullah menjawah Iya Mu To 3x.

Apa maksudnya lanjut Gufran, Iya Mu To, artinya tidak ada yang berbeda. Seperti halnya, istilah-istilah New Normal, kenormalan baru, kebiasaan baru dan sebagainya, sebenarnya tidak ada yang berbeda. Dari zaman dahulu pun bagaimana kita diajarkan terhadap etika hingga revolusi industri sampai empat kali, manusia tetap makan, minum, dan manusia tetap bersama manusia. Jadi istilah-istilah sebenarnya tidak ada yang berbeda.

Saat sesi tanya-jawab antara peserta virtual zoom Lapakkss SN#5 dengan nara sumber, diantaranya Wawan Mattalittiu – mantan Legislator DPRD Sulsel Periode 2014-2019 lalu dengan jujut mengatakan sebenarnya tidak suka membicarakan istilah new era dan sejenisnya karena merasa wabah Corona menjadi pemenang. Lalu mencontohkan dampak positif, teman di kampungnya, dulunya gaptek (gagap teknologi), kini dengan adanya Corona mengetahui beberapa aplikasi media.

Sementara Yayath Pangerang mempertegas soal cerita tadi bahwa di abad ke 12 itu, mempertemukan Sawerigading dengan Rasulullah. Iya Mu To, apa yang terjadi pada masa lalu sama saja dengan sekarang.

Mengutip dua chat saat SN#5 berlangsung From Budiman luwu timur to Everyone: 03:50 PM, berpendapat covid 19 buat kami warga Nahdliyyin bukan menjadi soal, karena kami kaum muda Nahdliyyin sami’na Waatao’na ( ikut dan patuh terhadap perintah) para Habaib, Kiyai dan ulama ‘kami, sehingga new normal bukan lagi sebuah penghalang untuk kita berTuhan karena kami ikut anjuran ulama’ yang kami yakini itu adalah hasil kajian yang di dasari Alquran dan hadist serta hasil ijtima’ulama2 Kami.

  • From ANDI RUHBAN to Everyone: 04:27 PM, ini lagi musim Webinar Moderasi Keagamaan, boleh usul yad (yang akan dating) Topik Moderasi Kebudayaan. (Rahim Kallo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed