oleh

Membaca itu buta, Buta itu membaca “Antara peluang dan tantangan”

Membaca itu buta, Buta itu membaca
“Antara peluang dan tantangan”

Oleh: Ian Kamaruddin

Saya termasuk orang yang tidak begitu terlalu percaya dengan teori bisnis.

Diawal saya kuliah, saya begitu kagum dengan penjelasan para dosen yang membahas tentang bagaimana membangun bisnis.

Dan diawal kuliah itu pula saya menyelidiki dosen saya, bisnis apa yg mereka punya. kenyataannya mereka hanya dosen bukan pebisnis. Hehehe

Sejak saat itu saya berkeyakinan bahwa bukan teori yang membentuk seorang pebisnis. Teori- teori itu cocoknya untuk profesional, yg berkarir dalam sebuah bisnis.

Bisnis itu sederhana sekali, misalnya soal produksi, ya hanya berkaitan dengan efektifitas dan efesiensi. Soal pemasaran, ya harus tepat sasaran. Kira-kira seperti itu

Kalau mau bisnis kuliner ya harus enak. Kalau mau bikin barang laku ya harus sesuai pasar. konsep ini tidak bisa di nego lagi. Jadi, serumit apapun teori bisnis ujung ujungnya ya kesana.

Berapa banyak bisnis yang menabrak teori bisnis, misalnya saja dalam teori bisnis soal lokasi usaha, yg baik sangat penting. Salah satu contoh bakso mas OOs, tempat dan lokasinya biasa-biasa saja hampir tidak ada yang istimewa, dari jaman mobil bangkasa’ri sampai sekarang mobil pakai remote masih tetap ramai dikunjungi. Siapa gak tau coto kuda di perempatan lampu merah belokallong, atau rumah makan Pangkep di batas kota. Tempat bukan masalah.

Sebenernya kalo mau jujur, pengusaha pengusaha yang besar itu klo ditanya gimana kiat-kiatnya menjadi pengusaha sukses, mereka agak bingung juga jawabnya. Paling juga standar jawabannya, yaitu paling soal komitmen, soal integritas, soal kerja keras dan sejenisnya.

Kalo mau jujur lagi, pada dasarnya mereka bisa sukses itu karena momentum. Ada sebuah ledakan saat mereka sedang menjalani rutinitasnya. lagi enak enak nyetir track eh ketemu pengusaha batubara dari surabaya, terus si sopir track ini ikut sama pengusaha tadi, terus buka usaha sendiri. Sekarang si mantan sopir truk ini punya pesawat, punya kapal, punya punya lahan batu bara dll. Namanya H. Isam pengusaha asal kalsel yang punya keturunan Bugis Makassar. Momentum

Terus ada , penjual beras. Dulu jualannya diemperan pasar Bontosunggu sekarang sudah pindah dipasar karisa, saya sering lewat depan kiosnya yang hanya berukuran kira 2*2, kalau pulang sekolah sekitar tahun 2000an. Lagi enak enak jualan beras, eh ada yang menawari kerjasama,. Yang dulunya di emperan pasar sekarang sudah menguasai pasar. Momentum.

YouTube itu yang nyiptain saja mungkin tidak pernah menyangka bisa sebesar sekarang. Tujuan buat YouTube dulu hanya karena hal sepele, lagi enak enak iseng bikin platform untuk video sharing, eh dibeli ma google. Momentum

Siapa yang sudah mendownload aplikasi zoom tahun lalu? Siapa yang peduli dengan aplikasi yg sudah dibangun dari tahun 2011 ini. Tiba tiba pandemik, kegiatan tatap muka diganti dengan pertemuan online. Momentum

Apa sesederhana itu bisnis? Ya memang sederhana. Yang rumit cuma saat coach bisnis menjelaskan teori bisnis. Kalau terlalu sederhana begini motivator bisnis bisa tidak dapat bagian.

Jadi bisnis itu bukan 100% usaha kita. Ada Tuhan yang Maha Pengatur, yang menggerakan pelanggan datang ke toko kita. kita punya Tuhan yang Ar Razaq, maha pemeberi rizki yang bisa saja membangkrutkan usaha kita biar kita menemukan usaha baru dan sukses.

Terus kapan momentum itu datang? Tidak usah dipikirin, tugas kita cuma menjalankan rutinitas. Berbuat yang terbaik. Pantaskan diri dulu, kalo sudah pantas dan layak Tuhan pasti melirik kita. Dan doa adalah cara tergampang dan terbaik biar kita dilirik sama Tuhan.

Pasang alarm, kuatkan doa disepertiga malam. Sudahi main gamenya biar bisa bangun. Sekalipun Yang menulis ini juga blm tentu rajin bangun malam. Heheheh … Intinya usaha saja dulu, urusan sukses biar pemilik kesuksesan yang urus.

Mangepong 19 sep 2020.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed