oleh

JAM DAN PUKUL

JAM DAN PUKUL

Oleh: Khrisna Pabichara

Lema, kemarin ada tetangga kamar yang menanyakan sesuatu tentang kamu. Namanya Zaldy Chan. Kamu masih ingat, kan? Itu, Lema, tetangga yang sering sok akrab padahal memang akrab. Kamu sudah ingat? Ya, ya. Betul. Uda Zaldy itulah tetangga yang sering mengeluh takbisa menulis di kamar komentar. Kolokan.

Jangan tertawa, Lema. Ini perkara serius. Begitu, dong. Mengangguk. Kamu tahu, aku memang selalu serius dalam urusan bahasa Indonesia. Hahaha. Ayo, Lema, kita tertawa bersama lalu kembali pada pertanyaan Uda Zaldy. Ia menanyakan perbedaan antara “jam” dan “pukul”.

Iya, Lema, kamu betul. Salah satu contoh, ya, “jam dinding”. Tunggu dulu. Kamu kentut, ya? Kok, ada bau-bau menyan bercampur bangkai? Ah, tidak usah berkilah. Kita cuma berdua, Lema. Kalau bukan kamu berarti aku yang kentut. Hahaha.

Begini, Lema. Berdasarkan secubit ilmu yang aku punya, jam berhubungan dengan ‘jangka waktu’. Itu yang pertama.

Contoh: Sudah berapa lama menunggu, Lema?

Pengertian kedua adalah ‘alat penunjuk waktu’, misalnya “jam tangan” dan “jam dinding”. Pengertian ketiga adalah ‘menerangkan keadaan atau kondisi tertentu’, misalnya “jam makan”, “jam tidur”, atau “jam sibuk”. Eh, sekarang “jam rindu”. Ah, sudahlah.

Kalau dalam ragam cakapan, berarti bukan dalam tulisan, “jam” sah-sah saja digunakan sebagai varian “pukul”.

Contoh: Jam berapa sekarang, Lema?

Aku pertegas, Lema, itu kalau dalam ragam cakapan. Dengan kata lain, kalau kamu dan aku sedang mengobrol bolehlah kamu tukar pukul dengan jam. Asal jangan pukul hatiku selama berjam-jam.

Bagaimana dengan “pukul”? Sabar sedikit, Lema. Pelan-pelan. Beri aku waktu untuk menghela rindu. Sabar saja. Semua akan “pukul pada waktunya”. Eh, salah. Semua akan indah pada waktunya. Oke? Begitu, dong. Kini kita ulas perkara pukul. Tidak usah seserius itu. Santai saja, Lema. Nah, tersenyum begitu kan elok dipandang.

Dalam perkara waktu, bukan dalam urusan hantam atau ketuk, pukul berarti ‘saat yang menyatakan waktu’.

Contoh:
– Pukul berapa sekarang? Pukul lima sore.
– Pukul berapa sekarang? Pukul 17.00.

Kenapa ada “pukul lima sore” dan “pukul 17.00”? Kalau menyebut angka, pasti ada perbedaan. Selain pukul lima sore, ada juga pukul lima pagi. Berbeda dengan pukul 17.00 yang sudah pasti sore. Jadi, tidak usah kamu tulis “pukul 17.00 sore”. Itu lewah. Mubazir.

Kenapa mengangguk-angguk? Oh, sudah paham. Tolong kencangkan sedikit suaramu. Belakangan ini kupingku agak pekak. Mungkin keseringan mendengar berita buruk tentang korona. Sudah, ya. Syukurlah kalau kamu sudah paham.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed