oleh

Ku Emban Takdir, Rubah Arah Sejarah Negeri Ku

✍🏻🇮🇩

“Gentarku Telah Mati, Yang Ada, Hanya Tekad Membara, Negeriku Harus Merdeka”

 

Oleh: KMastura Pusadan/Warouw.

 

Surabaya Jembatan Merah, ” Duar..” sebutir peluru panas meninggalkan selongsongnya, melesat keluar berdesing tajam dari moncong senjata laras panjang seorang pemuda, salah satu pejuang arek arek Surabaya, pemuda penembak jitu tersebut, tepat berada di atas jembatan merah Suroboyo.

 

Peluru yang ditembakannya tak terhindarkan tak ayal telak sesuai target, tepat dada sebelah kiri menyasar jantung dari seorang Jenderal Inggeris, komandan dari pasukan yang berada dalam iring iringan panzer sekutu, bernama Mellaby, dan serta merta membuat pasukannya kocar kacir, panik, tidak terkendali karena sang Jenderal besar Mellaby, komandan pasukan sekutu terjungkal tewas.

 

Momentum itu menjadi peluang besar untuk para pemuda pejuang Arek Arek Surabaya, bergerak gesit, menyerang menggempur dengan gagah berani, maju pantang mundur rebut Merdeka..! sekaligus menjadi fakta sejarah, tentang kisah heroik, keberanian atas kecintaan tiada tara dari anak anak bangsa kita pada negeri tanah tumpah darah mereka, Indonesia Raya tercinta.

 

Belakangan di ketahui sang sniper eksekutor tersebut adalah salah satu dari sekian banyak, Pemuda” Pejuang Pemberani Arek Arek Surabaya, yang bernama ” Joop Warouw “ kelahiran Batavia, berdarah Manado, Sulawesi Utara, kelak ditugaskan Negara, untuk Atasi Militer di KBRI Beijing China dan didaulat atas nama Negara Republik Indonesia sebagai PANGLIMA WIRABUANA.

 

JOOP WAROUW.. dari kalangan Arek Arek Surabaya, konon menjadi perbincangan pusat, setelah tewasnya Jenderal Mellaby, komandan pasukan sekutu di Surabaya. Warouw muda mendapat perhatian khusus dari pimpinan tertinggi Republik Indonesia, Bapak Ir Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang pertama dan sejak saat itu Warouw muda bagaikan menjadi anak emas dari Soekarno apalagi setelah dua rentetan insiden yang mengancam nyawa Presiden, ketika itu dengan seluruh jiwa raga, Warouw muda tampil terdepan meredam situasi genting tanpa perdulikan nyawannya sendiri demi Kepala Negara, hingga sampai sampai, dimana Soekarno berada, Joop Warouw pun hampir selalu berada di sekitar sang Presiden.

 

Namun demikian kedekatan sang pimpinan dan bawahan tersebut yang sama sama atas dasar kemuliaan akan kecintaan tiada tara dan perhormatan tertinggi mereka pada bangsa dan negaraNya, dikoyak, ditebas oleh nafsu angkara segelintir sahabat seperjuangan mereka yang memanfaatkan keharmonisan tersebut dan menggiring, mempecundangi, memaksa Warouw muda, tergelincir menjadi bagian penting dari tragedi berdarah PERMESTA (Perjuangan Rakyat Semesta) yang memilukan seluruh persendian Bangsa dan Negara karena puncaknya adalah perang saudara tapi yang sangat jelas bahwa semua kejadian itu adalah akibat dari rekayasa asing dan antek anteknya yang membangun konspirasi tak terduga dan sangat licik dengan target ” PECAH BELAH INDONESIA ” namun demikian asing.. tidak berhasil mencapai target tapi Anak Anak Bangsa Terbaik Ibu Pertiwi yang dulunya bersama sama, bahu membahu berjuang rebut Merdeka untuk negeri mereka tercinta, berakhir tragis. Kolonel Joop Warouw Sang Pejuang Pemberani legenda sniper tanah air Indonesia hilang berselang lama, Pusara Sang Legenda, ditemukan tak bernama dipedalaman sepi, tempat kelahiran leluhur” Beliau, Manado Sulawesi Utara di Timur Indonesia.

 

Apapun yang telah terjadi, itu adalah bagian perjalanan yang terlalu cukup untuk menjadi pelajaran yang sangat berharga bahwa asing dan antek”nya adalah biang dari pembuat keonaran dan kekacauan dinegeri kita, apalagi ketika itu ” *KEMERDEKAAN DALAM GENGGAMAN BANGSA KITA, MASIH TERLALU MUDA BELIA “*

 

Berangkat dari sekian banyak peristiwa yang sering menghantam mengharu biru rasa kemanusiaan dan kebangsaan kita atas semua tragedi sejarah Negeri kita maka seyogjanya, sebaiknya, bangsa kita selalu waspada serta ekstra hati hati terhadap scenario siasat asing dan antek”nya, tutur beberapa Nara sumber.

 

*Pengabdian Panjang JOOP WAROUW di Militer Negara Republik Indonesia.*

 

JOOP WAROUW/JFW ( Jacob Frederik Warouw ) Religius Nasrani Protestan, lahir di Batavia 08 September 1917.

Perjuangan membela tanah air melalui karier Militer tahun 1942 -1945: Wakil Pimpinan Bagian Pasukan PERISAI ( Pemuda Republik Indonesia Sulawesi ) merangkap Kepala Pasukan, setingkat regu.

Pada bulan oktober 1945 bertugas sebagai Kepala Barisan PRI Sulawesi ( PERISAI )/KRIS Surabaya.

Salah satu Komandan Regu Barisan Istimewa PERISAI bersama sama dengan D. Somba Oetoek Laloe, H.V. Worang ( Kembi ).

 

Tahun 1946 berdasarkan track record sebagai Prajurit Pejuang yang telah memperlihatkan kinerjanya sebagai Perwira Militer yang handal dalam mempertahankan Kemerdekaan, karier Militernya naik menjadi Kepala Staf Divisi VI Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) merangkap Ka. Personalia di Lawang – Jawa Tengah ( Pangkat Letkol ). Dan pada tahun 1946-1948 menjadi Kepala Staf ALRI Pangkalan X di Situbondo- Jawa Timur merangkap Ka.Sie. Operasi ( Ex Divisi VI ALRI ). Saat itu Panglima TLRI T. Tamboto dan juga ada Kopral Hartono yang di kemudian hari menjadi Danjen KKO.

Komandan Be XVI bermarkas di gunung Kawi/gunung Arjuna tepatnya, area Malang-Lawang-Kepanjen Jawa Timur. Bung Tomo bergabung juga disitu, resminya Be XVI itu Brawijaya bukan di Ponegoro Jawa-Tengah.

 

Peranan Be XVI sangat vital pada saat operasi 6 jam Jogya karena sudah dapat perintah dari Jenderal Besar SOEDIRMAN, untuk sebagian Be XVI pindah ke Blitar tgl 1/8-1947 guna siapkan rencana penyerangan Jogya pada Maret 1948. Sesudah itu sesuai order Jenderal Soedirman, Be XVI harus berada di tiga Provinsi Jawa.

Di Garut Jawa Barat ada Batalion Pellupesi.

Di Jogya Detasemen sama dibawah tanggung jawab(diam”) A.G. Lembong(Ex Knil-Kapt US Army Military Police) ditangkap pasukan Belanda tapi tidak di interogasi atau masuk sel tahanan.

 Di Jawa Timur Be XVI di pimpin oleh WADAN Be XVI, Mayor KAHAR MUZAKAR.

 

DAN Be XVI Letkol Joop F. Warouw ada diBandung bersama Letkol A.G. Lembong saat APRA Affair di Bandung. Tugas A.G. Lembong sebenarnya memberi latihan pada SILIWANGI pada semua aspek organisasi Militer Siliwangi.

Saat A.G Lembong gugur, JFW sedang istirahat di hotel Homann Bandung bersama Leo Lopolisa-Minggus-Pieters ( nara sumber Leo Lopolisa mantan Pangkowilhan/Duta Besar).

 

Tahun 1948-1950 JFW ( Joop Frederik Warouw ) di angkat menjadi Komandan Brigade XVI di Jogyakarta. Dan pada tahun 1950-1952 diberi tugas untuk menangani masalah Pertahanan dan Keamanan di daerah asal, menduduki jabatan Militer sebagai Komandan Komando Pasukan (Kompas) B- Sulawesi Utara & Maluku Utara, Resimen Infanteri 24 ( RI-24 ) di MANADO. Selanjutnya sebagai Komandan Komando Pasukan ( KOMPAS ) D- Maluku Selatan ( Resimen Infanteri 25 ( RI 25 ) di AMBON serta Komandan Komando Pasukan ( KOMPAS ) A- Sulawesi Selatan ( Resimen Infanteri 23 ( RI 23 ) MAKASSAR.

 

Tahun 1952-1953 merupakan era krisis politik kemiliteran, dimana peristiwa 17 oktober 1952 mendaulat Kolonel Gatot Subroto sebagai Panglima TT-VII/TTIT serta Joop Warouw menjabat KEPALA STAF TT-VII/ INDONESIA TIMUR dan kemudian diberi jabatan oleh Negara Republik Indonesia sebagai PANGLIMA TT-VII (5 Januari 1953).

 

*Puncak pengabdian Militernya sebagai Perwira Tinggi di tubuh AD yaitu pada tahun 1954-1956 di daulat oleh Negara Republik Indonesia sebagai Panglima TT-VII/ WIRABUANA* dengan pangkat Kolonel ( TMT 1 Agt’54 ). dan pada 1956-1958 diberi kepercayaan oleh Negara sebagai ATASE MILITER pada Kedubes Republik Indonesia di Peking ( Beijing ) China.

 

Saduran dari berbagai sumber…✍🏻🇲🇨

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed