oleh

Jacob Ereste : Olah Raga, Olah Pikir & Olah Rasa

Setiap orang itu memiliki potensi raga dan jiwa (atau rasa) serta daya pikir yang tak terbatas untuk dikembangkan.

Upaya mengembangkan segenap potensi yang ada dalam diri masing-masing ini bisa saling menopang antara yang satu dengan yang lain.

Sehingga sangat mungkin setiap orang itu dapat mengkombinasikan antara potensi yang satu dengan potensi yang lain.

 

Jika yang dikembangkan adalah potensi dari yang dapat disebut raga atau fisik, maka buah perwujudannya hanya sebatas raga atau fisik belaka.

 

Artinya, konstruksi tubuh atau fisik bisa berkembang dalam bentuk kekuatan yang berbasis pada otot. Ketangkasan dan kemahiran dalam mendayagunakan segenap organ tubuh — utamanya yang tampak secara fisik — karena bisa saja hasil dari olah tubuh itu hasilnya menjadi semacam ketangkasan dan sejenisnya yang dominan berkaitan dengan tubuh atau fisik.

 

Lain ceritanya dengan olah pikir yang dilakukan, maka yang terjadi adanya suatu daya yang dapat menjadi penghantar untuk melakukan pengembaraan intelektual dalam pengertian pemikiran sebagai daya nalar untuk mengetahui, memahami hingga memungkinkan untuk melakukan inovasi lebih jauh dalam berbagai kemungkinan yang dapat diwujudkan secara keilmuan maupun pengetahuan yang berbasis pada akal sehat, ilmiah.

 

Lalu potensi lain yang dapat dikembangkan serara maksimal dari dalam diri manusia adalah rasa yang meliputi segenap wilayah batin, rasa, insting hingga firasat yang bisa untuk dipercaya atau diyakini kebenaran dari frekuensi yang ada dalam dimensi rohaniah sifatnya itu.

 

Jika tiga potensi manusia ini dapat difungsikan dengan baik dan maksimal, maka semua yang masuk dalam dimensi spiritual — mulai dari rasa, insting hingga firasat yang terliput dalam wilayah batin, maka dapat segera disadari bahwa potensi yang patut lebih dominan dan layak memandu semya potensi yang ada pada dirk manusia itu adalah yang acap kita sebut rohani. Karena itu wajar ada istilah “siraman rohani”. Karena hal-hal yang bersifat rihaniah, batiniah atau illahiah itu memang harus selalu dipelihara agar terap lestari seperti taman bunga yang terus memutik untuk memberikan buah yang terbaik mewangi.

 

Begitulah proses dalam olah raga, olah pikir dan olah rasa yang dapat dilakukan oleh setiap manusia unruk membuat keseimbangan dalam dirinya sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna dan mulia di muka bumi. Karena dari perspektif agama pun pada hakekatnya makhluk di dunia yang diciptakan Tuhan itu adalah Iblis, Malaikat dan Manusia yang dilengkapi dengan beragan macam hewan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup manusia.

 

Agaknya, atas dasar itu pula dalam perspektif agama, mansia itu sendiri lebih dekat dengan Iblis dan Malaikat, meski dalam kehidupan sehari-hari terkesan lebih dekat dengan hewan.

 

Nah, dengan cara memahami tata serupa ini pula, manusia harus mampu mendatagunakan segenap potensi kemanusiaannya, yang patut lebih mendekatkan diri pada Malaikat — dalam arti sifat dan sikap mulia — agar tidak sampai terjebak oleh bujuk rayu Iblis, atau diprovokasi oleh nafsu binatang. Jadi jalas dalam dimensi illahiyah serupa ini, betapa pentingnya pengembaraan spiritual bagi setiap manusia. Sehingga gerakan kebangkitan dan pemahaman spiritual seperti yang sedang melaju kencang dipacu oleh Eko Sriyanto Galgendu dan kawan sahabat spiritual di Indonesia, bisa dipahami untuk dapat menjawab beragam soal dan godaan jaman yang tengah mendewa-dewakan materi akibat budaya kapitalis yang semakin mencengkeram kehidupan di bumi.

 

 

 

Matraman, 13 Mei 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed