OPINI

Neo-marxisme Dalam Ekonomi Masyarakat Kini

154
×

Neo-marxisme Dalam Ekonomi Masyarakat Kini

Sebarkan artikel ini
Neo-marxisme Dalam Ekonomi Masyarakat Kini
Dinda Isnadira (Mahasiswi jurusan ilmu ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)

Neo-marxisme Dalam Ekonomi Masyarakat Kini

Oleh: Dinda Isnadira
Mahasiswi jurusan ilmu ekonomi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

 

Mark lebih dikenal sebagai determinis ekonomi karena pemikirannya yang memang menempatkan sistem ekonomi berada pada titik terpenting yang selanjutnya menentukan sektor lain dalam kehidupan masyarakat (Ritzer,2011:89)

Dari frank(neo-marxis) sendiri memiliki pendapat adanya sistem kapitalisme di negara- negara berkembang sekarang ini menyebabkan kemunduran yang sangat signifikan dalam bidang ekonomi. Hal ini disebabkan dari negara maju bekerja sama dengan para pejabat serta kaum lokal di negara- negara berkembang, dan dapat dipastikan kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah lokal tersebut hanya menguntungkan para kaum negara maju dan perkembangan ini tentunya mengorbankan kepentingan rakyat di negara- negara berkembang.

Sebagaimana dirasakan dalam kehidupan sekarang ini, terutama bagi negara dunia ketiga (negara pinggiran) yang banyak memperoleh tekanan ekonomi dan selalu mengharapkan bantuan negara pusat seperti Amerika yang senantiasa siap untuk menguasai dan mengambil keuntungan yang jauh lebih besar, berlangsung dalam waktu yang panjang melalui bantuan yang diberikan, akan membuat ketidakberdayaan negara yang bergantung kepadannya.

IMF merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 menjadi 5,9 persen. Sementara proyeksi pertumbuhan tahun 2022 masih bertahan pada 4,9 persen. Turunnya proyeksi ekonomi terjadi baik pada negara maju maupun negara berkembang. Proyeksi pertumbuhan Amerika Serikat untuk tahun 2021 diturunkan 1,0 persen menjadi 6,0 persen.

Oleh karenanya betapa naifnya bila negara pinggiran seperti Indonesia tidak berjuang untuk lepas dari ketergantungan terhadap negara pusat, dan akan lebih hina lagi jika pemerintah yang hanya karena ingin memperpanjang masa kekuasaannya dan menjadi bahan permainan negara pusat.

Selanjutnya Di negara ketiga, laki-laki lebih diutamakan dibandingkan perempuan yang untuk mengubah semuanya itu tidak mudah dan membutuhkan masa yang cukup lama. Memang bisa saja, jika pada beberapa puluh tahun mendatang perempuan akan bisa setara dengan laki-laki, marxis yang berfokus pada “upah” ataupun menggunakan pemikiran Harraway yang menuntut perempuan harus bisa setara dengan laki-laki, maka peneliti memilih pemikiran Neo Marxisme yang lebih ideal dan pada akhirnya tidak akan bias gender, Karena memang bagaimanapun keberdirian perempuan terletak tidak hanya pada upah yang ia hasilkan.

Daftar Pustaka :

https://eprints.umm.ac.id/58018/6/Zahidi%20-%20International%20Relations%20Marxism%20Marxism-Classic%20Thinkers%20Neo-Marxian%20Thinkers.pdf

https://ejournal.unitomo.ac.id/index.php/jsk/article/view/167/111

https://www.researchgate.net/profile/Andiana-Pitaloka/publication/333748408_Fenomena_Buruh_Tekstil_dalam_Industri_Fast_Fashion_Refleksi_Kapitalisme_Eksploitatif_ala_Marxisme/links/5d02277492851c874c62573e/Fenomena-Buruh-Tekstil-dalam-Industri-Fast-Fashion-Refleksi-Kapitalisme-Eksploitatif-ala-Marxisme.pdf

https://perpustakaan.bappenas.go.id/e-library/file_upload/koleksi/migrasi-data-publikasi/file/Update_Ekonomi/Ekonomi_Makro/Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2021.pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *