Sebuah drama di buat sedemikian rupa, skenario di susun agar endingnya terlihat baik dan sempurna. Ratusan bahkan ribuan tipe karakter siswa harus di hadapi, dengan kemampuan intelektual dan emosional beragam harus di hadapi guru. Sejalan dengan kemajuan berpikir dari pemegang kekuasaan dengan mengganti kurikulum yang ada, sementara yang sedang berjalan belum tuntas.
Di awali dengan semangat dan cita-cita mulia seorang guru memanusiakan manusia,tak pernah terpikir harus menjadi administrator di era Digitalisasi. Belum lagi seorang guru dipaksakan untuk berbuat curang demi kelihatan keberhasilan pendidikan itu sempurna. Demi mengejar kuantitas kelulusan sempurna guru dipaksakan berbuat curang melawan kata hati. Realitanya siswa yang berkarakter maaf ” buruk” harus di berikan nilai baik demi kuantitas kelulusan 100 % .
Hanya segelintir saja generasi bangsa yang benar-benar berkualitas, itupun hanya yang berada di kota besar. Beberapa daerah (propinsi) berpatokan pada aturan ” yang di atas” . Kalau ” yang di atas” mengatakan tahun ini kita harus capai target sekian apapun caranya tanpa melihat tingkat kecerdasan peserta didik.









