Oleh : Maulana Maududi (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS / Angkatan 18 Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)
Membangun perubahan peradaban ummat yang berjiwa Qur’ani sesungguhnya menjadi keniscayaan betapa pentingnya anak bangsa memahami nilai dasar keimanan sebagai tonggak Iman, Islam dan Ikhsannya manusia sebagai khalifah fil ardh.
Begitu juga tatkala jargon Berkah yang diusung oleh pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, Deden Hasidin & Neneng Efa Fatimah, menegaskan bahwa konsekuensi logis atas keberpihakan pemimpin daerah untuk mencerdaskan masyarakatnya dapat berpacu seiring sejalan dengan sebaik-baiknya.
Tentu saja sebuah keinginan luhur bagi paslon no 3 besutan Partai Golkar, PKS dan Perindo ini, ingin melakukan suatu perubahan signifikan menuju harapan baru Cianjur sejahtera.
Sehingga dengan menguatkan peningkatan pola fikir positif progresif dan etos kerja inovatif konstruktif, diharapkan mampu memberikan daya saing yang berhikmah dalam bingkai amanah nan hakiki, dan pastinya akan membawa masyarakat Cianjur bukan hanya sekedar pintar, namun memiliki naluri kecerdasan yang Qur’ani.
Adalah Yayasan Hadiqotul Fuadi Insani (HFG) yang dalam kurun beberapa tahun belakangan ini, fokus memberikan stimulasi bil hikmah khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Cianjur melalui berbagai program sosial dan pendidikan khususnya, berharap agar kiranya Cianjur ke depannya semakin tercerahkan dengan terbangunnya minat baca di setiap ruang hidup dan kehidupan bermasyarakat.
Maka tatkala terbangunnya asa demi mengukir cita untuk membangun peradaban generasi Islami yang Qur’ani di Cianjur, Yayasan HFG sangat berkeyakinan jika paslon Deden dan Efa, mampu memberikan keberkahan yang sesungguhnya bagi peradaban baru terhadap perubahan mendasar di Kabupaten Cianjur.
*Ruh Perubahan Cianjur Melalui BERKAH Fikir dan Dzikir*
Di dalam kitab Risalah mu’awanah, Syaikh Alawi Al-Hadad menjelaskan tentang muslim yang sejati adalah orang yang senantiasa berdzikir serta berdo’a kepada Allah dalam setiap waktu, baik itu setelah shalat wajib, pada waktu pagi dan petang, pada waktu bangun dan tidur.
Jika mengistiqomahkan dzikir, maka dinamai wiridan. Jika wiridan diberjama’ahkan atau dibaca bersamaan dengan orang banyak, maka dinamai istighotsah.
Jika orang banyak tersebut mendawamkan secara serempak wirid-wirid tersebut, maka dinamai hizib.
Jika sudah mencapai tahap hizib, maka itu yang dinamakan dengan ‘Ad’iyah al mustajabah’ atau do’a yang pasti di ijabah.
Disinilah pentingnya kita memilih dan memilih do’a-do’a yang diamalkan. Apakah sesuai dengan ajaran rasul atau tidak, Masyhur atau tidak, sanadnya bersambung kepada Rasul atau tidak.
Prosedur tersebutlah yang termaktub dalam Alqur’an surat Almukmin ayat 60:
ادعوني أستجب لكم
“Berdo’alah kepadaku, niscaya (pasti) akan ku kabulkan,”
Mungkin sering kita bertanya-tanya pada saat berdoa, kok kenapa doaku gak langsung dikabulkan oleh Allah pada saat itu juga? Nah inilah jawabannya, kita sering lupa antara berdo’a dan sekedar meminta.
Jika dilakukan personal atau secara pribadi, maka itu dinamakan sebagai “meminta” atau “sual”, jika diungkapkan dengan bahasa sendiri, itu dinamakan ‘Attadharru’ artinya, mengungkapkan “rasa diri butuh ka Allah ku nyaritaken pangabutuh” (sirojuttalibin) pada mode ini, terkadang kita lupa adab-adaban hati dalam berdo’a.
Kalau kata teh Nati Sajidah tea mah, “Kita harus menjadi manusia yang ber-Tuhan, bukan manusia yang berperan Tuhan”.
Tak jarang kita malah mendikte Tuhan layaknya seorang tuan rumah kepada pembantu, bos kepada karyawan, atasan kepada bawahan sehingga ketika permintaan kita tidak terkabulkan, maka menipislah iman kita, berkuranglah rasa cinta kita kepada Allah, berkurang pula wibawa ketuhanan Allah dalam diri kita. Na’udzubillah.
Tapi terkadang, pada saat kita berdoa, itu bisa berarti bahwa Tuhan akan memberikannya. Sebagaimana Ibnu Athailah dalam hikamnya
متي أطلق لسانك فاعلم أنّه أن يعطيك
Jadi tergantung kepada privasi hati kita dengan Allah. Yang penting kita bisa menjauhkan rasa Suudzon kepada Allah dan menyelamatkan diri dari keraguan kita terhadap sifat Qudrat-Nya.
Kembali kepada prosedur do’a, Setelah kita berhasil melewati beberapa tahap diatas, maka hendaknya dzikir diiringi pula dengan “tadzakur” atau memulazamahkan lafadz dzikir sehingga alam bawah sadar kita terus menjalankannya.
Pembuluh darah atau detak jantung membunyikannya. Atau tahap ini dalam beberapa Tarekat disebut pula dengan “Dzikir Khofi”.
Nah setelah itu, maka dilanjutkanlah dengan mentadaburinya. Yaitu lisan kita mengucapkan lafadz, sementara hati kita sibuk menerjemahkannya.
Lebih dalam lagi, kita memasukkannya kepada Aqal dengan memahami dan meresapi maknanya.
Dari kontekstual kitab risalah mu’awanah ini, beliau mengarahkan pada satu sampel anggota tubuh kita, salah satunya adalah tafakur terhadap anatomi tangan dan fungsi-fungsinya.
Jika kita menafakuri secara aktual, tajam dan terpercaya terhadap anatomi yang ada pada tangan, merenungi setiap organ tubuh dan fungsi-fungsinya, sebagai anugrah dari Allah sebelum kita meminta.
Menurut hemat penulis, jika boleh ini ditafsirkan secara rinci dan tajam setajam silet, akan sangat berkelindan untuk merekomendasikan kita agar mendalami sebuah disiplin ilmu bernama Biologi.
Di zaman sekarang, kita bisa menemukan dan mempelajari cabang ini hanya di sekolah. Karena di pesantren kita masih berkutat perihal hukum, sudut pandang norma, interpretatif dan bahasa.
Jadi penulis sangat setuju kepada apa yang disampaikan oleh guru besar saya pangersa pak Haji (KH Syaifudin Zuhri Haurkuning) agar Umat islam bisa untuk “Dua Kola”.
Bukan hanya “sakola” baik itu belajar formal saja atau cuma non formal.
Kemudian, sudah saatnya umat islam kembali terbuka seperti dizaman keemasan Islam dahulu. Seperti di zaman Rasulullah, Sultan Harun Arrasyid, Al-Makmun dll.
Karena semakin ia merenungi suatu cabang ilmu, semakin tinggi ilmunya. Semakin tinggi ilmu, semakin merasa bodoh lah ia. Semakin ia merasa bodoh, maka semakin ia yakin terhadap kecerdasan dan sifat Ilmunya Allah.
Kalau boleh penulis memakai mindset qiyas, jika menafakuri salah satu anatomi tubuh bisa membuahkan kecintaan kepada Allah, maka semakin dalam seseorang menafakurinya, maka semakin dalam ia akan mencintai Allah.
Semakin tinggi ia menguasai ilmu biologi, besar kemungkinan semakin tinggi pula kualitas kecintaannya kepada Allah.
Begitupun dalam cabang ilmu yang lain, saya rasa jika metode pendidikannya mapan, sistematis.
Fungsi afekttif, kognitif dan psikomotoriknya berlandaskan asas Intelektual, Emosional serta spiritualnya seimbang maka akan siap menciptakan Ulul Albab.
Bisa dibilang kita akan siap menjadi Muslim yang terpelajar serta pelajar yang berjiwa Muslim.
Dengan instrumen pendidikan karakter yang tersublimasi dari taklim muta’alim dan adabul alim wal muta’alim, lalu didinamisasikan dengan pendidikan modern yang serba teknologi, apalagi jika diintegrasikan dengan konsep ADDIE yang berlaku saat ini.
Dzikir, Fikir Amal Sholeh bagi penulis adalah senyawa yang tidak bisa dipisahkan dari jiwa seorang muslim. Ia harus berpegang teguh luar dan dalam.
Karena jika salah satunya hilang, maka ia tidak akan menjadi muslim yang sempurna.
Manusia yang paripurna adalah sehat secara lahir dan batin. Dan yang menggabungkan keduanya adalah dengan menyelam kepada alam mikro kosmos, atau dalam kitab jauhar tauhid dibahasakan dengan العلم السفلي dan itu memerlukan integrasi penjiwaan tauhid yang murni.
Bagi penulis, inilah salah satu bentuk ikhtiyar prosedural agar kita bisa mengonsumsi حلاوۃالإيمان yaitu dengan menjalani setahap demi setahap perjalanan lahir lalu diikuti dengan bathin, setelah itu dikembangkan oleh aqal dengan tetap berpegang teguh kepada Syari’at.
*Budi Luhur Deden & Efa Sebagai Pemimpin Amanah*
Tak terbantahkan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, dalam hal ini adalah sosok yang akan menjadi panutan masyarakat Kabupaten Cianjur yakni Bupati dan Wakil Bupati, haruslah mempunyai budi pekerti yang luhur.
Dikenal dengan mampunya seorang pemimpin melihat papan, empan dan adepan. Senantiasa menghormati sesama, khususnya kepada yang lebih tua dan juga tetap santun kepada yang muda.
Dan terpenting adalah tidak mencelakai apalagi membinasakan dirinya sendiri dengan perihal yang tidak baik, yang akan berdampak kepada jatuh harga dirinya.
Untuk itulah sesungguhnya bagi Deden dan Efa yang sejatinya dengan majunya beliau sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Cianjur Periode 2024-2029 ini, ingin menegaskan bahwa sudah saatnya Bupati dan Wakil Bupati di Cianjur memiliki keluhuran budi pekerti demi membawa Cianjur baru menuju Cianjur sejahtera.
Sesungguhnya bagi Deden dan Efa, menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Cianjur bukanlah untuk memperkaya dirinya, namun semata-mata adalah menjadi pengabdian demi mengangkat harkat dan martabat masyarakat Kabupaten Cianjur yang lebih baik lagi.
Memberikan contoh dan menjadi contoh yang baik, adalah hal yang ingin ditularkan oleh Deden dsn Efa melalui lembaga formal Pemerintahan Kabupaten Cianjur
Semangat untuk bisa menunjukkan inovasi konstruktif melalui karya nyata bersama dengan instansi kerjanya, adalah landasan riil membangun keberlanjutan pembangunan Kabupaten Cianjur di segala bidang.
Selanjutnya Deden dan Efa tentu berfikir lebih dengan memberikan dorongan kepada warga masyarakat Kabupaten Cianjur untuk maju dan giat agar bisa mandiri.
Maka menjadi sebuah harapan tatkala menjalani masa kepemimpinan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Cianjur mendatang, Deden dan Efa sangat mengharapkan kerjasama yang baik seluruh aparatur Pemerintah di Kabupaten Cianjur.
Karena tujuan utama menjadi aparatur Pemerintah di Kabupaten Cianjur yaitu mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan kemajuan serta kesejahteraan Kabupaten Cianjur.
Adanya slogan dalam sumpah jabatan “untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya”, harus difahami, dinaknai dan diaplikasikan dengan sebaik-baiknya.
Agar juga untuk instropeksi diri apakah sumpah dan janji yang telah diucapkan telah ditepati dan dilakukan dalam rangka menjalankan tugas dan pengabdiannya di masyarakat.
Deden Hasidin dan Neneng Efa Fatimah adalah pemimpin masyarakat Kabupaten Cianjur yang dengan izin Allah mendapatkan amanah sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2024-2029 dari Allah Swt.
Untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya, dan sejujur-jujurnya tanpa memandang hubungan keluarga, tanpa melihat senang dan benci serta tidak pilih kasih.
Dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang ada di setiap lini sektor, harapan masyarakat adalah penyelesaian melalui jalan musyawarah dan mufakat.
Dengan keluhuran budi pekerti Deden dan Efa, hendaknya selalu mengingat apa yang dilakukan kelak sebagai Bupati dan Wakil Bupati Cianjur akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.
Oleh : Maulana Maududi (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS / Angkatan 18 Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)
BERSAMBUNG











