Topikterkini.com.Donggala – Pada Kamis (17/4/2025), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengunjungi kawasan ekowisata dan eduwisata Mangrove GONENGGATI JAYA di Kelurahan Kabonga Besar, Sulawesi Tengah. Kunjungan tersebut didampingi oleh tokoh muda Sulawesi Tengah, Neni Muhidin. Rombongan BRIN bertujuan meninjau langsung kondisi hutan mangrove yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) GONENGGATI JAYA.
Selain berfungsi sebagai destinasi wisata dan lokasi penelitian, hutan mangrove ini juga menjadi benteng alami yang berhasil menahan terjangan tsunami tahun 2018, sehingga warga Kabonga Besar selamat dari bencana tersebut.
Sambil menyusuri jalur tracking wisata mangrove, rombongan berdiskusi dengan Yuryanto, Ketua KTH GONENGGATI JAYA sekaligus aktivis lingkungan. Diskusi mencakup beragam isu mulai dari peran mangrove dalam mitigasi bencana, masalah klaim kepemilikan pribadi atas kawasan laut dan mangrove, hingga ancaman dari aktivitas tambang galian C.
Rombongan BRIN terkesan dengan kekuatan mangrove dalam menghadapi tsunami, namun juga prihatin mendengar adanya klaim kepemilikan pribadi terhadap kawasan yang seharusnya dilindungi negara. Mereka menyayangkan sikap Pemerintah Daerah yang terkesan abai dalam menegakkan aturan terkait tata ruang dan perlindungan mangrove.
Karena pentingnya peran hutan mangrove ini, BRIN berencana mengusulkan kawasan mangrove Kabonga Besar sebagai pusat penelitian Mangrove Teluk Palu, agar kawasan ini tetap terjaga dan terlindung dari ancaman industri seperti galian C.
Setelah diskusi, rombongan juga mengunjungi rumah-rumah warga di pesisir pantai yang selamat dari tsunami berkat perlindungan mangrove. Mereka semakin yakin bahwa keberadaan hutan mangrove harus dipertahankan.
Kunjungan BRIN berlangsung sekitar tiga jam sebelum akhirnya rombongan kembali ke Palu dan kemudian bertolak ke Jakarta, membawa hasil diskusi untuk tindak lanjut ke tingkat pusat.
Laporan; Alir.











