Topikterkini.com.Donggala — Di ketinggian pegunungan yang diselimuti kabut, masyarakat menyebutnya “Negeri di Atas Awan”. Itulah Kecamatan Pinembani, salah satu wilayah paling terpencil di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Untuk sampai ke sana, dibutuhkan keberanian menaklukkan jalan curam dan berliku yang hanya bisa dilalui kendaraan double gardan atau sepeda motor. Namun, di tengah keterbatasan dan medan ekstrem itu, ada sosok perempuan tangguh yang memilih untuk tetap mengabdi: Sukmawati, Camat Pinembani.
“Alhamdulillah, saya sudah bertugas di Kecamatan Pinembani sejak tahun 2020, awalnya sebagai Sekcam, dan setahun kemudian dipercaya menjadi Camat,” tutur Sukmawati dengan senyum tenang saat ditemui, Sabtu (11/10/2025).
Kecamatan Pinembani memiliki sembilan desa, mayoritas penduduknya berasal dari suku Kaili Da’a dan memeluk agama Kristen. Wilayah ini masih minim infrastruktur, namun semangat warganya begitu kuat menjaga kebersamaan dan toleransi. “Saya merasa diterima dan disayangi masyarakat di sini. Mereka tahu saya selalu berusaha hadir di tengah mereka, kapan pun dibutuhkan,” ujar Sukmawati.
Dedikasi perempuan ini tidak berhenti di jam kantor. Hampir setiap akhir pekan ia turun langsung ke desa-desa, menghadiri kegiatan masyarakat dari pesta pernikahan, acara adat, hingga mengantar warga sakit ke rumah sakit. “Pernah saya bawa sendiri orang sakit dan juga jenazah dengan mobil dinas Hilux double gardan, karena hanya mobil seperti itu yang bisa menembus medan ke desa,” kenangnya.
Medan Pinembani memang bukan untuk kendaraan biasa. Dari sembilan desa yang ada, hanya lima yang bisa diakses mobil — Tavanggeli, Tamodo, Danggaraa, Gimpubia, dan Palintuma. Sementara empat desa lainnya seperti Karovia, Kanaga Longga, Bamba Kanini, dan Bamba Kaenu hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor, bahkan sebagian jalan masih berupa tanah merah licin di musim hujan.
Meski harus menempuh perjalanan panjang dengan motor atau ojek, Sukmawati tetap rutin menyambangi warganya. Terbaru, ia memimpin langsung sosialisasi penurunan angka stunting dengan cara berkeliling ke semua desa. “Kalau harus naik motor, saya naik motor. Kalau harus jalan kaki, saya jalan. Karena masyarakat perlu tahu bahwa pemerintah hadir untuk mereka,” tegasnya.
Harapan besar kini tumbuh di hati warga Pinembani. Berkat kepemimpinan Bupati Donggala Vera Elena Laruni, perbaikan akses jalan menuju Pinembani akan segera dikerjakan pada awal tahun 2026 oleh pemerintah provinsi dan kabupaten. Sukmawati pun aktif mensosialisasikan rencana tersebut kepada masyarakat.
“Ibu Bupati sangat gercep. Beliau sudah menyiapkan anggaran untuk jalan, dan bahkan memberikan satu unit mobil double gardan baru untuk Puskesmas Pinembani. Ini bentuk perhatian luar biasa,” ungkap Sukmawati dengan mata berbinar.
Kini, masyarakat Pinembani menyebut Sukmawati sebagai “ibu camat yang tidak kenal lelah”. Sosok yang tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi turun langsung menembus kabut dan medan berat demi memastikan warganya tidak tertinggal.
Bagi Sukmawati, jabatan bukanlah soal kehormatan, melainkan tanggung jawab untuk hadir dan melayani. “Selama saya masih diberi kesehatan, saya akan terus bersama masyarakat di sini. Pinembani sudah jadi bagian hidup saya,” ucapnya lirih, menatap pegunungan yang menjulang di balik awan.
Di tengah kerasnya alam Pegunungan Pinembani, kisah Sukmawati menjadi cermin ketulusan pengabdian bahwa pelayanan publik sejati lahir bukan dari kenyamanan, tapi dari keberanian untuk hadir di tempat yang paling sulit dijangkau.
(Alir).











