Donggala

Madrasah Aliyah Alkhairat Donggala Hampir Setahun Nyaris Berhenti Total, Ini Kata Ustadz  Zain Ahmad

225
×

Madrasah Aliyah Alkhairat Donggala Hampir Setahun Nyaris Berhenti Total, Ini Kata Ustadz  Zain Ahmad

Sebarkan artikel ini

Topikterkini.com.Donggala, – Senin, 27 Oktober 2025
Kondisi Madrasah Aliyah (MA) Alkhairat di Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, kini memprihatinkan. Sudah hampir satu tahun sekolah ini tidak berjalan normal akibat adanya dualisme kepemimpinan, yang membuat kegiatan belajar-mengajar nyaris berhenti total.

Hal ini diungkapkan oleh Ustadz Zain Ahmad, salah satu guru sekaligus mantan kepala sekolah Madrasah Aliyah Alkhairat, saat ditemui di sekolah, Senin (27/10/2025).

“Sebenarnya sekolah ini tidak ditutup, tapi karena ada dualisme kepemimpinan, jadinya seperti ini kondisinya sekarang. Sudah hampir satu tahun sekolah tidak berjalan efektif,” ujarnya.

Menurut Ustadz Zain, permasalahan bermula ketika muncul dua kepala sekolah yang sama-sama memiliki Surat Keputusan (SK). Mereka adalah Husein Toleng dan Uccu Wulandari.
Awalnya, Husein Toleng menggantikan kepala sekolah sebelumnya, Rostini, namun karena ada kendala administrasi di sistem EMIS (Impan 3), maka ia dinilai tidak bisa melanjutkan jabatannya.

“Saya sudah sampaikan waktu itu, kalau memang tidak bisa lanjut, seharusnya digantikan oleh pelaksana tugas (PLT). Tapi kemudian keluar lagi SK baru dari Pak Ahmad Marjanu yang justru memperkuat posisi Pak Husein. Saya baru tahu setelah bulan Agustus, itu pun dari pengawas,” jelasnya.

Sejak saat itu, terjadi kebingungan dan ketegangan di internal sekolah. Guru-guru mulai jarang masuk mengajar, kepala sekolah tidak hadir, dan siswa pun akhirnya enggan datang ke sekolah.

Ustadz Zain menceritakan bahwa sejak akhir semester lalu, kegiatan belajar-mengajar praktis berhenti.

“Anak-anak jarang datang, guru juga banyak yang tidak masuk, apalagi kepala sekolah. Hari ini sebenarnya jadwal asesmen kompetensi, tapi tidak ada satu pun siswa yang hadir,” katanya.

Dari 13 guru yang tercatat mengajar di sekolah tersebut, hanya 7 orang yang terdata secara resmi di GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan). Kondisi ini memperburuk manajemen sekolah dan menyebabkan banyak kegiatan administratif terhenti.

“Kami sudah rapat dengan pengurus kecamatan agar kepala sekolah lama menyerahkan semua administrasi, termasuk keuangan, tapi sampai sekarang belum diserahkan,” tambahnya.

Akibatnya, sekolah terlihat seperti tidak berpenghuni. Rumput di halaman mulai rimbun, kelas terkunci berbulan-bulan, dan para siswa yang datang pun akhirnya pulang lagi karena tidak ada guru dan kegiatan belajar.

Ustadz Zain, yang merupakan kepala sekolah pertama MA Alkhairat sejak berdiri pada tahun 2013 hingga 2020, berharap agar pemerintah provinsi Sulawesi Tengah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama, segera turun tangan melihat langsung kondisi sekolah tersebut.

“Harapan saya dari sepuluh bulan lalu sampai sekarang, agar pemerintah turun tangan. Jangan sampai ego antar dua pihak membuat anak-anak yang jadi korban. Ini lembaga pendidikan, bukan ajang rebutan jabatan,” tegasnya.

Madrasah Aliyah Alkhairat selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang berperan besar dalam mencetak generasi muda religius di wilayah Banawa. Namun kini, dualisme kepemimpinan membuat sekolah itu nyaris mati suri.

Zain berharap langkah cepat segera diambil untuk menyatukan kepemimpinan, mengaktifkan kembali para guru, dan mengembalikan kepercayaan siswa serta orang tua.

“Kami hanya ingin sekolah ini hidup kembali, guru bisa mengajar, dan anak-anak kembali belajar seperti dulu,” tutupnya dengan nada harap.

Kondisi MA Alkhairat Donggala menjadi pengingat penting bahwa ego dan konflik internal di dunia pendidikan hanya akan merugikan peserta didik. Diperlukan mediasi tegas dari pihak berwenang agar sekolah kembali berfungsi sebagaimana mestinya .

Laporan: Alir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *