Di Mana Keadilan Sosial Saat Orang Miskin Masih Sulit Berobat?
Selamat Memperingati World Day of Social Justice 2026
Oleh: Erank
Setiap tanggal 20 Februari, dunia memperingati Hari Keadilan Sosial Sedunia. Sebuah momentum yang seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan sekadar seremoni. Tahun 2026 ini, pertanyaan mendasar kembali menggema: di mana keadilan sosial saat orang miskin masih sulit berobat?
Kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara. Konstitusi melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah menegaskan bahwa negara bertanggung jawab menyediakan pelayanan kesehatan yang layak. Negara tidak boleh absen ketika warganya sakit. Namun realitas di lapangan sering kali berkata lain.
Masih banyak masyarakat kecil yang kebingungan menghadapi prosedur berbelit, keterbatasan fasilitas, hingga persoalan administrasi yang menghambat akses layanan kesehatan gratis. Ada yang memiliki kartu jaminan, tetapi terkendala rujukan. Ada yang terdaftar sebagai penerima bantuan, tetapi namanya tidak aktif dalam sistem. Bahkan tak sedikit yang akhirnya memilih menahan sakit karena takut biaya.
Ironi terbesar adalah ketika sakit bukan hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga persoalan ekonomi. Bagi keluarga mampu, rumah sakit adalah tempat mencari kesembuhan. Bagi keluarga miskin, rumah sakit kadang terasa seperti ruang penuh kecemasan: apakah akan dilayani? apakah ada biaya tambahan? apakah obatnya tersedia?
Keadilan sosial seharusnya hadir justru bagi mereka yang paling rentan. Program jaminan kesehatan memang telah berjalan, namun keadilan tidak cukup hanya di atas kertas kebijakan. Ia harus terasa dalam pelayanan yang ramah, prosedur yang sederhana, fasilitas yang memadai, serta pengawasan yang tegas terhadap praktik diskriminatif.
Memperingati Hari Keadilan Sosial 2026 seharusnya menjadi momen evaluasi menyeluruh. Apakah anggaran kesehatan benar-benar menyentuh yang membutuhkan? Apakah rumah sakit dan puskesmas di daerah terpencil mendapatkan perhatian yang sama dengan fasilitas di kota besar? Apakah data penerima bantuan sudah akurat dan tepat sasaran?
Ketimpangan akses kesehatan adalah wajah nyata dari ketidakadilan. Dan ketidakadilan yang dibiarkan akan menggerus kepercayaan rakyat terhadap negara. Keadilan sosial bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan komitmen moral dan politik yang harus diwujudkan dalam tindakan konkret.
Selamat Memperingati Hari Keadilan Sosial 2026. Semoga peringatan ini tidak berhenti pada kata “selamat”, tetapi menjadi dorongan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi warga yang kesulitan berobat hanya karena ia miskin. Sebab ukuran kemanusiaan sebuah bangsa terlihat dari bagaimana ia merawat yang lemah, melindungi yang rentan, dan memastikan kesehatan benar-benar menjadi hak bagi semua.











