Topikterkini.com.LOMBOK TIMUR— Di tengah kesibukan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mempersiapkan peringatan Hari Jadi Lombok Timur yang disebut memasuki usia 131 tahun, muncul suara lain dari masyarakat. Bukan soal kemeriahan acara, melainkan tentang bagaimana sejarah daerah ini dihargai dan dirawat.
Perdebatan mengenai istilah Hari Jadi Lombok Timur, Hari Jadi Kabupaten Lombok Timur, hingga angka 131 tahun masih menjadi perhatian publik. Namun, di balik perdebatan tersebut, ada pemandangan yang jauh lebih sederhana sekaligus menyentuh hati.
Sebuah monumen batu yang berada di tengah hamparan persawahan tampak berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Cat pada bagian monumen telah kusam dan mengelupas. Tulisan yang dahulu menjadi penanda sejarah pun mulai sulit dibaca.
Monumen itu seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang Lombok Timur.
Yang lebih memprihatinkan, berdasarkan informasi yang disampaikan masyarakat, monumen tersebut terakhir mendapat sentuhan cat pada sekitar 31 Agustus 1998, pada masa Bupati Lombok Timur H.M. Sadir.
Sejak saat itu, monumen tersebut seolah dibiarkan menghadapi panas, hujan, dan perjalanan waktu.
Kini, rerumputan tumbuh di sekelilingnya. Bangunan monumen terlihat kusam, sementara batu yang berada di atasnya tetap berdiri kokoh—seakan ingin mengingatkan bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung, program dan angka-angka anggaran, tetapi juga oleh sejarah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pertanyaannya kemudian sederhana.
Jika kita begitu sibuk menghitung usia Lombok Timur, sudahkah kita benar-benar merawat jejak sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan daerah ini?
Peringatan Hari Jadi seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan. Bukan hanya panggung, spanduk, undangan dan rangkaian kegiatan.
Hari jadi semestinya menjadi momentum untuk kembali melihat ke belakang—mengenang orang-orang yang pernah berjasa, merawat peninggalan sejarah, serta memastikan generasi muda mengetahui dari mana daerah ini berasal.
Batu itu mungkin tidak berbicara.
Tetapi kondisinya seperti sedang menyampaikan pesan:
“Jangan hanya mengingat sejarah ketika hari jadi tiba. Rawatlah sejarah setiap hari.”
Di tengah rencana peringatan Hari Jadi Lombok Timur ke-131, masyarakat tentu berharap pemerintah tidak hanya berbicara tentang usia daerah, tetapi juga menunjukkan penghormatan terhadap bukti-bukti sejarah yang masih tersisa.
Sebab, suatu hari nanti ketika generasi berikutnya bertanya tentang perjalanan Lombok Timur, jangan sampai mereka hanya menemukan angka 131 tahun, tetapi kehilangan benda-benda yang seharusnya menjadi saksi nyata dari perjalanan panjang tersebut.
Sejarah tidak cukup untuk diceritakan. Sejarah juga harus dirawat.(TT).











