Adapun Kerajaan Lamatti didirikan oleh pasangan suami-istri yakni Baso Lamuru Dg. Besse Raja dan diangkatlah Baso Makkarodda (adik dari Besse Raja) menjadi Raja Lamatti yang pertama atas kesepakatan dari Bongki-Panreng, akan tetapi pada masa-masa selanjutnya kerajaan Lamatti terus di landa konflik antara kelompok “Punna Wanua Dg. Punna Tana” yang berkepanjangan yang sulit selesaikan diantara mereka dan mereka tidak ada saling percaya.
Kedatangan anak Raja Bulo-Bulo ke-3 La Maliampulu yang bernama Pakkalibulu berhasil mempersatukan kembali kelompok yang bertakai di Lamatti dan akhirnya berhasil menjadikan Kerajaan Lamatti sebagai yang stabil dan damai kembali atau disebut “mula makkelo” ri Lamatti.
Di dasarkan pada asal-usul dari nasab keturunan raja yang sama dan relasi jalinan perkawinan raja-raja diantara ketiga kerajaan ini, maka dibentuklah Persekutuan kerajaan Tellulimpo-E yang dipelopori oleh La Mappasoko (Raja Bulo-Bulo) bersama-sama Yottong Dg Marumpa Raja Tondong dan Raja Lamatti La Paddenring Arumpalie, mereka membetuk Konfederasi yang disebut “Persekutuan Tellulimpo-E”. Untuk memperkuat persekutuan ini, maka pada tahun 1557 ketiga Kerajaan membangun pusat pertahanan bersama, yakni Benteng Balangnipa sekaligus simbol persatuan dan persaudaraan kerajaan ini.
Pada awal abad ke-16 Raja Gowa Tunipallagga Ulaweng kemudian memperkuat persekutuan kerajaan ini dalam suatu pertemuan di Sombaopu untuk memperkuat sekutu kerajaan Gowa dalam mempertahankan hegemoninya di wilayah Sulawesi.
C. Kerajaan Persekutuan
Pitulimpoe-E
Kerajaan Persekutuan Pitulimpoe-E adalah kerajaan yang menguasai wilayah pegunungan yang terdiri dari: Turungeng, Terasa, Manipi, Manimpahoi, Suka, Bala Suka, dan Pao didirikan oleh Putra Raja Tallo sekitar abad ke-17 diawali dengan menikahi “to manurung’nge Liju (Turungeng) yang bernama I Tenri Waru dan kemudian melahirkan anak perempuan menjadi Raja Turungeng Pertama.











