oleh

BERSAMA MELAWAN KORUPSI, Mewujudkan Indonesia Maju

BERSAMA MELAWAN KORUPSI, Mewujudkan Indonesia Maju

Oleh : Abd. Rahman

Jika korupsi demikian menggurita, itu karena Negara dan Warganya membiarkannya merajalela.

Saat Hukum terbelit begitu mudah, langit keadilan runtuh menimpa si lemah. Hukum yang mengabdi materi, menumbalkan orang kecil bertubi-tubi. Terhukum menutupi laku majikannya, tak peduli manusia hancur bersama keluarganya.

Dalam bisu di penjara begitu saja, seketika tulang punggung keluarga patah. Atas dasar apa kita terima, ketika peradilan sesat melayani si kaya yang berkuasa. Keadilan jadi barang sukar, ketika hukum hanya tegak pada yang bayar.

Apa karena hidup orang kecil patut menderita, dan orang miskin pantas terhina ? Sebagai tumbal mereka tersisa jadi catatan kaki. Betapa gawatnya ketika hukum kehilangan nyali.

Semua harus ikut aktif memberantas, itulah jurus pamungkas, agar korupsi bisa di tumpas. Kita tak bisa sekadar teriak, sudah saatnya harus ikut bergerak.

Jika diam melihat gelagat korupsi, sama dengan ikut berpartisipasi. Menghabisi korupsi adalah agenda bersama, itulah pertaruhan penting bagi masa depan kita. Inilah perjuangan rakyat semesta, saat maling uang Negara kita lawan bersama-sama.

Untuk sebuah kejahatan luar biasa, korupsi di tangani dengan sangat biasa-biasa. Penjaranya tak membuat efek jera, hukuman finansialnya cuma alakadarnya. Buat buat apa memberantas korupsi, jika bui sejati hanya untuk kelas teri.

Kekuatan menimbulkan sedikit korupsi, tetapi kelamahan menimbulkan lebih banyak korupsi. Korupsi itu seperti bola salju, setelah itu menetapkan bergulir akan terus membesar dan membesar.
Membiarkan korupsi hari ini, akan memusnahkan dasar keadilan, sampai ke generasi yang akan datang.

Ketika politik mengajarkan bahwa tugas politikus sesungguhnya, melaksanakan kehendak rakyat. Namun, yang terjadi mereka hanya mementingkan dirinya sendiri.

Negeri ini akan ambruk, jika peradilan dan hukum terus bangkrut. Kebenaran dan kepastian mengapung, diantara uang dan kuasa yang mengepung. Para pencari keadilan terpojok, oleh peradilan dan hakim yang jorok. Pengacara hanya calo perkara. Pegawai tata usaha merangkap perantara.

Putusan hakim bisa menjadi komoditi, diserahkan kepada penawar tertinggi. Percuma berharap pejabat bersih, jika profesi di lakoni tampa harga diri. Hukum yang di biayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap.

Selama struktur menghamba harta benda, pejabat baguspun bisa terseret celaka. Penegak hukum harus dipulihkan, pada merekalah pemberantasan korupsi di amanatkan. Warga yang menolak berkompromi, melawan korupsi mulai dari diri sendiri. Anak muda, mari kita ubah orientasi, tak terjebak gaya hidup menumpuk materi.

Hidup jujur sederhana, menolak jalan instan yang menghalalkan segala cara. Jangan diam apalagi merestui, sistem nilai celaka yang mengajak serakah. Karena setiap kita membiarkan korupsi, kita memangsa hidup sesama anak negeri.

Koruptor seperti pemakan segala, apa yang tersedia Dengan rakus di lahapnya. Tiap kali ada kesempatan, koruptor tak akan begitu saja melewatkannya. Dari pegawai rendahan yang berebut recehan hingga atasan yang berbagi jatah milyaran.

Semua berlomba mengeruk harta, semua berkelit dengan lincahnya. Orang baikpun akan mereka goda dengan perangkap yang tak disangka-sangka. KPK harus rajin menjemput bola dengan orang-orang baik yang masih tersisa. Mereka harus dijaga dan diajak bekerja sama. Sebab, merekalah partner KPK yang sebenarnya.

Publik harus terus di rangkul dengan keterbukaan yang betul-betul. Kepercayaan wajib untuk dijaga, karena itulah modal yang utama. Barisan anti korupsi, harus dirapatkan, tercerai berai bukan suatu pilihan. Sebab KPK tak bisa sendirian melawan korupsi, harus saling bergandengan.

Jika para pejabat tak bisa di usap, Indonesia masih bisa berharap. Mereka yang hidupnya bersih, pasti tak takut jadi orang tersisih. Harta dan penghasilan pribadi, mereka publikasikan Tampa ditutup-tutupi. Dengan jurus transparansi, mereka hadang gerak-gerik para pencuri.

Jika atasan berani buka-bukaan, anak buah akan sulit selewengkan jabatan. Kita rindu pejabat penuh tauladan, yang mimimpin bukan demi kekayaan. Di pundak Pemimpin yang bebas korupsi, disitulah masa depan Negeri ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed