oleh

Kemiskinan Dalam Perspektif Ekonomi Politik Islam

Kemiskinan Dalam Perspektif Ekonomi Politik Islam

Oleh: Alda Nur Zul Sahira
(Mahasiswi Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar)

Kemiskinan merupakan suatu multidimensi yang berkaitan dengan ketidak mampuan suatu akses ekonomi politik,sosial budya, dan suatu partisipasi dalam masyarakat. Hal ini dapat di buktikan bahwa adanya kecenrungan peningkatan jumlah penduduk miskin terhadap pandangan ekonomi politik Islam sehingga menimbulkan kesinambungan antara keadilan sosial dan distribusi sehingga diperlukan individu-individu dengan modul yang tinggi.

Sedangkan Teologi ekonomi politik islam Dalam pandangan Al Quran bahwa filsafat fundamental dari ekonomi Islam adalah tauhid  Hakikat tauhid  penyerahan diri yang bulat kepada kehendak Ilahi, baik menyangkut ibadah maupun muamalah, dalam rangka menciptakan pola kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah.Tauhid menjadi dasar seluruh konsep dan aktifitas umat Islam, baik ekonomi, politik, sosial maupun budaya.

Jadi, ekonomi Islam adalah ekonomi yang berdasarkan tauhid. Landasan filosofis inilah yang membedakan ekonomi Islam dengan ekonomi kapitalisme dan sosialisme, karena keduanya didasarkan pada filsafat sekularisme dan materialisme.Konsep tauhid menjadi dasar ekonomi, dalam tataran ini, disebut teologi ekonomi Islam.

Teologi ekonomi Islam yang berbasiskan tauhid tadi, mengajarkan dua pokok utama : Pertama, Allah menyediakan sumber  daya alam sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sehingga  Manusia yang berperan sebagai khalifah, dapat memanfaatkan sumber daya yang banyak itu untuk kebutuhan hidupnya. Dalam pandangan teologi Islam, sumber daya-sumber daya itu, merupakan nikmat Allah yang tak terhitung (tak terbatas) banyaknya, sebagaimana dalam firmannya “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak bias menghitungnya”. (QS. 14:34).

Karena itu menurut ekonomi Islam, krisis ekonomi yang dialami suatu negara, bukan terbatasnya sumber daya alam, melainkan karena tidak meratanya distribusi (maldistribution), sehingga terwujud ketidak adilan sumber daya (ekonomi). Kedua, Tauhid sebagai landasan ekonomi Islam bermakna bahwa semua sumber daya yang ada di alam ini merupakan ciptaan dan milik Allah secara absolut (mutlak dan hakiki). Hanya Allah yang mengatur segala sesuatu, termasuk mekanisme hubungan antar manusia, sistem dan perolehan rezeki. Realitas kepemilikan mutlak tidak dapat dibenarkan oleh Islam, karena hal itu berarti menerima konsep kepemilikan absolut, yang jelas berlawanan dengan konsep tauhid.

Adapaun konsep  pengentasan  kemiskinan dalam ekonomi islam bahwa pengentasan kemiskinan dapat dilakukan melalui 3 hal pokok yaiutu dengan merevitalisasi peran negara, menegakkan daulat masyarakat, dan penguatan institusi keluarga. Negara menurut Baidhawy harus menegakkan keadilan ekonomi politik melalui kerjasama multilateral, menyusun berbagai regulasi pro-masyarakat miskin dan pro-syariat yang berhubungan dengan kegiatan perekonomian, menghidupkan tanah mati untuk dibuat lahan pertanian atau usaha yang lain agar dapat menambah lapangan pekerjaan dan mendukung proses pengentasan kemiskinan, menghentikan eksploitasi SDA demi kepentingan publik dan masyarakat miskin. Kemudian menegakkan kedaulatan masyarakat melalui jalur politik, ekonomi, dan kebudayaan. Serta yang tidak kalah penting adalah menguatkan institusi keluarga dengan menanamkan nilai islami berupa sikap konsumsi sederhana dan proporsional.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal ekonomi Islam, Aprianto Kiky Edwin naeerul. JURNAL ILMIAH, IQBAL MUHAMMAD

https://www.iqtishadconsulting.com/content/read/blog/teologi-ekonomi-islam.

 Kemiskinan Dalam Perspektif Ekonomi Politik Islam

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.