Setelah mendengar berita penolakan I Maddi, Karaeng Bontotangnga gusar, namun sebagai seorang paman dan juga seorang Raja, Ia masih memberikan kesempatan kedua sebelum perang benar-benar terjadi.
Oleh karena itu, Ia menyuruh kembali utusannya untuk menemui I Maddi agar berfikir baik-baik dan sudi kiranya memenuhi permintaannya.
Tapi jika tetap bersikeras pada pendiriannya, maka pesan Karaeng Bontotangnga kepada I Maddi agar mempertajam tombaknya dan mengasah badiknya, karena cepat atau lambat perang akan terjadi.
Utusan pun berangkat, mereka sampai di istana ketika I Maddi sedang asyik bermain raga bersama koleganya.
Ibu I Maddi yang juga asyik menonton lewat jendela bersama I Mulli Daeng Massayang (istri kesayangan I Maddi), melihat kedatangan utusan tersebut dan memanggil I Maddi agar menghentikan permainan dan segera menemui tamunya
I Maddi pun meninggalkan permainan dan mempersilahkan tamunya masuk ke istana
BACA JUGA: Seleksi Calon Paskibraka tahun 2020 Libatkan SMA Sekabupaten Jeneponto
Seperti biasa, setelah istirahat sejenak dan sirih pinang tersaji di talang emas, I Maddi membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang bernada penasaran.
Salah seorang utusan menjawab, “Kiranya kali ini ananda dapat memenuhi permintaanku, Kami tidak ingin ada pertumpahan darah antar dua kerajaan ini, Kami harap ananda mau mengganti kerbau dan kuda pamanmu, dan Jika ananda masih tetap bersikeras tidak mau menggantinya, maka beliau akan menempuh jalan peperangan yang tentunya akan menebar malapetaka.”
Tapi bukan I Maddi Daeng Rimakka jika akan melunak begitu saja.
Sambil menggigit bibirnya dan menepuk dada Ia berteriak, “Nanti di perbatasan Layu baru kerbau itu kubayar. Nanti di jembatan Manjangloe baru kuda-kuda Karaeng Bontotangnga kuganti.”











