oleh

Pemuatan Alat Berat di Kapal Feri KMP ARAR Dinilai Kacau Balau

TOPIKTERKINI.COM™ – HALTENG | Humas DPD Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Kabupaten Halmahera Tengah, Rosihan Anwar menilai dalam pemuatan alat berat di KMP ARAR (kapal feri) masih ada yang kacau balau. Buktinya, ada kendaraan alat berat milik perusahaan (swasta) yang diperbolehkan.

Mestinya hal ini tidak boleh terjadi disebabkan KMP ARAR ini di subsidikan Pemerintah untuk transportasi masyarakat dan kendaraan kecil dan ringan saja. Bukan untuk khusus kendaraan alat berat,” katanya.

Abo nama sapaan Humas JPKP ini menambhkan, bahwa saat ini masih ada prosedur pemuatan kendaraan ke kapal feri yang tidak sesuai aturan yang berlaku. Kondisi seperti itu yang sering memicu terjadinya kecelakaan bahkan menelan korban jiwa dalam kapal jika terjadi gelombang besar.

Selain itu kata dia, penataan dan parkir kendaraan di deck kapal juga tidak tertib bahkan cenderung kacau balau. “Jika kondisi cuaca sedang buruk, seperti ombak besar atau badai di tengah laut, bisa memicu kecelakaan bahkan menelan korban jiwa,” ujarnya.

Kasus kecelakaan kapal feri yang memicu proses pemuatan khususnya kendaraan di atas deck kapal pernah terjadi di pelayaran kapal feri di lintasan kota – kota besar. Apa lagi dalam pemuatan itu tidak direkomendasikan Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Provinsi Maluku Utara. Dan KMP ARAR atau kapal feri ini subsidi Pemerintah, mestinya pihak ketiga atau perusahaan mencarter LCT atau landeng, ini sebuah pelanggaran,” ungkapnya.

Rosihan berharap agar semua pihak terutama pihak Sahbandar Weda tidak semena-mena mengizinkan alat berat seperti exavator, kren dan lainnya milik perusahaan. Saya berkeinginan ada perbaikan tata kelola bongkar muat yang baik sesuai aturan di atas kapal,” pintahnya.

Mengacu pada pemuatan yang Ia lihat semalam menurutnya, itu adalah salah satu bentuk faktor resiko, yaitu lemahnya pengawasan. Sekurangnya ada 5 aspek yang perlu diperhatikan terkait keselamatan, pertama bagaimana pengaturannya, apakah pengaturan itu relevan dengan prosedur dan praktek operasionalnya, bagaimana teknologi sarpras-nya, bagaimana SDM-nya dan terakhir bagaimana pengawasannya.

Jika di ikuti pemuatan kendaraan di kapal feri selama ini masih banyak pelanggaran yang dibiarkan pihak Sahbandar Weda. “Di lapangan masih banyak ditemukan (bisa dikatakan selalu” ditemukan, termasuk muatan kendaraan yang melebihi batas yang diizinkan, baik tonase maupun dimensi,” sebutnya.

Namun kendaraan tersebut, lanjut dia tetap diangkut masuk ke dalam kapal feri. Mungkin perlu jadi perhatian juga terkait pengawasan kendaraan yang akan diangkut kapal feri di pelabuhan. Sebab, dipelabuhan feri yang masih darurat dan tidak memiliki jembatan timbang ini, mendingan ditiadakan pemuatan alat berat milik pihak ketiga, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegasnya.

Reporter : Lamagi La Ode

Komentar

News Feed