Dengan suara bergetar, I Rambu berkata kepada I Maddi Daeng Rimakka, “Kita sebaiknya mengurungkan niat Karaeng. Saya melihat kekuatan Karaeng Bontotangnga terlalu kuat untuk kita hadapi.”
Melihat sikap I Rambu yang tidak terpuji itu, I Maddi berkata, “Aku malu melarang pasukanku berperang, Aku juga tidak mungkin lagi mengurungkan niat untuk berperang, Jika pun aku mati di medan perang maka aku minta siapkan saja kain kafan dan kerandaku. Kita akan saling membunuh!”
“Kalau begitu, baiklah kita berperang!” Seru I Rambu dan I Manja yang pada awalnya gentar melihat kekuatan lawan.
BACA JUGA: Dibalik Bakat Alami, Disitu Rahasia Besar Kehidupan Seseorang
Setelah itu, sambil memukul dada bergeraklah I Maddi Daeng Rimakka bersama kudanya, Si Balo Dodong, Di belakang, I Rambu dan I Manja beserta pasukan lainnya mengikutinya
Tidak lama kemudian, bertemulah I Maddi dengan Karaeng Bontotangnga tepat di kaki bukit Romong Polong.
“Wahai Maddi, baliklah badanmu, tidak lama lagi kau akan terbunuh, Sudah lama kau anggap dirimu pemberani, Tidak ada orang lain yang kau anggap manusia.” Seru Karaeng Bontotangnga di tengah kecamuk perang.
“Akulah laki-laki tanpa tanding, Akulah matahari yang tidak akan redup apalagi tenggelam di medan perang.” Balas I Maddi.
“Kalau begitu, mari kita berperang sampai tewas.” Teriak Karaeng Bontotangnga sambil menghunus tombaknya.
Pada saat itu juga, I Maddi melompat dari kudanya, Menghunus tombaknya sambil menerkam dan menerjang laksana elang
Tidak butuh waktu lama, I Maddi tenggelam dalam pertempuran, Ia sudah tidak nampak di tengah-tengah kerumunan musuh dan begitu juga Karaeng Bontotangnga yang membabi buta di tengah-tengah kumpulan pasukan I Maddi Daeng Rimakka.
Kontras dengan itu, I Rambu dan I Manja yang sedari tadi gentar melihat lawan Tiba-tiba melarikan diri dari medan perang dan meninggalkan I Maddi yang sedang mengamuk, dan berlari hingga di tangga istana I Maddi Daeng Rimakka
Selang beberapa saat kemudian, I Maddi berhasil menombak I Garigi Daeng Mattarang, menyerang I Ranggong di Tana Toa, dan mengejar I Marengge Karaeng Bonto serta Karaeng Bontotangnga itu sendiri.
BACA JUGA: Sejarah Singkat Kerajaan Laikang Takalar
Namun, keberuntungan masih berada di pihak Karaeng Bontotangnga, Di tengah-tengah pengejarannya, muncullah Ballaco bersama I Cangkiong dan I Pa’da’ di Arungkeke.
Sambil memukul dada, Ballaco berseru, “Lawan aku wahai Maddi, Akulah Ballaco dari Bontotangnga.”











