oleh

CEKDAM BALANG SIKUYU SOLUSI BANJIR BANDANG DI KABUPATEN BANTENG

CEKDAM BALANG SIKUYU SOLUSI BANJIR BANDANG DI KABUPATEN BANTENG

Oleh : HATTA HARUN
(Pemerhati Lingkungan)

Sebelum mengulas lebih lanjut kronologis jebolnya tanggul Cekdam Balang Sikuyu pada
tgl.12/6-2020, sebaiknya diawali dulu dengan bagaimana kondisi geografis Kab.Bantaeng.
Kabupaten Bantaeng yg berjuluk Butta Toa itu adalah sebuah Kabupaten yang terletak
dibagian selatan Sulawesi Selatan dengan luas wilayah 395,83 km/ segi secara geografis
terletak pada titik koordinat 5• 21′ 13″ – 5• 35′ 26″ LS dan 119•5’42” – 120• 05′ 27″ BT. Letak
geografis Kab.Bantaeng memiliki posisi strategis karena disebelah Utara gunung
Lompobattang yang menjulang tinggi ± 2800 m dpl, dan disebelah selatan laut Flores.

Batas- batas wilayah Kab.Bantaeng :
Utara : Kab.Gowa dan Kab.Bulukumba
Timur. : Kab.Bulukumba
Selatan. : Laut Flores
Barat. : Kab.Jeneponto
Kab.Bantaeng termasuk beriklim tropis basah atau hutan hujan tropis berupa hutan yang
selalu basah atau lembap karena dekat gunung dan letaknya berada pada lintang antara 0• –
10• LS dari garis khatulistiwa.

Terjadi siklus hidrologi yang baik karena hujan orografis alias
hujan di daerah pegunungan karena angin dari laut Flores disebelah selatan Butta Toa
membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik di lereng gunung Lompobattang
lalu pada ketinggian tertentu uap air terkondensasi menjadi hujan sampai di kota Butta Toa
atau Kab.Bantaeng.

Jadi dengan kondisi geografisnya demikian sehingga Butta Toa ini subur disebabkan musim
kemaraunya pendek dan musim hujannya panjang dengan puncak curah hujan yg paling
besar pada bulan juni dan juli sepanjang musim.

Kab.Bantaeng selalu berlangganan dengan banjir bandang setiap puncak musim
hujannya, yakni di bulan juni atau juli. Setahu saya sendiri banjir bandang besar pertama
melanda Bantaeng bulan juli tahun 1973 dimana saya masih SD waktu itu.Beberapa
perumahan hilang di Tanjung pantai seruni, dan sebagian besar penduduknya waktu itu
pindah ke Be’lang atau jl.T.A.Gani, beberapa jembatan dan jalan terputus di Bantaeng waktu
itu.Banjir besar ke 2 di tahun 1977, ke 3 di tahun 2006 dan banjir bandang ke 4 tahun 2008.

Dari 4 banjir bandang inilah yg banyak memporak-porandakan infrastruktur kota dan
masyarakat banyak korban dan mengalami kerugian harta bendanya.
Cekdam Balang Sikuyu sebagai solusi banjir bandang di Butta Toa. Sejak tahun 2009
Cekdam Balang Sikuyu mulai dibangun oleh Pemda Bantaeng guna membendung debit air
dari pertemuan 8 anak sungai Allu yg selalu mengakibatkan banjir bandang di kota
Bantaeng ketika curah hujan tinggi pada bulan jun dani juli. Setelah Cekdam Balang Sikuyu
difungsikan, Butta Toa Bantaeng tidak pernah lagi mengalami banjir bandang alias sudah
aman dari banjir sampai tahun 2019.

Nah di tahun 2020 ini tepatnya tgl.12 juni Butta Toa
kembali mengalami banjir bandang yg besar karena jebolnya tanggul sebelah kanan
Cekdam Balang Sikuyu + meluapnya beberapa sungai utamanya sungai Calendu akibat
curah hujan tinggi yg menyebabkan sekitar 7 kelurahan yg parah dari luapan/ genangan air
bah yg berlumpur di Kecamatan Bantaeng dan Kecamatan Bissappu. Pertanyaan : Apakah
tanggul Cekdam Balang Sikuyu tidak berkualitas bangunannya ? Jawabnya : Bangunan tanggul Cekdam Balang Sikuyu itu berkualitas dan dibangun untuk jangka panjang,
seandainya bangunannya tidak berkualitas maka Cekdam Balang Sikuyu tersebut tidak
bertahan membendung air sungai selama ± 11 tahun.

Penyebab utama tanggul Cekdam Balang Sikuyu jebol karena tidak mampu menahan beban
energi yg besar dari kecepatan aliran air yg berlumpur ( slurry ) menekan luas permukaan
tanggul tiap detik alias debit air berlumpur yg besar setiap musim saat curah hujan tinggi.
Jadi Cekdam Balang Sikuyu dibangun guna mengatasi banjir di Butta Toa tapi Pemda dalam
hal ini PU Pengairan dan BPLH atau pihak yg berkepentingan lainnya di Bantaeng kurang
perhatian dalam hal mengatasi tingkat erosi sungai yg setiap tahunnya terjadi pengikisan
besar pada dinding sungai. Buktinya banjir bandang membawa air lumpur ( slurry )
bertebaran di kota Butta Toa. Berarti ekosistem sunga di Bantaeng rata-rata sudah rusak
khususnya 8 anak sungai Allu yg masuk ke Cekdam tersebut.

Ekosistem sungai ini sangat penting utamanya tumbuhnya pohon- pohon jangka panjang yg
harus banyak membentuk vegetasi hutan mulai dari hulu bantaran sungai sampai daerah
bantaran sungai yg landai. Jika ekosistem atau tatanan kesatuan secara utuh dan
menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yg saling mempengaruhi di bantaran
sungai itu rusak maka tingkat erosi semakin tinggi.
Selain itu juga tingkat serapan air menjadi air tanah ( infiltrasi ) semakin rendah akibat
degradasi hutan di lereng pegunungan lompobattang.

Solusi dan saran :

  1. Pemda Bantaeng dalam hal ini PU Pengairan harus selalu mengontrol/ membenahi
    endapan lumpur padaCekdam Balang Sikuyu stiap tahun agar dapat bertahan lama;
  2. Agar Pemprov Sulsel dalam hal ini Dinas Kehutanan dapat menyediakan bibit atau
    menciptakan penangkaran bibit pohon pelindung di beberapa titik di lereng gunung
    Lompobattang dan gunung Bawakaraeng untuk reboisasi hutan lindung dan
    penghijauan khususnya lahan hutan masyarakat.
  3. Pihak Kehutanan prov.Sulsel agar dapat bekerja sama dengan Badan Lingkungan
    Hidup Bantaeng, Dinas Pertanian dan Perkebunan Bantaeng dan Kepala Desa yg
    wilayahnya di gunung serta LSM Lingkungan Hidup atau Walhi guna menyadarkan/
    merubah pola pikir masyarakat yg berkebun tanaman jangka pendek disekitar
    bantaran sungai agar merubah dengan tanaman jangka panjang yg nilai jualnya
    tinggi dengan diawali sistem tumpang sarii.Tujuannya agar ekosistem sungai tetap
    lestari alias tercipta konservasi tanah.Kerjasama ini sebaiknya terealisasi paling
    lambat awal 2021 atau lebih cepat lebih baik. dan
  4. PU Pengairan Bantaeng juga harus mengontrol sistem kelancaran aliran air pada
    drainase dibeberapa kelurahan di kota karena di musim hujan biasanya banyak
    genangan akibat air tersumbat atau adanya bangunan yg tidak berbasis lingkungan
    yg menyumbat air menuju drainase akhirnya air kembali mengenangi tempat yang
    rendah.

Demikian tulisan/sumbang saran saya kepada Pemda Bantaeng dan Pemprov. Sulawesi
Selatan agar kedepan tidak ada lagi banjir bandang yg melanda Kab.Bantaeng alias Butta Toa

CEKDAM BALANG SIKUYU SOLUSI BANJIR BANDANG DI KABUPATEN BANTENG

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed